METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Polemik Simbang Kulon Night Carnival (SKNC) mendapat perhatian dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Pekalongan.
DPC PKB Kabupaten Pekalongan memfasilitasi pertemuan dengan sejumlah kiai dan tokoh masyarakat untuk menyikapi kontroversi penampilan 'karnaval satanic'.
Pertemuan tersebut digelar di Kedungwuni, Selasa (15/9/2026) malam.
Selain mengevaluasi kejadian, forum itu juga melakukan klarifikasi terhadap konten pertunjukan yang memicu polemik dan tengah ramai diperbincangkan.
Ketua DPC PKB Kabupaten Pekalongan Asip Kholbihi mengatakan, berdasarkan keterangan panitia dan cross-check kepada sejumlah pihak, pertunjukan tersebut bukan ritual pemujaan setan.
Konten yang ditampilkan hanya performance atau pertunjukan hiburan.
“Setelah kami tanyakan kepada panitia dan kami cross-check ke berbagai pihak, ternyata itu adalah performance atau pertunjukan hiburan,” kata Asip.
Baca Juga: Soal Viral Karnaval Satanic, MUI Kabupaten Pekalongan Sebut Tak Ada Unsur Ritual dan Sesembahan
Menurut dia, polemik muncul lantaran penyampaian pertunjukan berkembang di luar ekspektasi.
Hal itu kemudian memunculkan berbagai penafsiran di masyarakat, termasuk anggapan adanya ritual pemujaan setan.
Asip menyebut pertunjukan tersebut merupakan bentuk kreativitas anak-anak.
Mereka mengambil atau meniru unsur budaya tertentu untuk ditampilkan dalam karnaval.
"Mereka melakukan kreativitas. Kreativitas ini meniru, atau dalam bahasa sosiologi adalah proses enkulturasi budaya yang diambil oleh anak-anak di Simbangkulon,” katanya.
Persoalannya, lanjut Asip, kreativitas tersebut tidak sepenuhnya dibarengi pemahaman terhadap konteks budaya yang ditampilkan.
Baca Juga: Kostum Karnaval Mirip Satanic Didapat dari Sewa, Referensi Koreografi dari YouTube
Dia menyebut, persoalan literasi menjadi salah satu evaluasi penting dari kejadian tersebut.
Asip menambahkan, ke depan pelaksanaan SKNC dan karnaval-karnaval serupa perlu lebih selektif dalam memilih materi pertunjukan.
Dia berharap polemik SKNC menjadi bahan pembelajaran bersama.
Asip juga menilai perbedaan pendapat di media sosial merupakan bagian dari dinamika masyarakat.
Namun, dia mengajak seluruh pihak mengambil sisi positif dari kejadian tersebut dan tidak memperpanjang kesalahpahaman.
“Kita ambil hikmahnya saja dengan tetap mengedepankan hal-hal yang baik yang berkembang di masyarakat. Yang baik kita junjung tinggi, kemudian hal yang tidak baik kita tinggalkan,” pungkasnya. (nra)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan