METROPEKALONGAN.COM, Kajen – Siapa sangka, dari sepetak lahan dengan lima kolam sederhana, kini berdiri 58 kolam terpal yang tak pernah berhenti memproduksi bibit lele setiap bulan. Permintaannya bahkan disebut-sebut tak pernah bisa terkejar.
Di balik cerita itu, ada satu nama yang mulai akrab di telinga para petani lele Pekalongan, Batang, hingga Pemalang. Namanya Pak Aji, pemilik usaha pembenihan lele Jiponk di Desa Sambiroto, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah.
Usaha ini tidak lahir dari modal besar atau latar belakang perikanan yang mentereng. Semuanya berawal dari kejelian membaca peluang di depan mata.
Ketertarikannya membudidayakan lele bermula dari pengamatannya terhadap kebutuhan pasar yang terus tumbuh pesat di wilayah Pekalongan.
Bahkan, seiring menjamurnya warung makan, rumah makan lamongan, hingga hadirnya pabrik dan kampus baru di daerah tersebut.
Sebagai orang yang sebelumnya berkecimpung di sektor pembelian dan pemasok untuk rekan-rekan pembesaran, ia melihat celah usaha yang belum tergarap maksimal.
“Saya melihat ada peluang untuk budidaya lele ini. Kebetulan saya kan memang di sektor pembelian, jadi kita suplai untuk rekan-rekan budidaya pembesaran. Itu sih, lihat peluang pasar,” kata Pak Aji membuka cerita.
Usaha yang kini terpusat di Sambiroto ini pada awalnya hanya bermodalkan sekitar lima kolam. Seiring berjalannya waktu dan meningkatnya permintaan, jumlah kolam terus ditambah hingga kini mencapai 58 kolam.
Seluruhnya ditangani sendiri oleh Pak Aji, dengan tambahan tenaga kerja hanya pada masa-masa produksi puncak.
Sebelumnya, ia juga sempat menjalankan usaha serupa di lokasi lain, namun kini dinonaktifkan sementara, agar produksi dapat difokuskan sepenuhnya di Sambiroto.
Berbeda dari kebanyakan peternak lele yang membesarkan ikan hingga siap konsumsi, usaha milik Pak Aji murni bergerak di segmen pembenihan.
Ia membudidayakan tiga jenis lele, yakni Sangkuriang, Mebiara, dan Python, yang seluruhnya dikawinkan dan dibesarkan sendiri hingga menjadi bibit siap jual.
“Di sini kan khusus sektor pembenihan, jadi kita jualnya itu benih. Kita jualnya bibit ke petani-petani yang membesarkan. Jadi kita enggak produksi lele konsumsi, kita produksinya cuma bibit,” jelas Pak Aji.
Bibit lele dijual per ekor dengan harga berkisar Rp 150 hingga Rp 200, dan pembeli umumnya memesan dalam jumlah ribuan ekor sekaligus – mulai dari seribu, dua ribu, hingga sepuluh ribu ekor per transaksi.
Sebagai pakan, bibit-bibit tersebut diberi cacing sutra yang dipasok dari wilayah sekitar Pekalongan.
Menurut Pak Aji, permintaan pasar terhadap lele dalam beberapa waktu terakhir cenderung meningkat.
Salah satu faktor pendorongnya adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membuat sejumlah dapur penyedia layanan gizi (SPPG) turut memasukkan menu berbahan lele ke dalam daftar sajian mereka.
“Lebih ke meningkat, karena adanya program MBG. Beberapa SPPG ada menu lele juga, jadi permintaan untuk lele semakin bertambah,” ungkap Pak Aji.
Meski permintaan tinggi, jangkauan pasar Pak Aji masih terbatas pada tiga wilayah, yaitu Pekalongan, Batang, dan Pemalang.
Bahkan di ketiga wilayah tersebut, kebutuhan bibit lele belum sepenuhnya dapat terpenuhi.
Rencana ekspansi keluar daerah untuk sementara belum dapat direalisasikan karena keterbatasan kapasitas produksi.
Salah satu tantangan yang kerap dihadapi dalam budi daya lele adalah faktor cuaca yang tidak menentu, yang menurut Pak Aji dapat memicu kematian bibit secara mendadak meski biasanya didahului tanda-tanda tertentu.
Selain itu, tantangan utama justru datang dari sisi produksi, bukan pasar, karena permintaan yang ada sudah jauh melampaui kapasitas produksi saat ini.
Ke depan, harapan Pak Aji cukup sederhana, yakni produksi bibit lele yang stabil dan terus meningkat setiap bulannya, agar dapat memenuhi permintaan pasar yang semakin besar.
Soal pemasaran, ia mengaku lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan pencantuman usaha di mesin pencari, dibandingkan aktif di media sosial.
Nama Jiponk kini menjadi salah satu penanda bahwa Desa Sambiroto tak hanya dikenal sebagai kawasan pemukiman biasa, melainkan juga sentra pembenihan lele yang menopang rantai pasok perikanan darat di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.
Dari lima kolam yang dulu terlihat sederhana, kini 58 kolam itu menjadi bukti bahwa naluri membaca peluang pasar, dipadukan dengan kerja telaten setiap hari, bisa mengubah sepetak lahan desa menjadi urat nadi ekonomi bagi ratusan petani lele di tiga kabupaten sekaligus. (lailatus.syariah/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan