Taklukkan Kampus-Kampus Top Indonesia, Mahasiswi UIN Pekalongan Buktikan Juara Debat Hukum dari Air Mata dan Kerja Keras

Magang • Dipublikasikan Minggu, 19 Juli 2026 | 13:05 WIB
PANTANG PUTUS ASA : Tim debat hukum UIN Gus Dur yang  berhasil meraih juara I kompetisi debat nasional di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (LAILATUS SYARIFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
PANTANG PUTUS ASA : Tim debat hukum UIN Gus Dur yang berhasil meraih juara I kompetisi debat nasional di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. (LAILATUS SYARIFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Di tengah kesibukan Kuliah Kerja Nyata (KKN), Nur Khasanah tetap konsisten mengasah kemampuan debat hukumnya. 

Perjuangannya berbuah manis ketika ia dan timnya dinobatkan sebagai Juara 1 dalam kompetisi debat nasional yang mempertemukan puluhan perguruan tinggi ternama se-Indonesia.

Berawal dari aktivitas kampus di Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, nama Nur Khasanah kini mulai dikenal luas sebagai salah satu talenta debat hukum yang menjanjikan.

Mahasiswi Program Studi (Prodi) Hukum Ekonomi Syariah semester 6 ini tengah menjalani KKN di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Namun kesibukan itu tidak membuatnya berhenti mengembangkan diri di dunia debat.

Di sela-sela program pengabdian masyarakat tersebut, Khasanah tetap aktif mengikuti berbagai kegiatan kemahasiswaan, bekerja freelance di beberapa perusahaan di Kabupaten Pekalongan, sekaligus mempersiapkan diri untuk kompetisi debat dan penyelesaian tugas akhir.

Ketertarikan Khasanah pada dunia debat sebenarnya sudah tumbuh sejak duduk di bangku SMA. Saat itu ia kerap dipercaya menjadi pembawa acara (MC) di berbagai kegiatan sekolah dan aktif dalam kegiatan Pramuka,.Dua ruang itu menempanya terbiasa berbicara di depan umum.

“Ketika memasuki dunia perkuliahan, saya melihat bahwa kemampuan berbicara di depan umum perlu terus diasah dan diarahkan agar lebih bermanfaat. Karena itu, saya tertarik mengikuti debat hukum,” ujar Khasanah.

Menurutnya, debat bukan sekadar ajang menyampaikan pendapat dengan percaya diri, melainkan juga melatih kemampuan berpikir kritis, menyusun argumentasi logis, hingga mempertahankan pendapat berdasarkan data dan dasar hukum.

Dari sanalah ketertarikannya pada dunia debat terus tumbuh hingga ia aktif mengikuti berbagai kompetisi.

Salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan Khasanah adalah saat mengikuti kompetisi debat nasional di UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Ajang ini mempertemukan berbagai perguruan tinggi ternama, di antaranya Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Brawijaya, IAIN Kudus, Universitas Mataram, hingga sejumlah kampus dari Sumatra dan daerah lainnya.

Persiapan menuju kompetisi tersebut jauh dari kata mudah. Bersama timnya, Khasanah berlatih hingga larut malam, bahkan tak jarang baru beristirahat pukul tiga dini hari.

Rasa lelah dan tekanan sempat membuat mereka putus asa hingga menangis karena khawatir tidak mampu memberikan hasil terbaik.

“Ada rasa lelah, tekanan, bahkan momen ketika kami merasa putus asa hingga menangis. Namun semua proses itu justru menguatkan tekad kami untuk terus berjuang,” kenangnya.

Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Ketika nama tim mereka diumumkan sebagai Juara 1, seluruh rasa lelah, air mata, dan pengorbanan selama proses latihan seolah terbayar lunas.

“Keberhasilan tidak datang secara instan, melainkan melalui kerja keras, konsistensi, dan keyakinan untuk terus berusaha meskipun menghadapi banyak tantangan,” tuturnya.

Di balik prestasinya, Khasanah mengaku rasa gugup dan lelah tetap kerap menghampirinya, bahkan hingga saat ini.

Ia mengatasinya dengan mempersiapkan materi sebaik mungkin, berlatih secara konsisten, dan menjaga pola pikir agar tetap tenang.

Saat menghadapi kekalahan, ia memilih untuk tidak larut lama dalam kekecewaan, melainkan mengevaluasi kekurangan dan meminta masukan dari pelatih maupun rekan tim.

“Bagi saya, setiap kekalahan adalah kesempatan untuk menjadi lebih baik,” ujarnya.

Bagi Khasanah, pelajaran terbesar yang ia peroleh dari dunia debat adalah pentingnya proses belajar yang tidak pernah berhenti.

Debat mengajarkannya untuk berpikir kritis, menghargai sudut pandang orang lain, menerima kritik dengan lapang dada, dan tetap rendah hati ketika berhasil.

Ia juga meyakini bahwa kemampuan berkomunikasi yang baik harus diimbangi dengan kemampuan mendengar, nilai yang menurutnya bukan hanya bermanfaat saat berkompetisi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja kelak.

Di akhir perbincangan, Khasanah menitipkan pesan bagi generasi muda yang masih ragu untuk memulai suatu hal baru.

“Jangan pernah menunggu merasa sempurna untuk memulai. Semua orang yang berprestasi juga pernah menjadi pemula dan pernah mengalami kegagalan. Rasa takut itu wajar, tetapi jangan sampai membuat kita berhenti mencoba. Beranilah mengambil kesempatan, karena pengalaman yang kita dapatkan jauh lebih berharga daripada sekadar hasil akhir,” pesannya, mengakhiri perbincangan pada Minggu 19 Juli 2026. (lailatus.syarifah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
debat hukum nasional fakultas hukum UIN Gus Dur Pekalongan