METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Gerakan literasi di Kabupaten Pekalongan masih menghadapi pekerjaan rumah besar.
Dari 285 desa/kelurahan yang ada, baru 183 yang tercatat memiliki perpustakaan desa. Itu berarti masih ada 102 desa/kelurahan yang belum memiliki perpustakaan desa.
Kondisi tersebut menjadi sorotan dalam Festival Literasi Kabupaten Pekalongan 2026 yang dibuka di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan, Kajen, Kamis (20/8/2026).
Dari 183 perpustakaan desa yang sudah tercatat, baru 11 perpustakaan yang telah terakreditasi.
Bunda Literasi Kabupaten Pekalongan Galuh Kirana Dwi Areni mengakui, capaian literasi daerah masih menjadi tantangan.
Berdasarkan capaian 2023, Kabupaten Pekalongan masih rendah dalam Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) di Jawa Tengah.
“Tahun 2023 kita masih mendapatkan predikat yang, mohon maaf, peringkat dua terendah untuk IPLM dan satu terendah untuk TGM,” kata Galuh.
Baca Juga: Roadshow Bunda Literasi Ajarkan Kreativitas dan Digital
Menurut dia, kondisi tersebut tidak bisa diselesaikan hanya oleh satu instansi. Gerakan literasi harus dibangun secara berjenjang dan melibatkan berbagai unsur hingga tingkat desa.
Galuh menegaskan, peningkatan literasi juga tidak boleh berhenti pada upaya memperbaiki angka indeks.
Tujuan akhirnya adalah membangun kesadaran masyarakat agar mampu memahami, mengolah, dan menggunakan informasi secara tepat.
Festival Literasi Kabupaten Pekalongan 2026 mengusung tema Menyalakan Aksara, Menggerakkan Masa Depan. Selama festival, sejumlah kegiatan digelar.
Di antaranya gelar wicara literasi keuangan bersama OJK dan Bank Indonesia, literasi digital, bimbingan teknis mendongeng dan read aloud, bedah buku, pelatihan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS), pentas seni, serta pameran buku, arsip, dan naskah kuno. (nra)
Editor : Adityo Dwi Riyantoto
Sumber : Metro Pekalongan