METROPEKALONGAN.COM, Magelang – BPJS Kesehatan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Khoirul Anwar, seorang pekerja swasta asal Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag.
Ia terdaftar sebagai peserta Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2024, bertepatan dengan awal ia bekerja di perusahaan tempatnya saat ini.
Anwar menyadari bahwa memiliki jaminan kesehatan bukan hanya kewajiban sebagai warga negara Indonesia saja.
“Menjadi peserta JKN bagi saya adalah salah satu persiapan untuk menghadapi risiko kesehatan di masa depan. Biaya rumah sakit sekarang tidak murah. Dengan adanya JKN, saya merasa lebih tenang karena tahu ada perlindungan kalau sewaktu-waktu sakit,” ujar Anwar, Senin (28/7/2025).
Keyakinannya terhadap pentingnya jaminan kesehatan diperkuat melalui pengalaman pribadi. Beberapa bulan setelah aktif sebagai peserta JKN, ia harus menjalani perawatan karena terserang typhus.
Kejadian tersebut menjadi momen pertama kalinya Anwar benar-benar merasakan manfaat dari program yang dikelola BPJS Kesehatan.
Saat itu, ia mendatangi rumah sakit rujukan setelah sebelumnya mendapat pemeriksaan awal dari dokter klinik perusahaan.
Proses pendaftaran berjalan lancar, tanpa kendala berarti.
Ia hanya perlu menunjukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai identitas diri. Selanjutnya, ia langsung ditangani oleh tim medis.
“Pelayanan di rumah sakit cukup baik. Dokternya komunikatif, perawatnya juga cepat tanggap. Saya tidak merasa dibedakan dari pasien umum,” ungkapnya.
Selama masa perawatan, Anwar menjalani serangkaian pemeriksaan laboratorium dan terapi infus hingga kondisinya membaik.
Yang membuatnya makin mantap dengan besarnya manfaat Program JKN adalah tidak adanya pungutan tambahan selama menjalani rawat inap.
“Seluruh biaya pengobatan saya ditanggung JKN. Mulai dari kamar, obat-obatan, sampai pemeriksaan penunjang seperti cek laboratorium. Saya sama sekali tidak diminta membayar di luar iuran bulanan yang dipotong dari gaji,” tegasnya.
Anwar mengapresiasi kemudahan yang ia peroleh selama menggunakan JKN, termasuk proses pendaftaran dan pelayanan medis yang ia terima.
Meski demikian, ia juga menyampaikan masukan yang membangun untuk peningkatan layanan.
Salah satu hal yang menurutnya masih bisa dioptimalkan adalah efisiensi waktu tunggu di poli rumah sakit, khususnya pada layanan rawat jalan.
“Kadang antrean di poli cukup panjang meskipun sudah menggunakan sistem antrean online. Harapannya, ke depan pelayanan bisa lebih cepat lagi agar pasien lebih nyaman saat menunggu,” ujarnya.
Ia juga berharap informasi seputar manfaat JKN dan prosedur penggunaannya dapat disosialisasikan lebih luas lagi kepada masyarakat, terutama mereka yang baru menjadi peserta.
Menurutnya, masih ada sebagian pekerja muda atau masyarakat umum yang belum sepenuhnya memahami bahwa JKN bisa diakses dengan mudah tanpa harus datang langsung ke kantor cabang.
“Saya sendiri baru tahu bahwa sekarang banyak layanan yang bisa dilakukan secara online, seperti melalui Aplikasi Mobile JKN. Tapi saya rasa informasi seperti ini masih belum banyak diketahui orang,” tambahnya.
Anwar mengaku lebih tenang menjalani aktivitas karena tahu dirinya memiliki perlindungan yang jelas.
Ia juga sering membagikan pengalamannya kepada rekan kerja yang baru mulai mendaftar JKN, dengan harapan mereka tidak ragu untuk memanfaatkan hak kesehatan mereka.
Menurutnya, semakin banyak orang paham cara kerja sistem jaminan ini, semakin baik pula dampaknya bagi keberlangsungan program.
“Ketika sakit, saya bisa fokus pulih tanpa memikirkan biaya. Itu sudah sangat berarti bagi saya dan keluarga,” tuturnya. (dw/er/put/bis)
Editor : H. Arif Riyanto