METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Kota Pekalongan kembali diselimuti hujan bersama derasnya air yang turun. Jumlah pasien yang datang ke RSUD Bendan Kota Pekalongan juga ikut meningkat.
Ruang tunggu tampak lebih padat dari biasanya, menjadi tanda bahwa perubahan cuaca membawa dampak bagi kesehatan masyarakat.
Direktur RSUD Bendan, dr. Dwi Heri Wibawa menyebutkan, tren kenaikan ini sebagai fenomena musiman yang hampir berulang setiap memasuki penghujan.
Baca Juga: Berkat Kolaborasi Hebat, Inggit Soraya Raih Penghargaan Bunda PAUD Nasional 2025
Dengan total 18 klinik reguler, RSUD Bendan menjadi salah satu pusat layanan kesehatan terlengkap di Kota Pekalongan.
Dari deretan layanan tersebut, lima klinik mencatat kunjungan terbanyak, yaitu Klinik Penyakit Dalam, Saraf, Mata, Jantung, dan Instalasi Rehabilitasi Medik.
“Klinik-klinik itu memang paling tinggi peminatnya. Mayoritas pasiennya berada pada usia 30 tahun ke atas,” kata dr. Dwi Heri, Jumat 14 November 2025.
Baca Juga: 40 Persen Warga Pekalongan Ikuti Cek Kesehatan Gratis, Dinkes Fokus Anak dan Deteksi Dini Penyakit
Data tersebut sejalan dengan naiknya kasus penyakit degeneratif seperti diabetes, hipertensi, dan gangguan saraf seiring pertambahan usia.
Khusus pada layanan Rehabilitasi Medik, pasien yang datang berasal dari dua kelompok besar, yaitu anak-anak dan dewasa.
Namun, kelompok dewasa tetap mendominasi karena banyak membutuhkan terapi penyakit degeneratif.
Baca Juga: Polres Pekalongan Kota Raih Penghargaan Kompolnas Award 2025, Wali Kota Beri Apresiasi Besar
Di luar itu, hal yang paling menonjol di musim hujan adalah meningkatnya penyakit infeksi lingkungan.
RSUD Bendan mencatat lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD), diare, dan tifoid. Ketiga penyakit tersebut, kerap melonjak saat cuaca lembab dan banyak genangan air muncul.
“Betul, tren kasus DBD, diare, dan tifus mulai naik. Ini harus kita waspadai bersama,” tegas dr. Dwi Heri.
Baca Juga: Masa Prihatin, Pemkot Pekalongan Gabungkan Peringatan Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan
Ia menjelaskan, tingginya curah hujan juga memantik perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti, penyebab DBD.
Sementara itu, kualitas kebersihan makanan dan lingkungan yang menurun saat hujan, turut memicu timbulnya diare dan tifus.
Menghadapi peningkatan kunjungan pasien, RSUD Bendan memastikan seluruh layanan tetap siaga.
Tenaga kesehatan, fasilitas rawat inap, hingga layanan unggulan terus diperkuat agar masyarakat mendapatkan pelayanan optimal di masa rawan penyakit seperti sekarang.
Meski demikian, dr. Dwi Heri menekankan, pencegahan tetap menjadi langkah paling penting.
Ia mengajak masyarakat terus menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga kebersihan makanan, dan melakukan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk).
“Menguras bak mandi seminggu dua kali, menutup tampungan air, hingga menimbun barang bekas sangat membantu menekan risiko DBD,” ujarnya.
Menjelang puncak musim penghujan, dr. Dwi Heri kembali mengingatkan masyarakat agar tidak lengah.
“Kami siap melayani, tapi pencegahan selalu yang utama. Mari jaga kebersihan dan kesehatan bersama agar kita terhindar dari penyakit yang sering meningkat saat musim hujan,” pungkasnya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla