Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Cerita Petugas Damkar Pekalongan Evakuasi Ular, Pernah Tergigit Sanca Sampai Tangan Urat Robek

Nanang Rendi Ahmad • Selasa, 7 Juli 2026 | 15:39 WIB
DEDIKASI: Hairudin, petugas Damkar Kabupaten Pekalongan saat mengevakuasi ular.
DEDIKASI: Hairudin, petugas Damkar Kabupaten Pekalongan saat mengevakuasi ular.

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Selain bergulat dengan si jago merah sebagai petugas Pemadam Kebakaran (damkar) Kabupaten Pekalongan, Hairudin sering mendapat permohonan warga untuk evakuasi ular. Padahal sebenarnya dirinya takut pada binatang reptil tersebut. Tapi, dedikasi mengalahkan ketakutan dan risiko. Begini cerita pengalamannya. 

Hairudin, 46, sedang mendampingi ayahnya kontrol kesehatan di RSUD Kajen saat dihubungi Jawa Pos Metro Pekalongan untuk wawancara, Selasa (7/7/2026).

Ia meminta penundaan waktu wawancara beberapa menit untuk menyelesaikan urusannya terlebih dahulu.

Tiap kali ke RSUD Kajen, Hairudin selalu teringat peristiwa hidup-mati yang menimpanya pada November 2025.

Baca Juga: Sidang dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU), Eks Pangdam IV Diponegoro Akui Terima Rp21 Miliar

Di rumah sakit itulah ia pernah dirawat selama tiga hari. Gara-gara gigitan ular sanca yang hendak ia evakuasi atas permohonan warga di wilayah Kajen, Kabupaten Pekalongan.

DIRAWAT: Hairudin saat dirawat di rumah sakit usai tergigit ular sanca dalam tugasnya.
DIRAWAT: Hairudin saat dirawat di rumah sakit usai tergigit ular sanca dalam tugasnya.

 

Ular besar dengan panjang sekitar 7 meter itu memberontak saat Hairudin tangkap. Binatang melata itu melilit kencang tangan hingga Hairudin tak mampu menahannya. Dalam sekejap, ular tersebut menggigit tangan kanannya.

Akibat gigitan itu, Hairudin mengalami luka serius. Urat dan jaringan pada tangannya robek. Ada belasan luka robek di sekitar lengan hingga pergelangan tangan. Kondisi Hairudin bahkan sempat memburuk dan harus menjalani perawatan intensif di RSUD Kajen.

Baca Juga: Proyek Jembatan Kali Belo Dikebut, Ditarget Rampung Oktober

"Pas melilit tangan saya itu, rasanya tenaga habis. Terus dia menggigit. Saya sampai kejang-kejang pas di rumah sakit," ungkapnya.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam mengevakuasi ular justru bukan saat menghadapi ular berbisa. Paling sulit, kata dia, adalah ular sanca karena tenaga lilitannya sangat kuat. 

"Kalau ular berbisa justru penanganannya lebih mudah sih. Saya justru kuwalahan kalau ular sanca atau ular yang punya kemampuan melilit," katanya.

Mengenai lokasi, sejauh ini Hairudin merasa paling repot apabila ular bersembunyi di atap rumah. Sebab lokasi itu sulit dijangkau tubuh. "Itu kadang juga harus menjebol ternit juga," ucapnya. 

Sepuluh tahun sudah Hairudin bekerja sebagai petugas Damkar Kabupaten Pekalongan. Tak pernah ia bayangkan pada akhirnya juga harus berurusan dengan ular.

Ia sebenarnya takut pada ular. Sebelum menjadi petugas Damkar pun, tak pernah sama sekali berhadapan dengan ular. Jangankan menangkap, melihat pun dia merasa ngeri.

Baca Juga: Proses Penanganan Kasus Penemuan Bayi di atas Kereta Api Sancaka jurusan Yogyakarta–Solo Terus Berlanjut

Ironisnya lagi, selama ini ia belum sama sekali mendapat pelatihan khusus penanganan ular. Modalnya hanya nekat dan mempelajari secara autodidak cara orang-orang menangkap satwa liar itu.

Tapi, selama bertugas, Hairudin beberapa kali mendapat suntikan serum antibisa untuk meminimalisasi risiko.

Meski pernah mengalami peristiwa yang membahayakan keselamatan, Hairudin sampai saat ini masih turun bertugas evakuasi ular. Sebab, tidak semua personel Damkar memiliki kemampuan menangani ular. 

"Ya, bagaimana lagi. Sudah jadi tugas dan tanggung jawab saya," katanya. Ia berharap ke depan seluruh personel Damkar mendapat pelatihan khusus penanganan ular sehingga pelayanan kepada masyarakat dapat berlangsung lebih cepat dan aman.

Baca Juga: Kasus Gigitan Ular di Kabupaten Pekalongan Meningkat, Begini Kata RSUD Kajen

Belakangan ini, kemunculan ular ke permukiman warga di Kabupaten Pekalongan meningkat. Dalam tiga bulan, yakni April -Juni 2026, tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Pekalongan menangani sedikitnya 70 laporan evakuasi ular. 

Kepala Satpol PP dan Damkar Kabupaten Pekalongan Wahyu Kuncoro mengatakan, dari total 70 penanganan, ular sanca yang paling banyak dengan 15 kasus. Disusul ular kobra sebanyak 8 kasus, welang 5 kasus, king koros 2 kasus.

Selain itu ada pula evakuasi ular jenis kobra jawa, weling, king kobra, ular cincin, ular cincin kuning, ular sapi, ular hijau hingga yang belum teridentifikasi jenisnya.

Lokasi evakuasi pun tidak hanya di rumah. Ada yang di sekolah, tempat ibadah, pasar, toko, hingga di dalam sepeda motor milik warga. Berdasarkan rekapitulasi wilayah yang paling sering melaporkan gangguan ular yakni Kecamatan Karanganyar, Kajen, Bojong, Kesesi dan Wonopringgo.

"Pada Mei lalu, misalnya, petugas sempat mengevakuasi tiga ekor ular piton sekaligus di Desa Kwasen, Kecamatan Kesesi," ucapnya.

Baca Juga: Tak Sekadar Diasuransikan Saat KKN, Mahasiswa UIN Gus Dur Bantu Marbot Masjid Dapat BPJS Lewat Bank Sampah

Data tersebut berbanding lurus dengan kasus gigitan ular. Data RSUD Kajen menyebutkan, sepanjang 2026 (Januari-Juli), IGD rumah sakit tersebut telah menangani 45 kasus gigitan ular. 

Dari total itu, 44 di antaranya sembuh meski sempat menjalani rawat inap maupun rawat jalan. Sementara satu pasien meninggal, yakni yang menimpa anak berusia 5 tahun di Desa Mesoyi, Kecamatan Talun. (nra/dit)

 

Editor : Adityo Dwi Riyantoto
#Cerita petugas damkar evakuasi ular #evakuasi ular #kabupaten Pekalongan #damkar #digigit ular