METROPEKALONGAN.COM, Kajen – Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Sekolah Dasar (SD) secara online memang baru kali pertama diberlakukan serentak di Kabupaten Pekalongan.
Namun SD Negeri 02 Pekiringanalit, Kabupaten Pekalongan, justru sudah menerapkan sistem pendaftaran daring mandiri, sejak sebelum badai pandemi Covid-19 melanda pada 2021 silam.
“Kalau di sini, sistem online sebenarnya sudah lama. Malah sebelum Covid-19, kami sudah pakai google form untuk isi formulir. Jadi buat kami, sistem ini bukan barang baru yang bikin kaget,” kata Kepala SD Negeri 2 Pekiringanalit, Hartono.
Langkah proaktif yang sudah berjalan sekitar empat tahun tersebut membuktikan, pendidik sudah sangat melek terhadap transformasi dunia digital.
Meski tahun ini ada penyesuaian regulasi dari Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pekalongan, seperi unggah KK dan KTP orang tua, pihak sekolah tidak menghadapi kendala serius. Meski penginputan data memang butuh waktu sedikit lebih lama.
Transformasi di SDN 02 Pekiringanalit tidak hanya berhenti di depan pintu pendaftaran saja. Para guru sudah mulai adaptif dan sadar bahwa mereka mendidik generasi yang berbeda setiap tahunnya.
Yakni, dengan mengolaborasikan perangkat digital dan metode konvensional, pembelajaran menjadi lebih aktif.
“Kami padukan. Saat menerangkan anatomi tubuh, misalnya, anak-anak akan lebih cepat menangkap kalau melihat gambar digital lewat LCD atau TV besar yang digeser bergantian antarkelas,” jelas Hartono.
Di balik sistem kuota dan zonasi yang kerap menjadi kekhawatiran bagi sebagian orang tua, SDN 02 Pekiringanalit memilih membuka pintu yang selebar-lebarnya untuk membantu, apabila ada kendala teknis.
Karena itu, pihaknya mensiagakan penuh panitia pendaftaran untuk membantu orangtua yang gagap teknologi atau memiliki keterbatasan internet untuk mengisikan data mereka.
“Kami utamakan domisili lingkungan sekitar dulu. Tapi kalau kuota masih ada, saya harap orang tua yang punya PIP atau sejenisnya untuk disertakan. Itu jadi bahan pertimbangan kami. Ada rasa kasihan dan kemanusiaan untuk menolong orang yang kurang mampu.” Jelas Hartono saat diwawancarai Kamis 2 Juli 2026.
Menjelang penutupan pendaftaran pada 4 Juli mendatang, sekolah yang memiliki total siswa 292 siswa ini, sudah mengantongi 53 pendaftar dari total kuota 56 kursi yang tersedia untuk dua kelas.
Daya tarik sekolah ini cukup kuat dengan adanya program tambahan muatan keagamaan yaitu BTQ (Baca Tulis Alquran) setiap hari yang bekerja sama dengan guru TPQ setempat. Ini menjadi nilai plus yang mungkin jarang ditemui di sekolah negeri lainnya.
Kepala SD Hartono juga turut menyampaikan optimismenya sebagai seorang pendidik untuk siswa tahun ajaran baru ini.
“Namanya guru, ya harus selalu optimistis. Anak yang belum bisa, kami latih sampai bisa. Apalagi yang sudah bisa. Pendidikan itu harus sesuai zamannya, kita harus mengikuti perkembangan anak-anak,” tandasnya. (maulida.usna.aulia/ida)
Editor : Ida Nor Layla