METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Pekalongan menyimpan banyak jejak sejarah. Sebuah kelompok pemburu sejarah mencoba menelusirinya, dari sejarah batik hingga kejayaan Hoo Tjien Siong, seorang taipan tajir keturunan Tionghoa di Kabupaten Pekalongan.
Langkah kaki itu tak sekadar berpindah dari satu titik ke titik lain. Mereka mencoba menghidupkan kembali cerita lama yang terpendam.
Begitulah yang dilakukan rombongan Jalan Pagi Sejarah (Japas), kelompok pemburu sejarah asal Bogor saat menapak di Pekalongan, Minggu 12 April 2026.
Rombongan berjunlaj 35 orang yang dipimpin Johnny Pinot tersebut menjadikan Pekalongan sebagai salah satu destinasi dalam rangkaian perjalanan sejarah mereka. Dua hari sebelumnya, mereka telah singgah Semarang dan Ambarawa.
Salutnya, mayoritas peserta sudah berusia matang, bahkan beberapa di antaranya lanjut usia. Latar belakang mereka pun beragam mulai dari PNS, guru, pekerja swasta, hingga pensiunan.
Usia tak menghalangi rasa semangat dan penasaran mereka untuk menelusuri sejarah sebuah daerah.
“Ini namanya Trip Japas, Jalan Pagi Sejarah. Kalau di dalam kota Bogor kami jalan kaki, tapi kalau luar kota kami menginap dan pakai bus. Intinya kami mengunjungi tempat-tempat bersejarah,” ujar Pinot.
Selama di Pekalongan (kota dan kabupaten), rombongan menyusuri sejumlah titik penting yang merekam jejak sejarah daerah yang kini dikenal sebagai Kota Batik dan Kota Santri.
Mereka mengawali kunjungan di Museum Batik, lalu melanjutkan ke Pabrik Limun Oriental yang menjadi saksi industri minuman bersoda.
Pabrik tersebut ada sejak 1920, jauh sebelum minuman bersoda kenamaan macam Coca Cola populer di Indonesia.
Di sela-sela kunjungan itu, rombongan juga melihat benteng Belanda yang kini difungsikan sebagai Rutan Pekalongan.
Dulunya, benteng tersebut digunakan pemerintah kolonial (VOC) untuk mengawasi aktivitas perdagangan dan mengontrol Sungai Loji.
Dipandu oleh Isman Habibilah, kreator konten sejarah Pekalongan, perjalanan berlanjut ke wilayah Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan.
Di sana, rombongan mengunjungi makam atau mausoleum Hoo Tjien Siong atau yang akrab dikenal oleh warga setempat sebagai Bah Zing Zong. Ia adalah seorang pengusaha dan konglomerat pada abad ke-20.
Makamnya tak main-main. Bangunannya bergaya aristektur paduan eropa dan tionghoa. Lantai, dinding, hingga langit-langit terbuat dari marmer. Mousoleum ini membuktikan Bah Zing Zong memang konglomerat pada masanya.
Masih soal Bah Zing Zong, rombongan sedikit bergeser ke kawasan pasar dan terminal Doro. Menurut warga sekitar, kawasan tersebut dulunya merupakan tanah pribadi milik Sang Taipan. Dulu digunakannya sebagai pabrik es batu.
Jejaknya masih ada, yakni sumur umbul sebagai instalasi sumber bahan baku produksi es batu. Airnya masih mengalir jernih.
Kini dimanfaatkan warga setelah Bah Zing Zong secara sukarela menghibahkan lahannya itu untuk masyarakat.
"Dulu waktu saya kecil, masih melihat pabrik beroperasi. Saat es batu mau diangkut ke truk, saya dan anak-anak kecil lain memunguti es batu yang jatuh," kata seorang warga sekitar.
Japas memilih Pekalongan sebagai salah satu destinasti bukan tanpa alsan. Pinot mengatakan, Pekalongan punya sejarah besar.
Tidak hanya sebagai saksi sejarah industri batik, tapi juga kaya jejak kolonial yang layak dikaji.
Bahkan, rombongan Japas berencana kembali lagi dengan konsep perjalanan khusus yang hanya berfokus di Pekalongan. Waktu satu hari dianggap belum cukup untuk mengupas seluruh potensi sejarah yang ada.
“Sepertinya harus ada trip khusus ke Pekalongan. Karena ini belum selesai kalau cuma sehari,” ungkap Pinot.
Sayang, kekayaan sejarah Pekalongan belum dilirik serius oleh pemerintah daerah. Padahal, dengan kekayaan situs sejarah yang tersebar hingga ke pelosok, Pekalongan berpeluang menjadi destinasi wisata edukasi berbasis sejarah.
“Sejarah itu penting. Kita belajar dari masa lalu supaya kesalahan yang pernah terjadi tidak terulang lagi,” ucap Pinot. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla