METROPEKALONGAN.COM, Kajen - Pemkab Pekalongan menilai minat masyarakat mengolah batik dan lurik menjadi produk fesyen cukup tinggi. Itu dilihat dari dibukanya pelatihan Fashion Mode Batik Kombinasi Lurik yang digelar Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja (Naker) Kabupaten Pekalongan.
Sebanyak 109 orang mendaftar pelatihan ini. Namun hanya 32 orang yang akhirnya terpilh menjadj peserta. Mereka kini menjalani pelatihan sejak 17-28 September 2026 nanti.
Peserta berasal dari pelaku UMKM fashion, penjahit lokal, hingga anak muda. Selama pelatihan, porsi praktik dibuat lebih besar, yakni 70 persen. Sisanya 30 persen berupa teori. Tak sekadar belajar menjahit dan merancang busana, peserta juga bakal menjalani uji kompetensi dan sertifikasi.
Materi yang diberikan meliputi teknik pemotongan, penyelarasan motif, perancangan busana kombinasi, tren pasar hingga strategi pemasaran. "Sertifikasi itu nanti menjadi pengakuan formal atas kompetensi peserta. Diharapkan dapat menjadi modal tambahan ketika mereka masuk atau mengembangkan usaha di industri fesyen," kata Plt Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Naker Kabupaten Pekalongan Siti Masruroh.
Kabid UMKM Dinkop UKM dan Naker Kabupaten Pekalongan Roufah Ainani mengatakan, pelatihan juga diarahkan untuk mengolah kain perca batik dan lurik menjadi produk bernilai ekonomi. Bahan tersebut relatif mudah ditemukan di lingkungan pembatik Kabupaten Pekalongan.
“Potensi kain perca batik dan lurik memiliki nilai jual dan mudah ditemukan di wilayah atau lingkungan pembatik Kabupaten Pekalongan,” ujarnya.
Pelatihan tersebut didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) 2026. Dalam pelaksanaannya, Dinkop UKM dan Naker menggandeng LSP Batik Semarang dan LPK An’nur Pekalongan sebagai narasumber, instruktur sekaligus tim penguji. (nra)
Editor : Adityo Dwi RiyantotoSumber : Metro Pekalongan