METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Acara musik atau konser bertajuk Dianaria Festival di Panorama 25 Bojong, Kabupaten Pekalongan, Sabtu (15/8/2026) malam, diwarnai kericuhan.
Puluhan penonton dan aparat kepolisian dilaporkan terluka. Mobil milik band penampil tak luput rusak terkena lemparan batu.
Konser menghadirkan sejumlah grup musik yakni Burgerkill, The Panturas, Rebellionrose, Superiots, Three Sixty, Romi&The Jahats, Over Distortion, Strangers, Trapinside, DKOD, Pabean Hardcore, Sun Free Day, hingga The Jeblogs.
Kericuhan diduga bermula dari orang-orang yang tidak mengantongi tiket berusaha menerobos menuju area konser. Mereka yang berada di luar arena ini, melempari batu.
Kapolres Pekalongan AKBP Rachmad C. Yusuf mengonfirmasi benarnya peristiwa tersebut. Namun menurut dia, kericuhan berlangsung singkat dan konser tetap berlanjut hingga selesai.
"Konser memang sempat ricuh. Setahu saya gara-gara orang menumpuk, nggak beli tiket masuk," kata Rachmad
Kasat Reskrim Polres Pekalongan AKP Fauzi Surya Chandra mengatakan, polisi mengamankan satu orang dalam konser tersebut.
Namun, penangkapan itu bukan terkait kerusuhan maupun dugaan perusakan kendaraan.
"Betul kami amankan satu orang terkait pemalsuan tiket. Untuk perusakan mobil sampai saat ini belum ada laporan," kata Fauzi.
Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pekalongan mencatat, sekitar 30 penonton mendapat penanganan di posko kesehatan.
Mereka rata-rata mengalami lebam di bagian mata, luka sobek, hingga keseleo.
Sementara sejumlah petugas keamanan dan polisi yang mengalami luka ditangani di Puskesmas. Jumlah petugas yang terluka ini belum diketahui.
Mobil The Jeblogs dikabarkan turut terdampak kericuhan. Dalam unggahan akun Instagramnya, grup tersebut memperlihatkan kondisi mobil yang digunakan.
Beberapa bagian bodi terlihat penyok, sedangkan kaca depan retak.
"Lain kali yang kondusif my fren. Btw, kita pulangnya gimana ini?" tulis The Jeblogs di akun instagram resmi mereka.
Kericuhan tersebut mendapat sorotan dari konten kreator musik sekaligus MC (master of ceremony) acara, Emyunip.
Menurut dia, aksi penonton yang memaksa masuk tanpa tiket justru merugikan banyak pihak, termasuk penonton yang sudah membeli tiket.
Dia menyebut dampak kericuhan bisa lebih panjang. Ia khawatir insiden tersebut membuat promotor maupun musisi berpikir ulang menggelar pertunjukan di Kabupaten Pekalongan.
"Band-band mungkin akan malas datang ke Pekalongan. Promotor-promotor juga mungkin bingung kalau mau bikin acara di Pekalongan," katanya. (nra)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan