METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Puluhan bapak rela libur kerja demi datang ke Father Date yang digelar Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pekalongan.
Tangis mereka pecah ketika sesi memeluk anak perempuan masing-masing. Banyak yang merasa momen itu memang jarang mereka ciptakan.
Pemandangan berbeda terlihat di Pinus Siampel, Paninggaran, Kabupaten Pekalongan. Tempat wisata yang biasanya riuh tawa dan keceriaan itu, mendadak penuh haru.
Sebanyak 30 bapak memeluk, mengusap rambut, hingga mencium kening anak perempuannya masing-masing. Tangis mereka pecah, meski telah berusaha mereka tahan dan sembunyikan.
Begitulah yang terjadi dalam acara Father Date yang digelar oleh Dinsos Kabupaten Pekalongan, Rabu (15/7/2026).
Anak-anak perempuan yang merupakan siswa SD Negeri Bedagung, dipertemukan dengan bapak mereka.
Acara memang didesain untuk menciptakan quality time (waktu berkualitas) dan mempererat bounding (ikatan emosional) antara bapak dan anak perempuan. Tak boleh ada ibu.
Baca Juga: Meracik Harapan di Balik Secangkir Kopi, Penyandang Tuli dan ATS Temukan Jalan Baru Menuju Wirausaha
Awalnya, sebelum acara dimulai, bapak dan anak ini nampak seperti punya dunia sendiri. Mereka berada di lokasi yang sama, tapi sibuk sendiri-sendiri.
Sang pemandu lalu mengarahkan mereka berkumpul untuk senam otak. Anak dan bapak diminta menirukan gerak tangan pemandu yang cukup mengecoh. Dalam sesi pemanasan ini, peserta tampak masih santai dan tertawa-tawa.
Sesi selanjutnya mulai serius. Pemandu menguji sejauh mana bapak dan anak saling kenal. Dari hal yang paling sederhana, yakni anak diminta menuliskan nama bapak di secarik kertas, begitu sebaliknya. Tak boleh saling melihat.
Pemandu juga meminta anak menuliskan pekerjaan bapak. Sementara bapak diminta menuliskan cita-cita anak.
Hasilnya memuaskan. Semua bapak betul menuliskan nama anak, anak-anak pun betul menuliskan nama bapak mereka.
Tapi sayang sekali, masih banyak bapak yang salah menuliskan cita-cita sang anak gara-gara tidak tahu.
Yang lucu adalah sesi selanjutnya. Anak diminta menuliskan hal yang mereka sukai dan tidak disukai dari bapaknya. Ada anak yang menulis, hal yang tidak dia sukai dari bapaknya adalah mandi terlalu lama. Ketika dibacakan, mengundang gelak tawa peserta lain.
Paling banyak, anak menulis tidak suka bapaknya marah-marah. Sementara soal hal yang disukai, paling banyak anak menulis "suka ketika bapak memberi jajan".
Yang mengharukan dan emosional terjadi di sesi berikutnya. Semua peserta diminta berdiri. Semua anak diminta mendekat ke bapaknya. Lalu diarahkan untuk saling memeluk.
"Silakan peluk putrinya, usap rambutnya, cium keningnya. Katakan ke mereka kalau memang bapak-bapak selama ini lebih sibuk di luar rumah, tak punya waktu lagi untuk sekadar memeluk mereka. Katakan saja," tuntun Fi Ainullah, seorang psikolog yang diminta memandu acara.
Bapak-bapak yang semula tampak seperti manusia kuat dan tegar, akhirnya menangis juga. Ada yang sampai terisak. Ada yang berusaha menahan tangis, meski akhirnya bobol juga.
Diiringi musik sendu, mereka yang menangis makin mengeratkan pelukan ke anaknya. Sang anak jadi ikut menangis.
"Pak, yang Bapak peluk itu putri Bapak. Peluk, Pak. Bisikan ke mereka hal-hal yang baik," kata Fi Ainullah lagi.
Salah seorang bapak yang menangis tersedu adalah Rohmat. Sehari-hari ia bekerja sebagai kuli dan mengerjakan apapun yang dia bisa.
Hari itu ia rela tak bekerja untuk mengikuti Father Date yang awalnya ia tak tahu bakal membuatnya menangis.
"Bahagia sekali (bisa memeluk anak lagi). Saya selama ini jarang sekali punya waktu untuk anak, berangkat pagi pulang petang," ucapnya sambil mengusap sisa air mata.
Baca Juga: TMMD Menjangkau Desa Terpencil Jawa Tengah, Buka Akses dan Peluang Ekonomi
M. Thoifi juga sama. Ia mengaku ini merupakan kali pertamanya mengikuti Father Date. Salutnya, meski sudah dekat dengan sang anak, ia mengakui masih banyak koreksi. Setelah mengikuti acara, ia merasa punya tanggung jawab lebih sebagai bapak.
"Saya akhirnya merasa, kadang-kadang memang hanya fokus mencari nafkah. Jarang memberi sentuhan kasih sayang yang membuat anak merasa saya benar-benar ada dan dekat," ungkapnya.
Setelah sesi paling emosional itu, giliran pendinginan. Anak dan bapak diminta bermain game yang melatih kekompakan.
Tampak para bapak yang semula agak malu, menjadi larut dalam acara. Mereka terlihat kompak bekerjasama dengan sang anak untuk memenangkan game. Kedekatan seperti ini tidak terlihat saat awal acara.
Dinsos menggelar acara ini memang untuk merekatkan kembali hubungan anak-bapak.
Kabid Rehabilitasi Sosial Dinsos Kabupaten Pekalongan Moureta V. Lorent mengatakan, sengaja mendesain acara ini khusus untuk anak perempuan dan bapak.
Salah satu dasarnya adalah karena banyaknya kasus kekerasan seksual gara tidak ada komunikasi baik dan terbuka antara anak perempuan dan bapak.
"Kenapa bapak? Karena cinta pertama anak perempuan itu ya bapaknya. Jadi ini agar merekatkan kembali hubungan mereka dan memenuhi tangki kasih sayang si anak dari bapaknya.
Biar ketika dewasa, anak perempuan tidak mudah dirayu laki-laki. Bapak juga biar dekat dan bisa mengantisipasi hal-hal bahaya yang mengintai anak mereka," terangnya. (nra/dit)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan