Wahidin Berusia 70 Tahun Sudah Setahun Susuri Jalanan Kajen, Tetap Jual Balon Keliling Meski Kadang Sepi Pembeli

Magang • Dipublikasikan Senin, 20 Juli 2026 | 18:24 WIB
BERJALAN KAKI : Wahidin, 70, menawarkan balon karakter dan topeng kepada pengendara yang berhenti di pinggir jalan kawasan Kajen, Senin 20 Juli 2026. (LAILATUS SYARUFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
BERJALAN KAKI : Wahidin, 70, menawarkan balon karakter dan topeng kepada pengendara yang berhenti di pinggir jalan kawasan Kajen, Senin 20 Juli 2026. (LAILATUS SYARUFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Di usianya yang sudah kepala tujuh, Wahidin masih memilih turun ke jalan setiap hari. 

Bukan untuk sekadar jalan-jalan, melainkan berjualan balon aneka karakter dan topeng, dipikul dengan rangka bambu yang ia bawa berkeliling kawasan Kajen dengan berjalan kaki.

Siang itu, Senin 20 Juli 2026, matahari masih terik ketika Wahidin melangkah pelan menyusuri tepi jalan raya di kawasan Kajen.

Di pundaknya tersampir rangka bambu sederhana, tempat puluhan balon karakter—mulai bebek kuning, Doraemon, hingga topeng-topeng warna-warni—digantungkan berdesakan.

Sesekali ia berhenti ketika ada pengendara motor yang melambatkan laju kendaraannya, tertarik melihat balon-balon yang bergoyang tertiup angin.

Sehelai handuk kecil tersampir di kepalanya, menahan terik matahari yang membakar sepanjang perjalanan.

Bertahun-tahun menjajakan mainan dengan cara yang sama, Wahidin mengaku sudah terbiasa dengan rute panjang yang harus ditempuh setiap hari.

“Sudah lebih dari setahun jalan kaki begini, keliling terus,” tuturnya sambil merapikan tali-tali balon yang mulai kusut, Senin 20 Juli 2026.

Dagangannya bukan cuma balon karakter anak-anak. Di sela-sela rangka bambu, tergantung pula sejumlah topeng dengan aneka rupa wajah, salah satunya berbentuk kepala gajah, yang menurutnya cukup diminati oleh anak-anak yang lewat bersama orang tuanya.

Soal hasil jualan, Wahidin tak menampik bahwa rezekinya tidak selalu sama setiap hari. Ada kalanya balon-balon dagangannya laku terjual dalam jumlah lumayan, namun tidak jarang pula ia harus pulang dengan barang dagangan yang nyaris tak berkurang.

“Kadang laku, kadang enggak. Namanya juga jualan keliling,” ujarnya.

Meski begitu, ia tetap menjalani rutinitas yang sama nyaris setiap hari, berjalan dari satu sudut jalan ke sudut jalan lain di kawasan Kajen, menunggu ada pembeli yang tertarik menghentikan langkahnya.

Di balik kegigihannya berjalan kaki keliling kawasan Kajen, Wahidin sebenarnya bukan tanpa keluarga yang bisa diandalkan. Ia memiliki tiga anak yang kini sudah bekerja dan hidup mandiri masing-masing.

Namun, alih-alih memilih beristirahat dan bergantung pada anak-anaknya, Wahidin tetap memilih turun ke jalan setiap hari.

Menurutnya, selama tubuhnya masih kuat berjalan, ia ingin tetap mencari uang sendiri untuk menghidupi dirinya, tanpa merepotkan anak-anaknya yang sudah punya tanggungan dan kesibukan masing-masing.

Pandangan senada disampaikan salah seorang pemilik toko di kawasan Kajen yang mengaku kerap melihat Wahidin melintas di depan tokonya hampir setiap hari.

“Hampir tiap hari lewat sini, jam segini biasanya. Kadang mampir istirahat sebentar, kadang cuma lewat saja,” ujarnya.

Di tengah teriknya matahari dan beratnya beban yang dipikul, Wahidin tak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti.

Baginya, selama masih mampu berjalan, jualan balon keliling akan terus ia lakoni sebagai jalan mencari rezeki di usia senja. (lailatus.syarifah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
kajen pekalongan jualan balon usia senja kabupaten Pekalongan