METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Seorang petani tiba-tiba hilang di area persawahan Desa Garungwiyoro, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan. Bagaimana ceritanya?
Petani ini ditemukan keesokan pagi dalam kondisi telanjang dan linglung, 7 kilometer dari sawah tempat kerjanya.
Kasus ini mengingatkan kembali cerita lama warga setempat tentang sosok Wewe yang suka “membawa” dan "menyembunyikan".
Kasus tersebut baru saja terjadi pada Sabtu lalu 4 April 2026.
Pagi itu, Solihin, 57, berangkat ke sawah seperti biasa. Ia pamit ke sawah Blok Gunung Damar dengan membawa traktor. Semula tidak ada yang janggal.
Namun hingga sore, sekitar pukul 17.00 WIB, ia tak kunjung pulang.
Keluarga mulai khawatir. Warga kemudian bergerak melakukan pencarian.
Sejak Sabtu malam itu hingga Minggu dini hari, penyisiran dilakukan di area persawahan hingga tepian aliran kali di sekitarnya. Hasilnya nihil. Solihin hilang bak ditelan bumi.
Pencarian dilanjutkan Minggu pagi. Sekitar pukul 07.30 WIB, seorang warga menemukan Solihin di areal persawahan Desa Bubak.
Lokasi itu berjarak sekitar tujuh kilometer dari titik awal ia bekerja.
Kondisinya memprihatinkan. Solihin linglung, tak berdaya, terluka, dan yang mengejutkan, ia sudah tak berbusana. Tergeletak di atas rerumputan.
Peristiwa ini cepat menyebar di kalangan warga. Sejumlah warga mengaitkannya dengan cerita lama turun-temurun di desa tersebut, yakni tentang hantu Wewe Gombel.
“Cerita Wewe di desa ini sudah ada sejak saya kecil, bahkan dari generasi mbah-mbah saya,” ujar Jariyah, 41, Kepala Desa Garungwiyoro.
Kasus misterius Solihin di bukan kali pertama terjadi di Garungwiyoro. Bahkan, pernah ada warga yang mengalami kejadian serupa hingga lebih dari satu kali.
“Pernah ada yang sampai tiga kali hilang. Tapi selalu ditemukan lagi,” katanya.
Orang tersebut masih hidup. Tapi tak bisa mengingat apa yang menimpanya dulu. Yang diingat hanya begitu sadar, sudah pindah tempat dan kebingungan.
Konon Wewe Gombel berwujud perempuan, berpayudara besar dan panjang, suka menculik anak-anak.
"Tapi di desa ini, semua kasus itu menimpa orang dewasa," tambah Jariyah.
Lokasi tempat Solihin bekerja, dikenal sebagai kawasan wingit atau angker.
Warga setempat menyebutnya Pemean Buto (Jemuran Buto). Konon, di sana tempat para hantu bersemayam.
Kata Jariyah, tempat itu seperti sawah biasa di kontur tanah yang rendah. Di sebelahnya terdapat kali, dan di sisi yang lain berbatasan dengan hutan pinus milik Perhutani.
Di kali tersebut, terdapat pertemuan aliran kali kecil dan kali besar yang oleh warga disebut capit urang atau tempuran.
Kondisi itu yang oleh warga dipercaya membuat kawasan tersebut angker karena disukai makhluk tak kasat mata.
Tanpa merendahkan pandangan warga tentang Pemean Buto dan Wewe, Jariyah mencoba melihat kemungkinan lain di balik misteri hilangnya Solihin dan warga Desa Garungwiyoro lainnya.
“Bukan saya gimana-gimana. Saya coba melihatnya dengan kacamata lain. Bisa itu karena kelelahan, tensi naik, lalu tidak sadar. Dalam kondisi itu mungkin berjalan tanpa arah dan sebagainya," ujarnya.
Hingga kini, Solihin masih menjalani perawatan intensif di ruang ICU RSUD Kajen, karena diduga mengalami pendarahan di otak. Ia juga masih belum sadar.
Bagaimana Solihin bisa berpindah sejauh tujuh kilometer dalam kondisi tidak sadar, masih menjadi tanda tanya. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla