METROPEKALONGAN.COM, Magelang – Bagi sebagian orang, layanan kesehatan adalah hal yang sesekali dibutuhkan.
Namun bagi Slamet, 47, warga Magelang, layanan kesehatan adalah kebutuhan rutin yang tak bisa ditunda.
Sejak bertahun-tahun lalu, ia harus menjalani transfusi darah setiap bulan karena kondisi kesehatannya.
Di sinilah BPJS Kesehatan hadir sebagai penopang utama dalam hidupnya.
“Saya sudah terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan dari sebelum pandemi Covid-19,” ujar Slamet.
Ia termasuk peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI), yang iurannya ditanggung penuh oleh pemerintah.
“Alhamdulillah, saya termasuk yang dapat BPJS gratis dari pemerintah. Dan sejauh ini, manfaatnya luar biasa besar bagi saya,” katanya.
Setiap bulan, Slamet harus mendatangi fasilitas kesehatan untuk menjalani transfusi darah.
Selain itu, ia juga beberapa kali dirawat inap karena kondisi kesehatannya.
Semua layanan tersebut ia akses melalui BPJS Kesehatan, mulai dari faskes tingkat pertama seperti puskesmas, hingga rumah sakit rujukan.
“Menurut saya, BPJS Kesehatan ini sangat luar biasa. Bisa dibilang, program ini jadi penyelamat hidup saya. Tanpa BPJS, mungkin saya nggak tahu harus bagaimana menanggung biaya transfusi yang tiap bulan harus saya jalani,” ungkap Slamet penuh syukur.
“Kalau dihitung-hitung, saya hampir tidak pernah lepas dari layanan kesehatan. Tapi bersyukur, semua biaya selama ini selalu ditanggung BPJS. Saya tidak pernah diminta bayar tambahan, dan tidak pernah ada pungutan yang aneh-aneh,” tuturnya.
Slamet mengaku pelayanan yang ia terima selalu baik. Tidak pernah ada perbedaan perlakuan antara dirinya yang merupakan peserta PBI dengan peserta lain yang berasal dari segmen mandiri maupun pegawai.
“Pelayanannya adil. Di faskes pertama maupun rumah sakit besar, semua dilayani sama rata. Tidak ada yang dibedakan atau diistimewakan. Itu yang bikin saya salut,” tambahnya.
Dalam beberapa tahun terakhir, BPJS Kesehatan terus berinovasi. Salah satunya lewat aplikasi Mobile JKN.
Aplikasi tersebut memungkinkan peserta untuk mengambil nomor antrean secara online, mengecek status kepesertaan, melihat riwayat layanan, hingga mengakses berbagai fitur digital lainnya.
Slamet yang rutin berobat, merasa sangat terbantu dengan kehadiran aplikasi ini.
“Dulu saya harus datang pagi-pagi ke faskes, nunggu antrean lama. Sekarang tinggal daftar lewat aplikasi, jadi lebih hemat waktu dan tenaga,” ujarnya.
Bagi Slamet, kehadiran BPJS Kesehatan bukan hanya sekadar kartu jaminan, melainkan penyelamat di tengah kebutuhan medis yang mahal.
“Kalau tidak ada BPJS Kesehatan, mungkin biaya transfusi darah, obat-obatan, dan rawat inap itu berat banget buat saya. Saya bersyukur jadi peserta BPJS dari pemerintah,” katanya penuh rasa terima kasih.
Ia menyadari betapa pentingnya jaminan kesehatan ini, terutama bagi masyarakat yang hidup dengan penyakit kronis atau pengeluaran medis rutin.
Maka dari itu, ia sangat berharap agar program ini terus dipertahankan dan bahkan ditingkatkan dari sisi layanan maupun sistem pendukungnya.
“Pelayanannya sudah baik, tapi semoga makin ditingkatkan. Terutama soal sistem antrean, informasi pasien, dan teknologi. Pelayanan yang cepat, mudah diakses, dan ramah itu penting banget, apalagi buat orang yang harus sering kontrol atau rawat jalan kayak saya,” katanya.
Ia percaya bahwa dengan perbaikan terus-menerus, BPJS Kesehatan bisa menjadi sistem jaminan sosial yang semakin tangguh.
Dengan pengalamannya yang panjang sebagai pengguna aktif layanan BPJS, Slamet menutup ceritanya dengan pesan sederhana namun penuh makna
“Kalau kita sehat, semuanya terasa ringan. Tapi saat sakit, BPJS ini jadi pelindung yang sangat berarti. Semoga makin banyak orang yang bisa merasakan manfaatnya,” tutupnya. (web/put/ida)
Editor : Ida Nor Layla