Dua ekor predator dengan variasi warna berbeda itu terekam kamera jebak (camera trap).
Rekaman berdurasi sekitar 25 detik tersebut memperlihatkan dua macan tutul melintas di jalur yang sama.
Macan pertama berwarna hitam pekat atau morf melanistik yang dikenal warga sebagai macan kumbang.
Berikutnya, seekor macan dengan pola totol atau rosette khas macan tutul Jawa juga melintas di depan kamera.
Dalam rekaman, macan tutul melanistik tampak berjalan perlahan melewati jalur yang dipenuhi serasah daun.
Beberapa detik kemudian, macan tutul berpola totol muncul dari arah berbeda, sempat menghadap kamera sebelum kembali masuk ke hutan.
Kamera jebak itu dipasang melalui gerakan konservasi masyarakat yang dilakukan Paguyuban Petani Muda (PPM) Desa Mendolo bersama Swara Owa. Rekaman diperkirakan diambil sekitar 21 Agustus lalu.
Manager Biodiversitas Swara Owa Kurnia Ahmadin menjelaskan, kemunculan macan tutul di sekitar kawasan hutan juga diduga berkaitan dengan kondisi musim kemarau.
Saat kondisi tertentu, satwa liar berpotensi bergerak lebih dekat ke kawasan yang berbatasan dengan permukiman untuk mencari mangsa.
"Mungkin karena kemarau, macan-macan ini pada berburu di dekat-dekat kampung," jelasnya.
Terkait jumlah populasi macan tutul Jawa di kawasan Petungkriyono-Lebakbarang, Swara Owa menyebut survei secara lebih luas telah dilakukan pada 2024 oleh tim SINTAS bersama Kementerian.
Namun, hingga kini data estimasi populasi tersebut belum dipublikasikan secara resmi.
Meski angka pastinya belum diketahui, kondisi populasi di kawasan tersebut dinilai cukup baik.
"Termasuk yang banyak di Jawa. Ya, boleh dikatakan termasuk yang paling bagus di Jawa," ungkapnya.
Kepala Desa Mendolo Kaliri mengatakan, keberadaan macan tutul sebenarnya sudah kerap diketahui warga. Namun, selama ini sulit memastikan keberadaannya karena belum ada dokumentasi melalui kamera.
“Sebenarnya sering muncul, tapi tidak ketahuan. Karena sebelumnya tidak pernah dipasang kamera, jadi tidak ada yang tahu pasti,” ujarnya.
Bagi warga Mendolo, keberadaan satwa tersebut tidak dipandang sebagai ancaman. Kaliri justru meminta ekosistem hutan tetap dijaga, termasuk keberadaan satwa yang menjadi mangsa predator.
“Yang penting kita saling menjaga. Karena semua hewan yang ada di hutan itu terlindungi,” katanya. (nra)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan