METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Maraknya anak-anak di bawah umur yang gemar bermain gadget menjadi masalah cukup serius di era digitalisasi ini. Namun ada yang berbeda di pinggiran Lapangan Kemplong, Wiradesa, Kabupaten Pekalongan.
Ada yang melakukan gelaran tikar sederhana yang dipenuhi beragam buku, mainan puzzle, hingga boneka.
Gelaran tiket tersebut merupakan kegiatan komunitas bernama Taman Baca Masyarakat (TBM) Wiradesa. Gerakan literasi lokal ini diinisiasi oleh seorang pemuda bernama Syahrul.
Gerakan ini sebenarnya sudah dilakukan rutin sejak tahun 2020. Namun sempat tersendat dan redup karena badai pandemi Covid-19 lalu. Baru aktif kembali sejak tahun 2023 lalu hingga sekarang.
Komunitas ini lahir karena founder-nya merasa minat baca yang mulai menurun di sekitar desanya.
Dia bersama rekan-rekannya berusaha menggagas program yang bisa meningkatkan literasi anak-anak di sekitar daerah Wiradesa.
Tidak sekadar membolak-balikkan buku, komunitas TBM ini juga mempunyai beberapa program.
Di antaranya bimbingan belajar anak SD-SMP yang dikenai biaya terjangkau dan merupakan program baru dari komunitas ini dengan pengajar seluruh pengurus komunitas tersebut.
Selain itu, ada kegiatan seminar literasi maupun budaya dengan menggaet salah satu sastrawan terkenal di Pekalongan, Ribut Achwandi.
Buku-buku yang terjajar rapi di rak Perpustakaan Rumah, merupakan sumbangan dari Perpustakaan Nasional, penulis-penulis lokal, giveaway, pemasok buku, serta ada yang memang dibeli untuk menambah stok buku.
Anak-anak, remaja, dan pelajar bisa datang berkunjung ke perpustakaan sederhana itu kapan saja. Bahkan, bisa bercakap-cakap ringan bersama salah satu pengurus Komunitas TBM.
Salah satu Pengurus Komunitas TBM, Rizki Aurelia Prasetyo yang akrab disapa Aura ini membagikan keresahannya di balik keputusannya bergabung dengan komunitas ini.
Aura bergabung sejak awal tahun 2025, ia melihat ada ancaman nyata di balik layar ponsel pintar yang sekarang lebih disukai anak-anak.
"Kalau dari handphone (HP) kita menerima informasi serba instan ya kak. Jadi itu membuat anak-anak muda burn out, akibatnya critical thinking anak justru menurun. Itu yang berbahaya," ujarnya saat duduk bersama di Lapak Baca Gratis TBM ini.
Aura menambahkan kekhawatirannya akan fenomena brain rot (bahasa gen alpha) atau penurunan daya otak akibat konsumsi layar persegi panjang yang terlalu lama hingga mengakibatkan kecanduan bagi anak.
Ia membandingkan perbedaan mendasar antara membaca buku fisik daripada bermain di dunia maya.
"Saya pernah baca, kalau yang bedain buku dan HP itu satu kak. Kalau baca buku kita ada proses menyerap informasi, tapi kalau terus-terusan main HP, kita bisa dapat jawaban cepat tapi membuat otak kita lemah," keluh Aura yang juga mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Minggu 12 Juli 2026.
Komunitas ini bergerak di Lapangan Kemplong, Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan, tiap hari Jumat dan Minggu.
Mereka menggelar Lapak Baca Gratis disertai permainan tradisional seperti Congklak. Ternyata, kegiatan itu lebih ramai dikunjungi anak-anak maupun orangtua di hari Minggu.
Selain itu, mereka juga menerapkan strategi promosi yang adaptif di era ini, melalui akun instagram resmi, membagikan kegiatan-kegiatannya dengan video selama kegiatan.
Tentu saja, perjalanan komunitas ini tidak selalu mulus. Aura kembali menceritakan bagaimana antusiasme masyarakat, terutama dari kalangan remaja yang ternyata masih minim menyukai buku.
Komunitas TBM Wiradesa ini merupakan bukti nyata bahwa saat dunia digempur oleh teknologi yang serba cepat, ruang kecil ini justru mengajak masyarakat untuk sejenak mengurangi ponsel pintar, mengajak anak-anak bermain, membaca, berpikir dan berimajinasi lewat lembar demi lembar kertas warna-warni.
Tujuan mulia komunitas adalah mencintai buku dan jadikan buku teman hidup. Seperti tagar komunitas ini yaitu hidup punya cerita, di balik buku usang, selalu ada pelajaran berharga, dan kepuasan tersendiri dibanding terus lengket dengan gawai.(maulida.usna.aulia/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan