METROPEKALONGAN.COM, Magelang – Bagi Eri Suprihatin, warga Magelang, BPJS Kesehatan memberikan perlindungan kesehatan yang siap sedia setiap saat.
Meski tidak rutin digunakan, baginya keberadaan BPJS Kesehatan merupakan bentuk jaminan yang menenangkan.
“Saya sudah memakai BPJS Kesehatan sekitar lima sampai tujuh tahunan. Awalnya dari kantor, sehingga otomatis didaftarkan sebagai peserta,” kata Eri.
Sebelum terdaftar melalui perusahaan, Eri sempat tercatat sebagai penerima Kartu Indonesia Sehat (KIS) yang berasal dari program pemerintah.
Namun kini, karena status kepesertaan dari tempat kerja masih aktif, layanan BPJS yang ia gunakan berasal dari perusahaan tempatnya bekerja.
“Yang dari pemerintah sudah tidak aktif, karena sekarang yang dipakai dari kantor. Bahkan, meski jarang dipakai, saya tetap bersyukur punya jaminan kesehatan,” ungkapnya.
Dalam hal pembiayaan, kata Eri, seluruh layanan kesehatan yang ia butuhkan selama ini ditanggung penuh oleh BPJS, termasuk biaya dokter, pemeriksaan, hingga rawat jalan.
Ia pun merasa beruntung, karena tidak perlu membayar iuran secara mandiri. Sebab sudah di-cover perusahaan.
Salah satu hal yang paling disyukuri Eri adalah kenyataan bahwa seluruh biaya pemeriksaan dan tindakan medis yang ia terima sejauh ini sepenuhnya ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
“Selama ini, saya kalau periksa kesehatan tidak pernah bayar sendiri. Semua sudah ditanggung BPJS Kesehatan, mulai dari biaya periksa sampai obat-obatannya,” katanya.
Secara umum, Eri merasa puas. Meski begitu, Eri berharap agar pelayanan dapat ditingkatkan, baik dari sisi kecepatan layanan maupun sistem administrasinya.
“Kalau bisa, sistemnya dibikin lebih efisien lagi. Meski begitu, saya lihat semakin bertambah tahun sudah semakin meningkat pelayanannya. Semoga semakin ditingkatkan dari waktu ke waktu,” katanya.
Ia juga berharap agar penggunaan teknologi pada layanan kesehatan berbasis BPJS bisa diperluas, termasuk edukasi kepada masyarakat agar lebih memahami cara menggunakan layanan JKN dengan benar.
“Banyak yang belum tahu hak dan prosedurnya. Sosialisasi harus terus dilakukan, apalagi buat masyarakat yang belum terbiasa memakai aplikasi atau teknologi,” imbuhnya.
Eri juga merasakan pelayanan BPJS Kesehatan yang tidak pernah membedakan dirinya dengan peserta lainnya.
Baik yang berasal dari pemerintah, perusahaan, maupun mandiri. Menurutnya, semua dilayani dengan sikap profesional.
“Tidak pernah ada diskriminasi. Semuanya diperlakukan sama. Saya rasa ini penting banget buat menambah kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
Meski demikian, Eri berharap ada perbaikan di beberapa titik pelayanan, terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama yang masih sering menjadi keluhan masyarakat.
Menurutnya, perbaikan sistem dan peningkatan efisiensi layanan akan sangat membantu peserta dalam mengakses layanan kesehatan secara lebih cepat.
“Kalau bisa, proses di fasilitas kesehatan (faskes) pertama dibuat lebih ringkas. Terutama untuk urusan rujukan yang kadang memakan waktu lama. Sistemnya juga perlu ditingkatkan, supaya makin praktis dan canggih,” harapnya.
Bagi Eri, keberadaan BPJS Kesehatan adalah hal yang sangat esensial, terutama di masa sekarang ketika biaya kesehatan kerap tidak terduga dan bisa sangat membebani.
“Walau jarang saya pakai, tapi dengan keberadaan BPJS Kesehatan ini membuat saya tenang. Kalau suatu saat butuh perawatan, saya tahu ada yang siap bantu,” ungkapnya.
Ia menilai BPJS Kesehatan sebagai program jaminan sosial yang sangat penting untuk dipertahankan dan ditingkatkan kualitasnya.
Menurutnya, sistem ini telah banyak membantu masyarakat, terutama mereka yang berada di kelompok rentan.
“BPJS itu program besar yang sangat bermanfaat. Saya berharap ke depannya makin baik, makin cepat, dan makin banyak masyarakat yang bisa merasakan manfaatnya,” tutupnya. (web/put/ida)
Editor : Ida Nor Layla