Maraknya Transportasi Online, Tak Membuat Pak Mardi Patah Semangat Mengayuh Becak Kesayangannya

Magang • Dipublikasikan Rabu, 8 Juli 2026 | 15:10 WIB
NIKMATI KEBEBASAN : Pak Mardi di atas becaknya mangkal di depan pasar menunggu penumpang dengan sabar. (MAULIDA USNA AULIA/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
NIKMATI KEBEBASAN : Pak Mardi di atas becaknya mangkal di depan pasar menunggu penumpang dengan sabar. (MAULIDA USNA AULIA/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Di sisi riuhnya kepungan transportasi umum dan online, derit roda becak kayuh masih terdengar jelas di sudut-sudut Jalan Raya Kajen, Kabupaten Pekalongan. 

Bagi beberapa orang, transportasi tiga roda ini mungkin sudah dianggap ketinggalan zaman. Tetapi lain bagi Pak Mardi, becak sudah menjadi setengah perjalanan hidupnya.

Pria berusia sekitar 60-an ini mengaku sudah melakoni profesi sebagai pengayuh becak sejak dirinya masih bujangan.

Meski sempat merantau ke Jakarta pada tahun 1990-an, ia memilih pulang ke Kajen dan meneruskan kembali perjuangannya sebagai pengayuh becak.

Saat ditemui tim Jawa Pos Metro Pekalongan, Pak Mardi menceritakan bagaimana dinamika persaingan transportasi umum saat ini.

Daripada mengeluh, ia justru menghadapinya dengan filosofi yang sederhana namun khas sekali.

"Iya gimana pun persaingannya, yang penting sabar," ujarnya sembari tertawa ringan, Rabu 8 Juli 2026.

Bagi Pak Mardi, kunci bertahan di saat ekonomi sedang krisis saat ini adalah kelapangan dada. Penghasilannya sehari-hari memang tidak menentu.

Jika kondisi pasar ramai, ia bisa mengantongi uang hingga Rp 200 ribu per hari. Namun saat sepi melanda, membawa uang Rp 100 ribu saja sudah menjadi rezeki yang cukup untuknya.

Saat ditanya mengapa ia begitu setia dan tidak mencari pekerjaan lain selama puluhan tahun, Pak Mardi tersenyum sumringah.

Baginya menjadi tukang becak memberikan satu hal berharga yang tidak bisa dibeli di tempat kerja seperti pada umumnya, yakni kebebasan.

"Kalau tukang becak kan bebas. Berangkat jam berapa kan bisa. Istirahat ya enggak ada yang melarang. Kalau ngikut orang nggak enak, kalau kesiangan bisa dimarahi," lanjut Pak Mardi diiringi tawa candanya.

Meski jumlah penumpang tidak seramai zaman dulu, Pak Mardi menyebutkan, tukang becak di Kajen, Kabupaten Pekalongan, sebenarnya masih terhitung ratusan.

Mereka tersebar di berbagai pangkalan, mulai dari area depan pasar hingga belakang pasar, saling berbagi rezeki tanpa harus bersikutan.

Bagi Pak Mardi dan penarik becak lain di Kajen, mengayuh becak bukanlah sekadar urusan mencari sesuap nasi tanpa adanya hari untuk istirahat sejenak.

Ini bagian daripada merawat kemandirian, menikmati kebebasan, dan yang paling utama menjaga secuil wajah ramah transportasi tradisional Kabupaten Pekalongan agar tidak hilang ditelan zaman. (maulida.usna.aulia/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
transportasi online tukang becak kabupaten Pekalongan