METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Tahun ini, dunia pendidikan dasar di Kabupaten Pekalongan punya cerita baru.
Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) online Sekolah Dasar (SD) resmi menggantikan sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).
Dalam sistem penerimaan online ini, SD Negeri 02 Podo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, telah membukukan 47 pendaftar dari kuota 56 kursi pada Kamis 2 Juli 2026.
Ketua Panitia SPMB Online SD Negeri 02 Podo, Khusnul Khotimah, S.Pd, mengungkapkan, hari pertama pendaftaran sudah ada 39 siswa yang langsung datang ke sekolah, kemudian menyusul 8 pendaftar lainnya.
Salah satu yang banyak ditanyakan para orang tua calon siswa adalah soal proses pendaftaran online.
Karena itulah, meski sistemnya berbasis online, para orang tua siswa tidak perlu repot mengoperasikan aplikasi pendaftaran sendiri lewat ponsel.
“Para orang tua tinggal memberikan berkas, pihak sekolah yang meng-upload dan mengirim data ke Dinas Pendidikan (Dindik) Kabupaten Pekalongan. Jadi orang tua tidak perlu mengakses sistem online sendiri, semua dibantu pihak sekolah,” ujarnya.
Ia menambahkan, alur data itu berjalan dua arah. Dari pihak sekolah dikirim ke dinas untuk diverifikasi, lalu setelah disetujui (di-ACC). Barulah akun siswa tersebut bisa dibuka dan digunakan untuk tahap selanjutnya.
Proses yang serba baru ini, bukan tanpa hambatan. Pada hari pertama pendaftaran, akun siswa sempat tidak bisa langsung diakses meski proses masuk (login) sudah berhasil.
“Bisa masuk, tapi di dalamnya belum ada menu. Itu karena masih menunggu proses pendataan dikirim ke dinas dulu, baru nanti di-ACC dan bisa dipakai,” jelasnya.
Dibanding Tahun Lalu, Pendaftar Menurun
Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlah pendaftar di SD Negeri 02 Podo tahun ini mengalami penurunan.
Tahun 2025 lalu, sekolah sempat mengajukan kuota maksimal 80 siswa, namun jumlah pendaftar yang masuk hampir mencapai 100 anak.
Akibatnya, sebagian di antaranya tidak lolos karena kuota sudah penuh. Tahun ini, sekolah mengajukan kuota lebih kecil, yakni maksimal 56 siswa, menyesuaikan dengan persetujuan dari Dindik Kabupaten Pekalongan.
Menurut Khusnul, salah satu penyebab menurunnya jumlah pendaftar adalah kekhawatiran orang tua terhadap sistem pendaftaran online yang dianggap merepotkan.
Sebagian dari mereka memilih mengalihkan anaknya ke sekolah swasta yang tidak menerapkan sistem seleksi serupa.
“Karena sekarang ada jalur seperti di SMP, yaitu jalur afirmasi dan jalur domisili. Banyak pendatang yang KK-nya belum lama pindah, jaraknya jadi dianggap jauh. Kalau lewat jalur domisili, otomatis rankingnya turun.
Kalau kuota sudah penuh, ya tidak diterima. Ini yang membuat orang tua khawatir, akhirnya banyak yang lebih memilih aman ke swasta,” tuturnya.
Satu hal menarik yang diungkap Khusnul, kedekatan rumah dengan sekolah tidak selalu menjamin diterima.
Dalam sistem penilaian SPMB, faktor usia calon siswa justru memegang bobot yang cukup tinggi.
“Misalnya ada dua anak yang sama-sama tinggal persis di depan SD. Yang satu usianya 7 tahun, yang satu lagi 6 tahun 5 bulan. Nah, yang nilainya lebih tinggi itu yang usianya lebih tua, jadi yang lebih muda otomatis kalah dalam perankingan,” jelasnya.
Sekolah Siapkan Sambutan untuk Siswa Baru
Meski proses pendaftaran masih berjalan, pihak sekolah sudah mulai bersiap menyambut siswa-siswi baru.
Salah satunya dengan menyiapkan kebutuhan seragam sekolah yang akan disediakan langsung oleh pihak SD Negeri 02 Podo.
Ditegaskan, penerapan SPMB secara online di jenjang SD memang membawa perubahan besar, baik bagi pihak sekolah maupun orang tua siswa.
Di satu sisi, sistem ini diharapkan membuat proses penerimaan siswa baru lebih tertib dan transparan.
“Sosialisasi yang matang tetap dibutuhkan agar orang tua tidak lagi ragu dan khawatir saat mendaftarkan anaknya ke sekolah negeri, termasuk di SD Negeri 02 Podo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan,” katanya. (lailatus.syarifah/ida)
Editor : Ida Nor Layla