METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di atas panggung wisuda Khotmil Quran Bil Ghoib PPTQ Salafiyyah Syafi'iyyah, Mar'atu Rosyada Al Fariz tampil mengenakan selempang penanda kelulusan tahfidz.
Momen itu menandakan pencapaian panjang seorang santriwati yang kini dikenal sebagai mahasiswi semester VI Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Negeri (UIN) sekaligus pemilik usaha boci.
"Alhamdulillah, ini semua saya jalani bertahap. Dari mondok, menghafal, sampai akhirnya bisa kuliah sambil punya usaha sendiri," ujar Rosyada saat ditemui, Kamis 16 Juli 2026.
Perjalanan Rosyada di dunia pesantren dimulai sejak Madrasah Aliyah (MA), yang ia tempuh selama tiga tahun.
Memasuki tahun keempat, ia memutuskan boyong atau berhenti menetap di pondok, namun kegiatan mengaji dan menghafalnya tidak berhenti.
"Aku boyong dulu, cuma ngajinya tetap jalan. Soalnya aku mau kuliah," katanya.
Rosyada mengaku ketertarikannya pada dunia usaha sudah tumbuh sejak SMP. Saat kelas satu hingga kelas dua, bertepatan dengan masa pandemi Covid-19, ia mulai berjualan secara online.
"Waktu SMP itu aku udah coba-coba jualan olshop pas Covid. Dari situ kayaknya udah kebentuk sih pengin punya usaha sendiri," ungkapnya.
Ketertarikan itu berlanjut hingga tahun keempat masa mondoknya, saat ia akhirnya memutuskan merintis usaha boci.
Sebagai pemilik usaha, Rosyada tidak segan bercerita tentang proses jatuh-bangunnya.
Awalnya, produk boci hanya dikemas dengan pouch biasa. Namun setelah ia berinovasi dengan kemasan yang lebih menarik, usahanya mulai dilirik banyak orang.
"Setelah pakai pouch yang lebih menarik, usahaku jadi makin berkembang dan makin dikenal banyak orang," jelasnya.
Kini, usaha boci miliknya telah memiliki sekitar 60 reseller. "Walaupun enggak semuanya aktif jualan, tapi Alhamdulillah lumayan banyak yang bantu pasarin," tambahnya.
Di tengah kesibukan berbisnis, Rosyada juga aktif berorganisasi di UKM LPTQ dan BIB UIN Gus Dur Pekalongan.
Ia bahkan berhasil mempublikasikan jurnal ilmiah di Sinta 4 dan Sinta 5, termasuk satu jurnal berbahasa Inggris.
"Publikasi jurnal itu salah satu pencapaian yang aku syukuri banget, karena prosesnya enggak gampang di tengah kesibukan yang lain," katanya.
Menurut Rosyada, kunci utama yang membuatnya mampu menjalankan banyak peran sekaligus adalah kedisiplinan dan ketidaksukaannya terhadap waktu luang yang terbuang percuma.
"Aku tuh bukan orang yang senang nganggur. Kalau nggak ada kegiatan sama sekali, rasanya malah pusing," ucapnya.
Kebiasaan itu pula yang membuatnya dikenal di lingkungan pertemanan sebagai mahasiswi yang selalu menyelesaikan tugas sebelum tenggat waktu.
"Aku enggak suka banget ngerjain sesuatu yang mepet deadline. Jadi biasanya sebelum deadline, tugasku udah selesai duluan," tegasnya.
Kedisiplinan itu juga tampak dari rutinitas hariannya selama di pondok. Setelah kuliah dari pagi hingga sore, Rosyada langsung mandi dan mencuci, lalu melanjutkan mengaji begitu memasuki waktu Magrib.
Usai salat Isya berjamaah, ketika santri lain biasanya berkumpul mendengarkan cerita di aula, ia memilih masuk kamar untuk deres atau mengulang hafalan.
"Jadi benar-benar enggak ada waktu luang untuk menganggur, karena aku manfaatkan sebaik-baiknya, apalagi kalau lagi ngejar target hafalan," jelasnya.
Kesibukan Rosyada sempat berada di titik paling padat ketika ia menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada semester lima menuju enam.
Ia mengaku sempat keteteran menyeimbangkan KKN dengan tuntutan kuliah dan usahanya.
"Sebenarnya keteteran sih, cuma aku manfaatkan waktu sebaik mungkin biar semuanya tetap jalan," akunya.
Soal prestasi, jalan yang ditempuh Rosyada tidak selalu mulus. Ia mengaku berkali-kali mengikuti perlombaan semasa kuliah, namun belum juga membawa pulang gelar juara. Baru belakangan ini, usahanya membuahkan hasil.
"Di kampus ini aku sering ikut lomba, tapi enggak pernah juara. Eh, kemarin akhirnya juara satu," ujarnya sambil tertawa.
"Pelajarannya itu, jangan takut untuk mencoba. Lebih baik sudah mencoba tapi gagal, daripada tidak pernah mencoba sama sekali," tambahnya.
Pengalaman itu pula yang kini menjadi prinsip hidup yang dipegang teguh Rosyada.
"Prinsip hidup yang aku pegang sekarang itu, yang penting berani mencoba. Penyesalan itu datang di akhir," katanya.
Kepada mahasiswa baru, Rosyada berpesan agar tidak takut mengambil langkah pertama, baik dalam berorganisasi, berwirausaha, maupun menekuni hafalan Al-Qur'an.
Ia juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan fasilitas kampus, salah satunya perpustakaan.
"Buat kalian mahasiswa baru, jangan takut untuk mencoba. Jangan malas-malasan, dan sering-seringlah ke perpustakaan. Kalian belum tahu, ternyata perpus itu nyaman banget," pungkasnya. (lailatus.syarifah/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan