Muhammad Rifqul Insani, Mahasiswa UIN Gus Dur Buktikan Suara Merdunya Layak Diganjar Medali Emas

Magang • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 15:11 WIB
UKIR PRESTASI : Mahasiswa semester dua Program Studi (Prodi) Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, Muhammad Rifqul Insani berhasil menorehkan prestasi. (LAILATUS SYARIFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)
UKIR PRESTASI : Mahasiswa semester dua Program Studi (Prodi) Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, Muhammad Rifqul Insani berhasil menorehkan prestasi. (LAILATUS SYARIFAH/JAWA POS METRO PEKALONGAN)

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Di sela kesibukannya sebagai mahasiswa semester dua Program Studi (Prodi) Bimbingan Penyuluhan Islam (BPI), Universitas Islam Negeri (UIN) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pekalongan, Muhammad Rifqul Insani berhasil menorehkan prestasi. Juara Qori Nasional. 

Siang itu, ia berdiri dengan senyum lebar sambil memegang sebuah sertifikat penghargaan berbingkai hitam, tanda bahwa medali emas yang baru saja diraihnya.

Ini adalah buah dari 13 tahun perjalanan menempa diri dalam seni membaca Alquran, sebuah proses panjang yang dimulai jauh sebelum ia mengenakan status mahasiswa.

Kisah Rifqul menekuni seni membaca Alquran bermula pada tahun 2013, ketika ia masih duduk di bangku kelas dua sekolah dasar (SD), bertahun-tahun sebelum akhirnya ia resmi menyandang status mahasiswa UIN Gus Dur Pekalongan.

Saat itu, dorongan dari orang tua dan gurunya, Sholikhati, menjadi titik awal yang membentuk kecintaannya pada ilmu tilawah.

"Berkat dorongan dan semangat dari orang tua dan guru pada saat itu, saya digembleng untuk terus berlatih mendalami seni baca Alquran," kenang Rifqul yang kini aktif menjalani perkuliahan sambil ditemui di kampusnya, Senin 10 Agustus 2026.

Perjalanan itu berlanjut ketika Rifqul menempuh pendidikan di bangku SMP. Di sanalah ia dipertemukan dengan sosok yang kelak menjadi mentor sekaligus panutan dalam hidupnya, seorang guru bergelar Qori Nasional bernama Ibu Nur Jihan.

Pertemuan tersebut, menurut Rifqul, menjadi pemantik semangat yang menyalakan kembali tekadnya untuk terus berproses.

"Mulai dari situlah tekad dan semangat saya menggebu-gebu. Dari situ juga, saya mendapatkan pengalaman yang sangat luar biasa semasa berproses dengan beliau. Beliau bukan hanya guru, melainkan sosok yang begitu berkesan bagi saya sewaktu berproses," ujar Rifqul.

Namun jalan yang ditempuh Rifqul tidak selalu mulus. Ia mengaku pernah mengalami masa-masa sulit ketika rasa percaya diri terhadap kemampuannya sendiri menurun drastis.

Bahkan sempat memilih untuk vakum berlatih semasa duduk di bangku sekolah dasar. Rasa bosan dan keraguan kerap menghampiri di tengah proses panjang yang ia jalani.

"Saya juga sempat vakum latihan sewaktu masih SD, dikarenakan kurangnya percaya terhadap kemampuan sendiri dan sempat merasa bosan pada saat berproses. Tetapi itu semua tidak sampai menjadikan saya untuk berhenti berproses, berkat motivasi dari orang tua dan orang sekitar," tuturnya.

Keraguan itu, kata Rifqul, juga kerap muncul setiap kali ia dipertemukan dengan peserta lomba lain yang memiliki jam terbang dan kemampuan yang tak kalah mumpuni. Meski begitu, ia memilih untuk tidak menjadikan rasa ragu tersebut sebagai alasan untuk mundur.

"Ragu itu wajar, apalagi ketika bertemu dengan peserta lain yang memiliki kemampuan dan pengalaman yang luar biasa. Tetapi saya mencoba untuk tidak menjadikan keraguan itu sebagai alasan untuk berhenti. Saya lebih memilih fokus pada apa yang bisa saya lakukan, memperbaiki kekurangan, dan berusaha memberikan penampilan terbaik," kata Rifqul.

Ia menambahkan, pencapaian yang diraihnya bukan semata hasil usaha pribadi. Ada doa, dukungan, dan bimbingan dari orang-orang di sekitarnya yang turut menjadi penopang selama proses panjang tersebut berlangsung.

Bagi Rifqul, medali emas yang kini digenggamnya memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar bukti kemenangan.

Penghargaan itu menjadi pengingat bahwa proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh, sekalipun melelahkan dan diwarnai keraguan, pada akhirnya akan membuahkan hasil yang berarti.

Baginya, gold medal ini bukan sekadar sebuah medali atau bukti bahwa keberhasilan menjadi juara, melainkan prestasi ini menjadi pengingat.

Bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh, meskipun terkadang melelahkan dan penuh keraguan, akhirnya akan memberikan hasil yang berarti.

“Saya juga belajar bahwa prestasi tidak selalu datang dari orang yang paling hebat sejak awal, tetapi bisa lahir dari orang yang ingin terus belajar, berlatih, dan tidak mudah menyerah," ungkapnya.

Di akhir perbincangan, Rifqul menitipkan pesan khusus bagi rekan-rekan sesama mahasiswa yang tengah berjuang mengejar prestasi di tengah padatnya jadwal perkuliahan.

Menurutnya, kunci utama bukan terletak pada seberapa cepat hasil didapatkan, melainkan pada konsistensi menjalani proses meski berstatus sebagai mahasiswa aktif.

"Untuk teman-teman mahasiswa yang sedang berusaha mengejar prestasi, jangan terlalu takut dengan kegagalan dan jangan terlalu sibuk membandingkan proses kita dengan orang lain. Fokus saja memperbaiki diri dan menjalani proses dengan konsisten. Karena terkadang hasil terbaik tidak datang ketika kita mengejarnya dengan tergesa-gesa, tetapi ketika kita benar-benar menikmati dan menghargai setiap proses yang kita jalani," pungkas Rifqul, mahasiswa semester dua yang kini tengah menata jadwal antara kuliah dan latihan tilawah.

Kini, meski kesibukan sebagai mahasiswa kian bertambah, Rifqul tetap melanjutkan proses belajarnya bersama Ibu Nur Jihan, sosok yang telah membersamai perjalanannya sejak bangku SMP hingga hari ini.

Baginya, perjalanan menekuni seni baca Al-Qur'an belum berakhir di titik ini, melainkan masih terus berlanjut seiring dengan tekadnya untuk terus belajar dan memperbaiki diri di bangku kuliah. (lailatus.syarifah/ida)

Editor : Ida Nor Layla
Sumber : Metro Pekalongan
juara qori nasional sosok inspiratif UIN Gus Dur Pekalongan