METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Menjelang pergantian musim yang rawan memicu lonjakan penyakit, Pemerintah Kota Pekalongan bersama Kementerian Kesehatan RI memperkuat sistem kewaspadaan dini dengan menyusun Rencana Kontijensi Penanggulangan Penyakit Berpotensi Wabah.
Baca Juga: Komitmen Nyata Wujudkan Hunian Layak, Pemkot Pekalongan Teken Nota Kesepakatan di Semarang
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Selasa–Rabu (24–25 Juni 2025) di Hotel Howard Johnson Pekalongan.
Kegiatan resmi dibuka oleh Walikota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid, dan difasilitasi oleh Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes RI.
Dalam sambutannya, Walikota Aaf –sapaan akrabnya– menegaskan bahwa pengalaman dari pandemi COVID-19 seharusnya membuka mata semua pihak bahwa ancaman wabah tidak selalu datang dari penyakit luar biasa.
Justru, penyakit musiman seperti demam berdarah, muntaber, dan tipes sering kali menjadi penyebab lonjakan pasien di rumah sakit, terutama saat musim pancaroba.
“COVID-19 jadi pelajaran besar. Tapi jangan lupakan penyakit musiman. Ketika musim berganti, rumah sakit kita kerap penuh oleh pasien DBD, muntaber, dan lainnya. Ini harus kita antisipasi dari sekarang, agar penanganannya jelas dan cepat,” ujar Aaf.
Menurutnya, dokumen kontinjensi yang disusun akan menjadi peta jalan kesiapsiagaan kota, mulai dari aspek layanan, logistik medis, hingga siapa berbuat apa ketika terjadi lonjakan penyakit.
Wali Kota Aaf juga menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mendorong pola hidup sehat.
Program seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG) disebut sebagai salah satu pondasi yang bisa diperkuat untuk mengawal kesiapan masyarakat menghadapi ancaman penyakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto, menyampaikan kebanggaannya karena Kota Pekalongan dipercaya menjadi lokus pertama penyusunan rencana kontingensi di Jawa Tengah.
“Setelah Pekalongan, kegiatan ini akan dilanjutkan di Batang dan Semarang. Ini kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Kami ingin menyusun dokumen yang tidak hanya formal, tapi benar-benar bisa diterapkan ketika dibutuhkan,” jelas Slamet.
Ia menambahkan bahwa penanggulangan penyakit tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan.
Peran seluruh unsur masyarakat, kelurahan, kecamatan, dan stakeholder lainnya menjadi kunci penting dalam mewujudkan sistem ketahanan kesehatan yang tangguh dan responsif.
Administrator Kesehatan Ahli Madya Direktorat Surveilans Kemenkes RI, Mukhtamar Nasir, menyebut bahwa dokumen ini dirancang dengan prinsip “One Health For All” – pendekatan kolaboratif yang tidak hanya menyasar manusia, tapi juga hewan dan lingkungan sebagai satu kesatuan.
“Setiap tahun, dokumen ini akan direviu dan diperbarui. Ketika ada pemicu atau trigger wabah, maka pedoman ini langsung diaktifkan, lengkap dengan langkah siapa berbuat apa. Ini bukan sekadar teori, tapi pedoman aksi cepat,” tegas Mukhtamar.
Rencana kontingensi ini menjadi langkah strategis Kota Pekalongan dalam membangun kota yang tanggap bencana kesehatan, termasuk penyakit-penyakit yang selama ini dianggap “biasa”, namun berpotensi besar memicu krisis layanan kesehatan jika tidak diantisipasi dengan matang.
Wali Kota Aaf menutup sambutannya dengan mengajak masyarakat untuk ikut aktif menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan, serta memanfaatkan layanan kesehatan gratis yang telah disediakan pemerintah.
“Dengan edukasi yang benar, kesiapan lintas sektor, dan dukungan masyarakat, kita bisa hindari lonjakan kasus penyakit musiman. Jangan tunggu rumah sakit penuh, kita harus siap dari sekarang,” pungkasnya.(han)
Editor : Agus AP