METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Persekap Kabupaten Pekalongan genap berusia 77 tahun pada 4 September lalu. Tapi, klub yang berdiri sejak 1949 tersebut sama sekali belum memiliki gelar. Saat ini Persekap juga masih tertahan di kasta terbawah kompetisi nasional, Liga 4.
Kondisi itu kembali memantik sorotan suporter. Pembenahan dinilai perlu dilakukan menyeluruh, mulai manajemen klub, pembinaan pemain, kompetisi internal, hingga fasilitas Stadion Widya Manggala Krida (WMK) Kedungwuni yang menjadi markas Persekap.
Perwakilan suporter Persekap Katank Nusantara menyebut, usia 77 tahun semestinya menjadi momentum evaluasi sekaligus kebangkitan klub berjuluk Laskar Ki Ageng Cempaluk tersebut. “Masalah terbesar sepak bola Pekalongan hari ini adalah terputusnya rantai pembinaan. Kompetisi internal Askab PSSI Kabupaten Pekalongan mati suri,” ujar Katank.
Selain pembinaan, fasilitas Stadion WMK juga dinilai membutuhkan pembenahan. Stadion yang dibangun pada 1987 di atas lahan bekas sawah Kompleks Gemek itu memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Kabupaten Pekalongan.
Namun, sejumlah fasilitas seperti kursi tunggal, lampu penerangan, toilet, dan ruang ganti masih perlu ditingkatkan. Katank berharap pembenahan Persekap tidak dilakukan secara parsial. Manajemen, infrastruktur, pendanaan, kompetisi internal, hingga pengelolaan pemain tarkam perlu disusun dalam satu sistem pembinaan yang berkelanjutan.
“Di usia ke-77 tahun, Persekap boleh menua. Tapi semangat Laskar Ki Cempaluk tidak boleh ikut menua,” tegasnya.
Sementara itu, Plt Bupati Pekalongan Sukirman mengatakan Pemkab Pekalongan akan melakukan konsolidasi olahraga secara keseluruhan. Langkah tersebut dilakukan seiring dengan terbentuknya kepengurusan baru KONI Kabupaten Pekalongan.
“Ya, memang ini kami ingin memperbarui semua konsolidasi olahraga. Konsolidasi olahraga secara keseluruhan,” kata Sukirman.
Menurut dia, KONI akan melakukan konsolidasi dengan seluruh cabang olahraga untuk melihat perkembangan dan kebutuhan masing-masing. Termasuk persiapan menghadapi Porprov Jawa Tengah pada November mendatang.
“KONI akan mengkonsolidasi semua cabang olahraga, dan kita akan lihat sejauh mana perkembangan masing-masing olahraga ini,” ujarnya.
Namun, saat ditanya mengenai bentuk dukungan khusus Pemkab Pekalongan terhadap Persekap yang masih berlaga di Liga 4, Sukirman belum memerinci.
Terpisah, Plt Kepala Dinporapar Kabupaten Pekalongan Mores Irson Kubela menjelaskan, pengelolaan Stadion WMK berada di bawah Dinporapar. Sementara pembinaan prestasi sepak bola, termasuk kelompok umur, menjadi ranah KONI melalui Askab PSSI Kabupaten Pekalongan.
Mores menyebut Pemkab Pekalongan tetap melakukan perbaikan terhadap fasilitas stadion. Tribun sisi timur telah direhabilitasi. Sedangkan tribun sisi barat akan diperbaiki tahun ini, terutama bagian atap yang rusak akibat angin.
“Yang tribune sebelah timur sudah kita rehab. Kemudian yang sebelah barat itu memang tahun ini juga akan kita rehab atapnya,” ujarnya.
Dia menegaskan, Dinporapar bertanggung jawab terhadap sarana dan prasarana olahraga. Adapun pembinaan klub prestasi seperti Persekap merupakan domain KONI dan Askab.
“Karena ini berkaitan dengan prestasi, yang umum, jadi tidak di bawah Dinporapar. Itu menjadi domainnya KONI. Dalam hal ini Askab,” katanya. (nra)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan