METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Gapura bertuliskan “Welcome” berdiri mencolok di depan Foodcourt Kajen Junction, di Jalan Mandurorejo, Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Lokasinya hanya beberapa langkah, di depan Gedung Kesenian Kajen dan dekat dengan Alun-Alun Kajen.
Namun di balik gapura itu, suasana justru lengang. Bukan cuma lapak yang baru dua bulan buka, lapak lain yang sudah lebih lama berjualan di sana pun sama-sama sepi pengunjung.
Jumat siang itu 17 Juli 2026, matahari bersinar terik di atas Foodcourt Kajen Junction.
Beberapa lapak berjajar rapi di bawah atap seng, lengkap dengan meja dan kursi kayu yang tertata.
Namun dari sekian banyak lapak, hanya segelintir yang buka. Sebagian besar meja justru kosong melompong, tanpa satu pun pembeli yang duduk menyantap makanan.
Di salah satu lapak nasi ayam suwir, Kristin, 36, duduk sendirian menunggu pembeli. Perempuan yang akrab disapa Bu Kristin ini merupakan karyawan yang mengelola lapak tersebut.
Bukan pemilik usaha, ia hanya bekerja mengikuti jam operasional yang sudah ditentukan.
“Dua bulanan,” ujar Kristin singkat saat ditanya sudah berapa lama berjualan di foodcourt yang terletak persis di seberang Alun-Alun Kajen tersebut.
Kristin mengaku, sejak awal berjualan di lokasi itu, kondisi ramai pembeli belum pernah ia rasakan. Setiap hari, dari pagi hingga malam, suasana foodcourt nyaris selalu lengang.
“Ini aku kalau keramaian belum tahu, sih, ya. Soalnya pas aku jalan di sini masih sepi terus,” katanya.
Ia berjualan mulai pukul 08.00 hingga 20.00 WIB. Namun jam operasional antar lapak di foodcourt itu ternyata tidak seragam. Ada yang buka sejak pagi, ada pula yang baru mulai berjualan sekitar pukul 10.00 dan tutup lebih larut, sampai pukul 22.00 WIB.
Menurut Kristin, lapak yang ia tempati sebelumnya pernah berganti-ganti pedagang dan jenis dagangan.
Ia menyebut, sebelum menjadi lapak nasi, tempat itu pernah dipakai berjualan kimbap, makanan gulung asal Korea, sebelum akhirnya berganti lagi ke pedagang lain.
“Ini kontrak,” kata Kristin saat ditanya status lapak yang ia tempati. Ia mengaku hanya bekerja sebagai karyawan toko dan tidak mengetahui berapa biaya sewa yang dibayar oleh pemilik usaha kepada pengelola foodcourt.
Sebelum menempati Kajen Junction, Kristin bercerita usaha yang ia bantu jalankan sebenarnya sudah lama berjualan di pinggir jalan, tepatnya di depan sebuah kantor ekspedisi.
Saat itu, kondisinya justru jauh lebih ramai dibanding sekarang setelah pindah ke dalam foodcourt.
“Kalau di jalan itu malah rame. Pas menjak-pindah ke sini, malah sepi,” ungkapnya.
Ia menuturkan, pemilik usaha memutuskan pindah ke foodcourt karena ingin berjualan lebih praktis, tanpa harus mendorong gerobak dan memasang tenda payung setiap hari seperti saat berjualan di pinggir jalan. Namun konsekuensinya, jumlah pembeli justru menurun drastis.
Minimnya promosi disebut Kristin sebagai salah satu penyebab sepinya foodcourt tersebut.
Ia mengaku dulu sempat mendengar cerita bahwa kawasan itu pernah ramai dan aktif dipromosikan, namun belakangan promosi itu sudah tidak lagi dilakukan.
“Kalau dulu memang rame. Kalau sekarang nggak ada promosi,” katanya.
Padahal, kata Kristin, harga makanan yang dijual di foodcourt tersebut cukup terjangkau.
Nasi telur misalnya, dibanderol mulai Rp 8.000, sedangkan nasi ayam suwir komplit dijual dengan harga Rp 15.000. Rata-rata menu di sana berkisar Rp12.000 per porsi.
“Sebenarnya, di dalam sini tuh aslinya murah-murah, sih. Cuma, ya, emang kurang itu tadi (promosi),” ujarnya.
Perbedaan mencolok terlihat saat akhir pekan. Kristin mengaku pada hari Minggu ia justru tidak berjualan di Kajen Junction, melainkan pindah ke kawasan Alun-Alun Kajen, tepatnya di depan Bank Jateng, dengan lapak meja sederhana.
Penghasilan yang ia dapatkan pun jauh berbeda. Jika di Alun-Alun pendapatan bisa mencapai kisaran satu juta rupiah dalam sehari, di foodcourt Kajen Junction, mendapatkan omzet Rp 50.000 saja disebutnya sudah cukup sulit.
“Kalau di sini cari uang segitu (Rp50 ribu) tuh susah. Dari pagi sampai malam. Kalau di sana (Alun-Alun) bisa sampai seribu (sejuta) juga dapat,” bebernya.
Kondisi sepi pengunjung inilah yang menurut Kristin membuat banyak pedagang lain akhirnya berhenti berjualan dan pindah dari foodcourt tersebut.
Beberapa lapak yang dulu terisi kini kosong dan belum ditempati pedagang baru.
Ia menambahkan, dulu area parkir Kajen Junction sempat dipenuhi sepeda motor pengunjung.
Bahkan pernah ada pihak yang datang melakukan semacam survei terkait penghasilan pedagang di kawasan tersebut. Namun kondisi itu kini tinggal cerita.
“Sebelumnya ke parkiran motornya sampai penuh banget. Sekarang enggak,” katanya.
Meski demikian, Kristin mengaku belum pernah melihat adanya penertiban dari petugas terhadap para pedagang di kawasan Kajen Junction, berbeda dengan penertiban yang kerap terjadi di jalan-jalan besar sekitar Kajen.
Ia tetap bertahan berjualan di foodcourt tersebut, sembari berharap suasana ramai seperti dulu bisa kembali hadir, jika saja promosi terhadap kawasan itu digencarkan kembali. (lailatus.syarifah/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan