Di Museum Taman Candi Nusantara Pekalongan Bisa Menyusuri Jejak Candi se-Indonesia

Magang • Dipublikasikan Selasa, 7 Juli 2026 | 21:04 WIB
TINGKATKAN LITERASI SEJARAH : Museum Taman Candi Nusantara yang berada di Yosorejo, Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. (LAIILATUS SYARIFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
TINGKATKAN LITERASI SEJARAH : Museum Taman Candi Nusantara yang berada di Yosorejo, Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. (LAIILATUS SYARIFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Destinasi wisata edukasi dan wisata Sejarah yang bisa menjadi alternatif untuk liburan Adalah Museum Taman Candi Nusantara yang berada di Yosorejo, Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Destinasi ini merupakan museum swasta yang menghadirkan miniatur candi-candi nusantara dengan detail yang mengagumkan.

Museum ini diinisiasi oleh Junardi, seorang kolektor yang gemar mengunjungi berbagai candi di Indonesia. Demi mengajak pengunjung untuk menjelajahi kekayaan sejarah candi dari seluruh Indonesia hanya dalam satu kawasan.

Sukma, pengelola sekaligus penanggung jawab museum menceritakan, ide untuk membangun taman miniatur candi ini sudah muncul sejak sekitar tahun 2020. “Mungkin dari 2020-an sudah mulai direncanakan membangun museum ini,” kata Sukma.

Pembangunan fisiknya baru dimulai pada 2022, ditandai dengan peletakan batu pertama, dan rampung setahun kemudian. Museum ini diresmikan pada Oktober 2023.

Menurut Sukma, seluruh biaya pembangunan berasal dari dana pribadi pendiri serta bantuan yayasan. “Sebagian dari pribadi, sebagian dari yayasan juga,” jelasnya.

Setiap miniatur candi dikerjakan oleh perajin khusus dengan skala perbandingan 1 banding 25 dari ukuran aslinya. Karena itu, miniatur Candi Borobudur tampak lebih besar dibandingkan miniatur Candi Sewu, sama seperti proporsi aslinya di dunia nyata.

Bagi Sukma, mengelola museum ini membawa banyak kebahagiaan, apalagi ia juga memiliki hobi merawat tanaman.

Kebetulan, di area museum baru saja dibuka sebuah greenhouse berisi koleksi tanaman anggrek. Namun, ia mengakui ada juga sisi yang cukup berat dari pekerjaannya.

“Dukanya kalau jaga sendiri, paling karena sepi kan,” katanya, sambil menambahkan bahwa ia biasanya berjaga hingga museum tutup pukul 5 sore.

Meski menampilkan replika bangunan bersejarah yang penuh nilai spiritual, museum ini tidak menerapkan ritual khusus. “Dia doa sama Allah aja sih, ga ada yang aneh-aneh sih,” imbuhnya.

Pola kunjungan ke museum ini pun cukup khas. Pada hari Jumat biasa, pengunjung yang datang bisa hanya satu atau dua orang. Namun begitu akhir pekan tiba, suasana berubah ramai.

Momen liburan seperti Tahun Baru dan Lebaran juga selalu menjadi waktu paling sibuk, berbeda dari kebanyakan museum lain yang justru sepi pengunjung.

Pengunjung yang datang pun terbagi cukup merata, sekitar separuh dari kalangan pelajar dan separuh lagi dari masyarakat umum.

Suasana museum yang asri membuat banyak siswa memanfaatkannya sebagai lokasi foto yearbook.

Beberapa komunitas juga pernah berkunjung, di antaranya komunitas Gus Durian, Teman Jalan Pekalongan, hingga komunitas asal Jakarta.

“Menurut saya tantangan terbesarnya itu membuat generasi muda lebih suka lagi sama sejarah-sejarah Indonesia. Sebab di Indonesia itu ada banyak kerajaan, banyak candi yang dibangun, itu kan fondasi dasar dulu sebelum ada Indonesia merdeka,” tuturnya.

Museum ini menyimpan sekitar seribu koleksi candi, ditambah ratusan arca kecil di ruang koleksi bagian atas.

Pengunjung diperbolehkan naik hingga ke area koleksi tersebut, dengan syarat melepas alas kaki.

Berfoto diperbolehkan, namun pengunjung dilarang membuang sampah sembarangan dan menyentuh miniatur candi karena semuanya dibuat oleh pengrajin dengan detail yang rapuh.

Salah satu keluhan yang kerap muncul dari pengunjung, menurut Sukma, adanya sistem tiket ganda, karena banyak yang mengira museum ini menyatu dengan tempat wisata lain di sekitarnya. Padahal statusnya murni milik swasta yang berbeda.

Untuk rombongan pelajar dengan jumlah besar, biasanya sekitar dua puluh anak. Pengelola menyediakan akses masuk melalui gerbang khusus di dekat SD setempat agar tidak dikenakan biaya tiket ganda.

Soal pengembangan ke depan, Sukma menambahkan, pembangunan koleksi candi di museum ini sejatinya baru mencapai sekitar 70 persen. Di atas itu masih ada umpaknya. “Umpak itu tempat candi, jadi masih ada umpak-umpak yang kosong, kita akan isi lagi candi-candi yang baru,” jelasnya.

Selain itu, fasilitas terbaru museum berupa greenhouse anggrek baru saja rampung, dan area kolam renang di dalam kompleks museum juga tengah dalam proses pengisian.

Sebelum menjadi museum, lahan ini dulunya hanyalah lahan kosong yang kemudian dirombak menjadi taman edukasi budaya.

Museum ini kini mengusung visi menjadi museum bertaraf internasional yang melestarikan budaya candi nusantara, dengan misi menjadi sarana edukasi dan rekreasi sejarah bagi masyarakat luas, sekaligus sumber ilmu dan pelestarian wisata budaya candi di Indonesia.

Taman Candi Nusantara buka setiap hari, mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Pengunjung dapat memilih untuk berkeliling sendiri atau menggunakan jasa pemandu, tergantung kebutuhan masing-masing rombongan. (lailatus.syarifah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
Museum Taman Candi Nusantara literasi sejarah wisata edukatif kabupaten Pekalongan