METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Banjir di Kabupaten Pekalongan masih menggenang, tapi di sebagian titik sudah mulai surut.
Di Kecamatan Siwalan, pengungsi sudah berangsur pulang. Tapi di Kecamatan Tirto masih banyak yang bertahan mengungsi karena genangan masih tinggi.
Kepala Desa Pait, Kecamatan Siwalan, Muhammad Yusuf mengatakan, per Senin pagi 19 Januari 2026, banjir di wilayahnya sudah mulai surut.
Ketinggian air tak seekstrem dua hari sebelumnya, bahkan pengungsi di Dusun Grabyak sudah nihil alias semua sudah kembali ke rumah.
Baca Juga: Rel Terendam Banjir, Polisi dan KAI Rekayasa Jalur Agar Kereta Tetap Melaju
"Tinggal yang di posko kantor kecamatan ada 32 orang dan di pabrik PT Lokatex ada 55 orang. Jadi berkurang cukup banyak dari hari sebelumnya total 214 orang pengungsi," ungkapnya.
Di Kecamatan Tirto, sebenarnya juga berkurang. Tapi tidak signifikan. Camat Tirto Siswanto mengatakan, per Senin 19 Januari 2026 jumlah pengungsi berkurang menjadi 1.783 orang.
"Dari sebelumnya 1.852 orang pasa hari sebelumnya," ucapnya.
Pantauan Metropekalongan.com di salah satu titik lokasi banjir Desa Pacar, Kecamatan Tirto, kedalaman genangan masih mencapai perut orang dewasa.
Baca Juga: Batang Diterjang Banjir dan Longsor, Bupati Faiz Terobos Banjir Salurkan Bantuan
Ini yang menyebabkan para pengungsi memilih bertahan di pengungsian. Terutama anak-anak dan lansia.
Anggota keluarga yang masih remaja atau muda, mereka secara ulang-alik kembali ke rumah untuk sekadar mengecek kondisi tempat tinggal atau mengambil barang yang diperlukan.
Di posko pengungsian masjid Nurul Hasan, Desa Pacar, pengungsi masih banyak. Mereka menempati seluruh sudut masjid berlantai dua tersebut, kecuali area tempat wudu.
Baca Juga: Respon Cepat Alfamart, Alirkan Bantuan Harian untuk Korban Banjir Kendal
Para pengungsi mengaku sangat membutuhkan makanan siap santap, bukan mi instan. Sebab tak ada kompor yang bisa digunakan.
Selain itu, mereka juga butuh salep gatal, minyak kayu putih, dan popok untuk balita. Amilus, salah seorang pengungsi menyampaikan, warga mengungsi sejak Sabtu 17 Januari 2026.
Saat itu genangan di luar rumah setinggi dada orang dewasa. Sementara di dalam rumah setinggi perut orang dewasa.
Baca Juga: Korban Banjir di Batang Terserang Penyakit Kulit dan Diare
"Ini banjir terparah yang kami alami. Dua tahun terakhir memang banjir, tapi sangat kecil dan itu tidak sampai masuk rumah. Hanya di jalan-jalan," ungkapnya.
Di pengungsian, warga mengandalkan suplai dari bantuan. Baik makanan, pakaian, maupun obat-obatan.
"Yang paling mendesak ya makanan siap santap, salep gatal-gatal, dan popok anak. Salep sangat butuh sekali, karena kaki kami sudah lecet dan gatal sekali," ujarnya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla