METROPEKALONGAN.COM, Bojong – Kunyit hitam (curcuma caesia) merupakan salah satu tanaman herbal premium yang banyak diburu para pelaku pengobatan herbal. Di Indonesia, tanaman ini terbilang langka, sehingga memiliki nilai ekonomi tinggi.
Tapi tanaman tersebut bisa ditemukan di pekarangan rumah milik Edi Effendi, di Desa Bukur, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan. Edi yang akrab disapa Pak Edi ini menamainya Taman Herbal Bukur.
Memang tak hanya kunyit hitam di taman tersebut, ada beragam jenis tanaman herbal lainnya yang sangat bagus untuk bahan baku obat-obatan herbal.
Namun untuk tanaman kunyit hitam ini, Pak Edi sengaja mendatangkan bibit dari India dan Thailand. Dia tidak melakukan impor sendiri, tapi melalui temannya dari Mandalika.
"Saya mendatangkan kunyit hitam ini melalui teman sesama pembudidaya tanaman herbal," kata Pak Edi di Taman Herbal Bukur miliknya, Senin (13/7/2026).
Kebun herbal ini sebenarnya bukan usaha yang Pak Edi rencanakan. Semula hanya bermaksud mendirikan greenhouse pada 2022, tak lama setelah pandemi Covid-19 mereda. Saat itu ia menanam sayuran secara hidroponik.
"Tapi kalau menanam sayuran, yang menikmati memang kebanyakan orang-orang kaya. Ini karena harganya mahal sampai Rp 45.000," kenangnya.
Pak Edi yang sebelumnya bekerja sebagai sopir, kerap mengantarkan pasien yang menderita beragam penyakit untuk berobat ke rumah sakit. Di hatinya pun terbersit, seluruh penyakit bisa diobati dengan obat obatan alami dari tanaman herbal. "Saya sering mengantar orang sakit, timbul rasa kasihan," ujarnya.
Sejak saat itu, dia mengubah konsep greenhouse menjadi kebun tanaman obat. Apalagi minatnya untuk budidaya beragam tanaman, sudah tumbuh sejak ia bekerja sebagai sopir di Bintaro, Jakarta. "Dulu waktu kerja di Bintaro suka menanam pohon," katanya.
Untuk bisa tanam menanam, Pak Edi, tidak asal menanam. Tapi belajar dari warga sekitar tempat tinggalnya kala itu. "Belajarnya sama orang-orang Betawi," lanjutnya.
Pak Edi melakukan budidaya tanaman obat ini, tidak di atas tanah seccara sembarangan. Tapi mengandalkan media tanam organik. Ada sekam bakar. Sekam mentah. Kemudian mencampurkan sekam dengan kotoran hewan dan pecahan cangkang telur ke dalam racikannya. "Dengan campuran-campuran tersebut, supaya media tanamnya subur," ujarnya.
Untuk menyuburkan tanah, ungkapnya, tidak sekadar butuh pupuk, melainkan tanah yang sudah diolah. "Ini jenisnya sebetulnya bukan pupuk, tapi tanah yang sudah diolah menjadi media tanam," jelasnya.
Makanya, sebagian besar tanaman di kebun Pak Edi di dalam pot, bukan ditanam langsung ke tanah. Selain itu, lebih praktis saat memanen. "Bagusnya di pot, panennya jalebih mudah. Kalau di tanah, tempatnya bisanya becek, apalagi kalau banjir datang," katanya.
Suatu waktu, seorang dosen dari Solo yang berkunjung sempat menanyakan hal ini soal sambiroto miliknya. "Kenapa enggak ditaruh di tanah?" tanya sang dosen. Pak Edi menjawab singkat, "Takut terkontaminasi. Banyak urea di situ. Masuk ke sini kan enggak jadi."
Sumber asam amino untuk media tanamnya berasal dari air bekas kolam lele di kebunnya. "Kenapa lele itu sampai besar 7 kg, 8 kg, karena airnya kerap dikuras. Bekas air kurasan, disiramkan ke sini, hasilnya seperti ini," katanya.
Terkait proses pembibitan kunyit hitam di kebun, Pak Edi punya caranya sendiri. Rimpang disemai lebih dulu hingga bertunas, baru kemudian dipindahkan ke media tanam. "Menyemainnya tidak pakai tanah," ujarnya sambil menunjukkan rimpang-rimpang yang belum bertunas di sudut kebun.
Menurutnya, rimpang yang sudah bertunas itulah yang paling dicari pembeli. "Yang sudah tunas di sini, paling laku,” katanya.
Bahkan dua varian kunyit hitamnya, kata Pak Edi, varian asal Thailand lebih cepat dibudidayakan dibanding varian India, meski harga jual keduanya tetap sama.
Rimpang berwarna ungu kehitaman itu digenggam Pak Edi sambil sesekali diputar-putar di tangannya. Ia pun lantas membelahnya pelan, memperlihatkan bagian dalamnya yang berbeda dari kunyit pada umumnya.
"Kalau ini kan agak keunguan biru, kalau itu kan kehitaman, tapi kalau umurnya udah 2 tahun baru kelihatan hitam," katanya sambil menunjukkan dua jenis kunyit hitam koleksinya.
Pak Edi mewanti-wanti calon pembeli agar tidak asal beli kunyit hitam secara daring tanpa melihat langsung barangnya. Ia mencontohkan kejadian yang menimpa rekannya sesama pembudidaya.
"Itu teman-teman yang banyak yang kena tipu. Belinya kunyit hitam, tapi yang datang temu ireng," ceritanya.
Temu ireng adalah tanaman berbeda yang kerap tertukar dengan kunyit hitam oleh pembeli awam.
Selain kunyit hitam, Pak Edi turut membudidayakan kunyit merah dan dua jenis kunyit putih, yakni gombyok dan tapak. "Kalau kuning ya satu, kuning tok. Tapi yang ini merah, gombyok," jelasnya.
Kebunnya juga menyimpan lima varietas daun mint dengan aroma berbeda-beda, yaitu peppermint, cocomint, cokelat mint, apel mint, dan brainist mint. "Kalau ini kan strong," katanya sambil menunjukkan brainist mint, jenis dengan aroma paling menyengat di antara koleksinya.
Salah satu tanaman yang menurutnya semakin sulit ditemukan adalah bengle. "Ini tanaman langka, bahkan di pasar aja sudah jarang ditemukan," katanya.
Kondisi serupa berlaku pada pegagan atau centella, sebagai "daun pintar" karena dipercaya baik untuk daya ingat. Tanaman ini juga paling laris di kebunnya. "Ini paling terlaku di sini, makanya sering kehabisan. Kalau habis, kudu mendatangkan stok dari Jawa Timur. Sesekali ia juga mendatangkan tambahan stok dari Yogyakarta,” katanya.
Koleksi lain di kebun Pak Edi antara lain tempuyung untuk obat batuk dan ginjal, daun ungu untuk ambeien, sambiloto sebagai antibiotik alami, sembung nyawa untuk pegal tulang, sergunggu untuk lendir di paru-paru, sirih merah dan sirih hitam, hingga pohon parijoto dan buah tin.
Bagi Pak Edi, kebun ini bukan sekadar ladang usaha. Ada tanaman yang sengaja tidak ia jual meski banyak peminat, karena dijadikannya ciri khas kebun. "Mahal enggak mahal emang enggak dijual, intinya seperti itu. Biarin buat ikon itu lho," katanya sambil tertawa kecil. (maulida.usna.aulia/ida)
Editor : Ida Nor Layla