METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Setiap liburan apapun selalu identik dengan lonjakan kunjungan ke tempat-tempat wisata berbayar.
Namun di Kabupaten Pekalongan, ada satu titik yang justru dipadati tanpa perlu tiket masuk. Adalah Alun-Alun Kajen.
Sejak hari kedua Lebaran hingga akhir masa libur, kawasan pusat Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Pekalongan itu berubah menjadi ruang rekreasi terbuka yang hidup.
Warga lokal hingga pemudik tumpah ruah menikmati suasana kota tanpa harus merogoh kocek.
Sore menjelang malam menjadi waktu paling ramai. Anak-anak berlarian di ruang terbuka, banyak kaum remaja berswafoto di sudut-sudut taman, sementara orang tua duduk santai di kursi-kursi yang tersedia. Lampu-lampu hias mulai menyala, menambah kesan hangat dan meriah.
Alun-alun ini memang bukan sekadar lapangan kosong. Hasil penataan beberapa tahun terakhir membuat wajahnya jauh berubah.
Trotoar tertata rapi, dilengkapi tempat duduk, taman bermain, hingga fasilitas publik yang membuat pengunjung betah berlama-lama.
Bahkan, ikon seperti air mancur, tugu Al Quran, dan ornamen-ornamen unik menjadikan kawasan ini kerap disebut sebagai “wajah baru” pusat kota Kajen yang semakin menarik.
Di sisi lain, denyut ekonomi kecil ikut bergerak. Deretan pedagang kaki lima memenuhi area sekitar alun-alun.
Mulai dari jajanan tradisional, minuman hangat, hingga makanan kekinian tersedia dengan harga terjangkau. Aroma makanan berpadu dengan suara riuh pengunjung menciptakan suasana khas liburan.
Tak hanya kuliner, wahana permainan sederhana juga bermunculan. Odong-odong, mobil listrik mini, hingga permainan anak lainnya menjadi hiburan murah meriah bagi keluarga. Meski sederhana, justru di situlah daya tariknya: merakyat dan mudah dijangkau.
Nariyah, 43, warga Cikarang yang mudik ke Kabupaten Pekalongan, mengaku sengaja memilih alun-alun sebagai tujuan rekreasi keluarga.
“Kalau ke tempat wisata kan harus bayar tiket, belum parkir dan lain-lain. Di sini gratis, tapi anak-anak tetap senang. Bisa jajan, main, jalan-jalan,” ujarnya.
Menurut dia, suasana alun-alun justru terasa lebih “hidup” dibanding tempat wisata formal. Selain hemat, interaksi sosialnya juga lebih terasa.
Fenomena ini menunjukkan bahwa ruang publik seperti alun-alun tetap menjadi pilihan utama masyarakat saat liburan. Selain gratis, lokasinya strategis di pusat kota dan mudah dijangkau dari berbagai arah.
Di tengah tren wisata berbayar yang terus berkembang, Alun-Alun Kajen menghadirkan alternatif sederhana, rekreasi tanpa karcis, tetapi tetap menghadirkan pengalaman.
Bagi banyak pemudik, justru di ruang terbuka seperti inilah momen kebersamaan terasa paling dekat. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla