METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Perwakilan warga Desa Sampih, Wangandowo, dan Sokosari, Kabupaten Pekalongan, mendatangi area pabrik sepatu milik PT Hardases Abadi Indonesia (HAI).
Mereka menagih janji perusahan tersebut yang akan memprioritaskan perekrutan tenaga kerja lokal dari desa penyangga.
Aspirasi itu mencuat dalam pertemuan antara perwakilan warga dan manajemen perusahaan, Jumat 24 April 2026. Warga menilai, janji PT HAI belum sepenuhnya terealisasi.
Zulfikar Tagayo, warga Wangandowo mengatakan, hingga kini masih banyak pelamar laki-laki dari tiga desa yang belum terserap.
Padahal, setiap gelombang rekrutmen disebut selalu membuka peluang bagi tenaga kerja laki-laki.
"Dari tiga desa ini masih ada sekitar 100 pelamar laki-laki yang belum direkrut. Sementara untuk perempuan hampir semua sudah terserap,” ujarnya.
Ia menambahkan, PT HAI juga pernah menjanjikan tenaga kerja lulusan SMP khusus untuk warga tiga desa penyangga. Namun, itu belum terjadi, tenaga kerja masih minimal SMA.
Selain soal kuota tenaga kerja, warga juga menyoroti isu dugaan rekrutmen berbayar yang beredar di masyarakat.
Nominal yang disebut bervariasi, berkisar Rp 5 juta hingga Rp 7 juta untuk mempercepat proses diterima bekerja. Warga menilai, ini salah satu faktor yang mempersempit kesempatan tenaga kerja lokal terserap.
“Memang itu masih sebatas isu, tapi sudah jadi pembicaraan umum. Ini yang kami khawatirkan karena bisa menutup peluang warga sekitar,” imbuh Zulfikar.
Keluhan serupa disampaikan Bilal, warga Desa Sampih. Ia menyebut kesepakatan prioritas rekrutmen tenaga kerja laki-laki sebenarnya sudah pernah disampaikan oleh PT HAI sebelum Ramadan. Namun hingga kini belum ada realisasi signifikan.
“Baru ada satu yang katanya dipanggil setelah ramai isu ini. Kenapa tidak dari dulu direalisasikan?” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Humas PT HAI Iin Herlina menegaskan bahwa perusahaan tetap memprioritaskan warga dari tiga desa sekitar. Namun, proses rekrutmen dilakukan berdasarkan kebutuhan perusahaan.
“Untuk tiga desa itu tetap menjadi prioritas kami. Tapi semua yang dipanggil berdasarkan kebutuhan,” jelasnya.
Terkait lulusan SMP, pihak perusahaan mengklaim telah memberikan akses melalui skema tenaga kerja vendor, seperti untuk pekerjaan pertamanan dan proyek konstruksi.
Sementara soal isu rekrutmen berbayar, Iin menegaskan hal tersebut bukan kebijakan perusahaan. Ia menyebut praktik itu dilakukan oleh oknum dan telah dilaporkan ke aparat penegak hukum.
“Di PT HAI tidak ada biaya apapun dalam rekrutmen. Kalau ada, itu oknum dan sudah kami laporkan ke Polres,” tegasnya.
Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak akhirnya mencapai kesepakatan. Perusahaan berkomitmen memprioritaskan rekrutmen tenaga kerja, khususnya laki-laki, dari tiga desa sekitar. Kesepakatan itu dituangkan dalam dokumen bermaterai.
Meski demikian, warga menegaskan akan terus mengawal realisasi komitmen tersebut. Jika kembali diabaikan, mereka membuka kemungkinan menempuh langkah lanjutan di luar komunikasi.
PT HAI saat ini tercatat memiliki sekitar 5.000 karyawan. Ke depan, menurut humas perusahaan, jumlah tenaga kerja diproyeksikan terus bertambah seiring peningkatan produksi. Ditargetkan bisa mencapai 20.000 hingga 25.000 pekerja. (nra/ida)
Editor : Ida Nor Layla