METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Sosok pemuda yang namanya hampir dikenal seluruh mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini bernama Wahdi Aufa Sabili, 21.
Pria yang berasal dari Kabupaten Pemalang ini tak hanya berkutat dengan buku kuliah, tapi mengembangkan usaha sejak dini di bidang media, bernama Weasmedia.
Wahdi Aufa Sabili - yang akrab disapa Mas Aufa - bercerita tentang ketertarikannya di dunia fotografi.
Saat bersekolah di SMK Rifaiyah Kesesi, ia kebetulan mengambil jurusan multimedia. Namun, hobi mengedit foto sendiri ia lakoni sejak kecil (MTs).
Gayung bersambut, saat duduk di bangku SMK kerap mendapatkan tugas untuk mendokumentasikan acara akhirussanah di sebuah TPQ. Bahkan mendapatkan upah sebesar Rp 400.000 untuk tiga orang.
Ia sendiri mendapatkan Rp 100.000 setelah dibagi rata dengan yang lain dan penyewaan kamera Rp 100 ribu. Mendapatkan upah ratusan ribu saat sekolah, merupakan sebuah pencapaian cukup besar kala itu.
Saat pertengahan magang di sebuah media untuk kewajiban PKL SMK, Aufa sempat memiliki pengalaman yang kurang mengenakkan.
Ia membeli laptop second yang ternyata jauh dari kata bagus, padahal harganya lebih dari Rp 4 juta.
Kala itu, dananya sempat dikembalikan, setelah mengajukan complain. Tapi memang harus menunggu hingga enam bulan sampai uangnya kembali.
Hal itu sempat membuatnya kecewa, karena uang yang digunakan untuk membeli laptop adalah pemberian orang tua, sehingga ada rasa penyesalan.
Sampai akhirnya memutuskan untuk sekolah sembari bekerja di tempat magang. Itu dia ambil setelah pulang sekolah atau hari libur sekolah. Tidak hanya itu, ia juga membantu bersih-bersih studio multimedia di SMK.
Dirinya setiap hari harus berangkat lebih awal dari teman-temannya, demi melaksanakan tugas tersebut.
Dari membantu membersihkan ruang studio dan ikut kerja di tempat magang, Aufa berhasil mengumpulkkan uang. Uang itu langsung ia manfaatkan dengan membeli kamera Canon 1300d.
Karena ketertarikan dan usahanya itulah, Aufa kemudian meneruskan kariernya sambil bersekolah. Dan lanjut hingga duduk di bangku perkuliahan saat ini.
Weasmedia Adalah sebuah media mandiri yang dibentuk pada 22 Juli 2022. Project syuting dari sebuah TPQ menjadi yang pertama.
Weasmedia merupakan singkatan dari nama Wahdi Aufa Sabili. Namun agar mudah mengucapkannya, diibah menjadi Weas.
Tak hanya itu, menggunakan nama Weas media, juga termotivasi dari salah satu pemilik Transmedia yakni CT atau lebih dikenal Chairul Tanjung.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya sebenarnya ingin namanya lebih unik, akhirnya Weasmedia itu ditetapkan.
"Tapi sebenarnya awalnya saya mendapat project dari TPQ buat syuting dan dokumentasi. Terus saya bingung menamai brand saya. Akhisnya mencomot kata Weasmedia, yang berasal dari nama saya sendiri," ungkapnya saat diwawancara Jawa pos Metro Pekalongan Sabtu 18 Juli 2026.
Saat awal berdiri, Weasmedia dihandle langsung oleh Aufa tanpa ada tim di belakangnya. Semua pekerjaan ia lakoni satu demi satu, mulai dari kamera, alat dan perlengkapannya.
Waktu kuliah, atau tepatnya sejak tahun 2024 memasuki semester 2, Aufa baru memiliki tim yang bergabung di Weasmedia.
Usahanya kini berkembang, tidak hanya jasa dokumentasi, videografi, fotografi, live streaming, tapi juga ada sewa alat-alatnya, seperti kamera, drone, kabel, proyektor, dan masih banyak lagi.
Menurutnya, peluang multimedia saat ini cukup banyak. Tak ada kamera, maka tak ada yang diabadikan. Oleh sebab itu, Aufa berangkat dari ketelatenannya memfoto, mengedit, dan memvideo, kini menjadi mata pencahariannya.
Saat ditanyai bagaimana membagi waktu antara kuliah dan bekerja, Aufa harus keras menjaga kedisiplinannya. Pada semester awal perkuliahan, ia harus mengorbankan waktu antara kuliah dan pekerjaannya.
Perkuliahan memang memberi kesempatan izin empat kali, dan Aufa benar-benar memanfaatkan waktu tersebut untuk menyelesaikan pekerjaan yang juga menjadi kewajibannya.
Apalagi, tantangan terjun di bisnis media cukup kompleks, terutama trouble atau kendala teknis lapangan yang tidak terduga.
Saat seluruh perlengkapan sudah dicek, namun saat di lokasi bisa saja terjadi trouble sehingga harus membawa lebih banyak backup peralatannya.
Di sisi lain, dia juga harus merelakan waktu bersama teman-teman seperjuangannya di bangku kuliah, untuk tetap bekerja. Tidak bisa pulang bareng atau main bareng.
“Walau agak sedih, tapi tetap bangga. Karena dengan kuliah sambil bekerja, mendapatkan pengalaman yang jauh lebih banyak dan sudah memiliki sumber penghasilan,” tuturnya.
Aufa juga turut memberikan pesan kepada generasi muda, untuk tetap semangat dan kerja keras, karena proses dan pengalaman itu jauh lebih berharga.
"Khususnya untuk mahasiswa KPI, kalau ada kesempatan, ambil saja. Bisa jadi kesempatan itulah yang akan membuka jalan karier kalian,” tutur Aufa sambil bercanda.
Aufa juga memberi pesan yang mendalam kepada mahasiswa yang sedang meniti karier di luar sana, untuk jangan terlalu memandang seberapa hasil dari pekerjaan yang dilakoni.
"Jangan terlalu memandang nominal saat baru merintis, kalau ada kesempatan ambil. Nggak usah terlalu berharap berapa jumlah, kalau suatu saat nanti berjalan, insyaallah pasti akan nambah-nambah sendirj kok, yang penting terus belajar," pungkasnya. (maulida.usna.aulia/ida)
Editor : Ida Nor LaylaSumber : Metro Pekalongan