Dulu Diejek ‘Anak Buruh Tani Sok Kuliah', Khoerul Adnani Jadi Lulusan UIN Gus Dur 2025 dengan Segudang Prestasi

Magang • Dipublikasikan Selasa, 21 Juli 2026 | 23:58 WIB
PANTANG PUTUS ASA : Khoerul Adnani, 22, anak petani lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan dengan segudang prestasi. (MAULIDA USNA AULIA/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
PANTANG PUTUS ASA : Khoerul Adnani, 22, anak petani lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan dengan segudang prestasi. (MAULIDA USNA AULIA/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Kajen- Setiap orang punya proses berbeda untuk melangkah maju. Adalah Khoerul Adnani, 22, lulusan Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan dengan segudang prestasi.

Berhasil menjuarai lomba-lomba pidato dan da'i. Di antaranya Lomba Pidato Hari Santri Nasional 2022 di Ponpes Hidayatul Mubtadi'ien Bojong, Lomba da'i Porseda 2020, Juara I Duta Gender UIN Gus Dur, sempat menjadi terbaik 2 Duta Aksi Nusantara 2024, dan masih banyak prestasi yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Namun prestasi tersebut diraih - Khoerul Adnani yang akrab disapa Adnan - lewat proses hidup yang banyak luka dan cemoohan. Kendati begitu, hal itu tak membuatnya putus asa, justru menguatkan tekadnya untuk mematahkan stigma negatif masyarakat.

Adnan lahir dari keluarga sederhana dengan orang tua yang bekerja sebagai buruh tani. Justru Karena itulah, minat awalnya sama sekali tidak berada di dunia panggung atau dakwah.

Saat masih di bangku Sekolah Dasar (SD), ia justru lebih akrab dengan dunia seni lukis, musik, dan teater. Namun, keluarganya menganggap prestasi seni visual itu hal biasa.

Menurut anggapan keluarga besarnya saat itu, anak pintar adalah anak yang berani tampil dan berbicara di depan umum.

Motivasinya kian terpicu ketika menonton acara AKSI Junior di televisi. Celetukan sang ibu yang berharap dirinya bisa tampil seperti para penceramah cilik menjadi pemantik awal keberaniannya.

Dari sanalah ia mulai memberanikan diri menjadi pembawa acara (MC) dan belajar berpidato secara mandiri di jenjang SMP.

Namun, langkah awal tersebut sempat terhenti total. Tak memiliki pembimbing resmi, Adnan kerap menelan kekalahan dalam perlombaan pidato. Yang paling meremukkan mentalnya bukanlah kegagalan lomba, melainkan ujaran kebencian dari lingkungan sekitar. Seorang tetangganya bahkan melontarkan ucapan tajam yang meremehkannya.

Tekanan sosial itu terus berlanjut hingga ia beranjak dewasa. Sebagai anak buruh tani yang bertekad menempuh pendidikan tinggi, ia kerap menjadi bahan gunjingan warga sekitar yang merendahkannya. Hal itu sempat membuat Adnan mengurung diri karena trauma.

Namun titik balik perjalanan hidupnya terjadi saat ia tinggal di pondok pesantren selepas SMA. Sang kiai secara mengejutkan mempercayakan Adnan untuk menjadi pembina ekstra khitobahan (pidato).

Didorong amanah sang guru, Adnan bangkit. Ia belajar secara otodidak melalui buku-buku di perpustakaan sekolah, demi menyusun materi bimbingan.

Hasilnya menakjubkan, para santri binaannya berhasil menyapu bersih gelar juara dalam berbagai ajang lomba pidato.

Melihat keberhasilan murid-muridnya, Adnan kembali menantang dirinya sendiri untuk ikut berlomba. "Murid saya aja yang diajari saya bisa menang, masa sayanya enggak bisa?"

Semangat pembalasan dendam secara positif pun berkobar. Ia bertekad mematahkan anggapan bahwa takdir anak buruh tani tetap menjadi buruh tani, tanpa masa depan terang.

"Saya berangkat dari balas dendam karena mau membuktikan kalau anak buruh tani tidak harus jadi petani. Makanya semua prestasi ini merupakan buah dari kesabaran dan tekad untuk membuka mata bagi orang-orang yang merendahkan saya." jelas Adnan, saat diwawancara Jawa Pos Metro Pekalongan Selasa 21 Juli 2026.

Proses panjang yang bermula dari "dipaksa, terpaksa, bisa, hingga luar biasa" tersebut ia resapi. Bahkan jadi prinsip dan moto hidupnya.

Kendati pernah dipandang sebelah mata, Adnan bersyukur selama berkuliah di UIN Gus Dur, ia dikelilingi oleh lingkungan dan rekan-rekan organisasi yang selalu membawa dampak positif baginya.

Adnan pun berpesan kepada sesama penerima Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) serta anak-anak muda yang sedang berjuang di tengah keterbatasan.

“Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk berhenti tumbuh. Justru jadikanlah keterbatasan kalian sebagai kekuatan dan motivasi untuk bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik lagi. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna," tutupnya optimistis. (maulida.usna.aulia/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
Khoerul Adnani sosok inspiratif UIN Gus Dur Pekalongan