METROPEKALONGAN.COM, Kajen – Anak muda yang ingin menjadi petani kopi, harus mengesampingkan rasa gengsi.
Selain itu, kaum muda harus memiliki tekad dan berani mengambil langkah demi kemajuan pertanian Indonesia yang lebih baik di masa depan.
Hal itu ditegaskan Musrofaini, 23, warga Dukuh Plumbon, Desa Winduaji, Kecamatan Paninggaran Kabupaten Pekalongan.
Musrofaini adalah petani kopi muda yang sudah bergelut dengan dunia tanaman kopi selama kurang lebih tiga tahun.
Di balik keahliannya memilih kopi berkualitas, ada sosok ayah yang hebat yang menjadi pembimbing atau guru. Mulai belajar tentang budidaya kopi hingga proses jual beli.
Sosok muda yang akrab disapa Feni ini menuturkan, untuk bisa mendapatkan kopi berkualitas, harus diperhatikan sejak dari pemilihan bibit kopi.
“Makanya saya tidak membeli bibit kopi yang dijual banyak orang, tapi dengan membudidayakan sendiri biji-biji kopi itu di lahan milik keluarga,” tutur Feni sambil menghadap ladang kopi milik orang tuanya pada Sabtu 11 Juli 2026.
Setelah memilih bibit, harus memperhatikan kondisi lahan dan proses perawatannya. Kopi hasil budidayanya tidak menggunakan pupuk kimia, tapi pupuk organik. Kotoran hewan dari kambing peliharaannya.
"Perawatannya menggunakan pupuk kandang dengan memanfaatkan kotoran dan urine kambing," jelasnya tepat di depan kandang kambing milik orang tuanya.
Meski begitu, tidak semua bibit Feni biarkan tumbuh besar. Tapi masih harus memasuki proses seleksi dengan memilih bibit yang menunjukkan tanda tanda bisa tumbuh paling baik dan kuat.
Setelah itu, bibit terbaik ditunggu pertumbuhannya hingga panjangnya sekitar 3 sampai 5 sentimeter. Setelah itu, bibit tersebut dipindahkan ke dalam polybag. Bibit akan didiamkan dan dirawat di dalam polybag hingga tingginya mencapai 15 sentimeter.
Barulah kemudian, dipindahkan ke lahan perkebunan. Tanaman kopi juga membutuhkan pengaturan jarak ideal antara tanaman kopi satu dengan tanaman kopi lainnya, sekitar 1,5 meter. “Jarak ideal ini untuk memberikan ruang tumbuh dan nutrisi yang cukup,” katanya.
Untuk menunggu berbuah hingga panen, kata Feni, petani kopi memang harus bersabar, karena butuh waktu cukup lama sekitar 3 tahunan.
Dalam istilah Jawa ada kata Ngayub, artinya harus menunggu tanaman kopi yang tinggi menjulang hingga menutupi pohon lain. Sementara bibit kopi yang Feni budidayakan, terbilang justru lebih cepat panen.
Berbeda dengan pohon kopi lain yang tumbuh liar, pohon kopi milik Feni dirawat hingga tingginya 2 meter saja. Hal ini dilakukan untuk mempermudah proses pemetikan tanpa perlu memanjat pohon.
Dengan pola tanam yang Feni kembangkan, satu pohon kopi bisa mengantongi 3 sampai 5 kilogram biji kopi basah (belum dikeringkan).
“Jadi kalau menanam sekitar 30 pohon, potensi hasil panen basah yang bisa didapatkan bisa mencapai sekitar 150 kilogram,” tuturnya.
Namun buah kopi hasil budidayanya, tak semuanya dijual ke pasar. Tapi sebagian diolah menjadi biji kopi untuk dijual menjadi produk minuman kopi.
Pengolahan biji kopi menjadi kopi bubuk siap saji ini, tak dilakukan Feni seorang. Tapi melibatkan sang adik.
Dari kopi bubuk inilah, dijual menjadi minuman dengan berbagai varian kopi seperti brew coffe, latte, dan cappucino.
Perlu diketahui, kopi itu menjadi komoditas unggulan ekspor di Indonesia. Sudah saatnya generasi muda merasa bangga dan memiliki semangat untuk menjadi petani kopi.
Bahkan, meski bijinya kecil di lahan kecil, tetap akan bisa menghasilkan sesuatu yang lebih besar dan terbaik.
"Menjadi petani kopi itu sangat keren lho sekarang. Apalagi, kita sebagai generasi penerus harus bangga menjadi petani kopi,” tuturnya penuh semangat.
Bahkan Feni yang mengawali kariernya hanya sebagai petani kopi muda, Feni sangat bangga.
Apalagi jika bisa membuka lapangan pekerjaann bagi warga sekitar, dan hasil budidaya kopi bisa tembus pasar nasional maupun internasional, itu akan membanggakan Indonesia.
"Saya berharap bisa punya lahan yang lebih luas, bisa membuka lapangan pekerjaan, dan hasil budidaya kopi bisa tembus pasar nasional dan internasional," kata Feni penuh harap berdoa. (maulida.usna.aulia/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan