METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Isu praktik percaloan dalam perekrutan karyawan PT Hardases Abadi Indonesia (HAI) terus menjadi perbincangan publik.
Terbaru, isu tersebut bahkan turut disorot mahasiswa pada aksi unjuk rasa di depan kantor Bupati Pekalongan, Selasa 5 Mei 2026.
Aliansi Mahasiswa Pekalongan Raya (Ampera) meminta Pemkab Pekalongan ikut turun tangan mengatasi praktik cela tersebut.
Ampera menemukan banyak keluhan masyarakat terkait perekrutan karyawan PT HAI berbayar lewat calo.
Calo menjanjikan warga bisa bekerja di pabrik sepatu tersebut dengan membayar.
Isu ini memang santer di kalangan masyarakat. Meski PT HAI berkali ulang menampiknya dan menuding itu ulah oknum, namun isu tersebut masih berkembang di masyarakat.
Ada yang mengatakan, nominal yang dipatok oleh para calo itu bekisar Rp 3-5 juta, bahkan ada yang sampai Rp 7 juta, untuk satu posisi karyawan di PT HAI.
Plt. Bupati Pekalongan Sukirman pun mengakui dan mendengar isu tersebut. Namun ia belum menyelisik lebih dalam.
"Iya, itu pengalaman masa lalu yang bergentayangan. Kami tidak tahu arahnya ke mana," katanya.
Sukirman menduga, praktik itu berjalan untuk memanfaatkan masyarakat yang sedang butuh pekerjaan.
Ada oknum tak bertanggungjawab yang bermain di tengah kebutuhan masyarakat akan pekerjaan.
"Kami sudah bikin kesepakatan dengan PT HAI. Semoga tidak ada lagi praktik itu," ucapnya.
Upaya yang akan Pemkab Pekalongan tempuh salah satunya dengan pengawasan perekrutan.
Dinas Ketenagakerjaan yang akan bekerja untuk itu. Termasuk untuk publikasi atau pengumuman rekruitmen.
"Jadi pendaftarannya langsung ke PT HAI. Kami, lewat Dinas Ketenagakerjaan, akan mempublikasikan informasi rekruitmennya sekaligus menyupervisi (pengawasan). Terutama untuk memprioritaskan warga lokal. Itu tuntutan kami," pungkasnya. (nra/Ida)
Editor : Ida Nor Layla