METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Ansori, seorang warga Degayu, kini kembali tersenyum. Dirinya kini bisa menggarap lahan persawahan yang sempat kering selama delapan tahun akibat banjir rob.
Bersama dengan Dahmat, seorang petani berpengalaman, ia kembali bertani dengan bantuan Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan, Kodim 0710/Pekalongan, dan Bank Indonesia (BI).
“Saya ingin meneruskan pekerjaan orang tua sebagai petani,” ujar Ansori yang baru pertama kali terjun ke dunia pertanian.
Sementara itu, Dahmat yang telah menjadi petani selama puluhan tahun mengungkapkan kebahagiaannya dapat kembali bertani. Setelah wilayahnya kering berkat proyek penanganan banjir rob, pada Jumat 29 November 2024.
“Setelah delapan tahun berhenti karena banjir rob, akhirnya kami bisa kembali menggarap sawah. Kami memang lebih cocok bertani padi daripada pekerjaan serabutan seperti sebelumnya,” kata Dahmat.
Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid mengapresiasi semangat para petani eks-lahan rob.
Ia menjelaskan, kegiatan peningkatan kapasitas yang diikuti para petani bertujuan untuk menyegarkan kembali pengetahuan mereka dalam bertani, terutama dengan penggunaan teknologi baru.
“Para peserta Peningkatan Kapasitas ini sebenarnya sudah berpengalaman bertani selama puluhan tahun. Namun karena delapan tahun lahan mereka tergenang, perlu ada pendampingan dan teknologi baru agar lahan tersebut dapat kembali produktif,” tutur wali kota.
Proyek ini berpotensi menghidupkan kembali lahan seluas 105 hektare yang sebelumnya menjadi lahan tidur akibat banjir rob.
Kodim 0710/Pekalongan telah memulai uji coba penanaman padi Bio Salin dan pisang salin di lahan seluas lima hektar.
Selain itu, BI mendukung penyediaan pupuk dan alat pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas.
“Jika minimal 90 hektare dari total lahan ini bisa ditanami padi, tentu akan menunjang program ketahanan pangan di Kota Pekalongan. Kami optimistis program ini akan berjalan lancar dengan dukungan dinas terkait dan Kodim 0710/Pekalongan,” lanjutnya.
“Saya yakin, dengan dedikasi dan kerja keras para petani serta dukungan pemerintah, tanah eks-rob ini akan kembali menjadi lahan pinggiran kota yang produktif,” ucap Wali Kota Achmad Afzan.
Kepala Kantor Perwakilan BI Tegal Marwadi menjelaskan, teknologi baru seperti penggunaan pupuk dan bibit khusus Bio Salin dapat mengatasi tantangan tanah eks-rob yang memiliki salinitas tinggi.
“Tahap awal, kami akan menggarap lahan seluas 1,5 hektare sebagai lahan percontohan (Demplot). Jika berhasil, lahan seluas 15 hektare akan menjadi target berikutnya,” jelas Marwadi.
Marwadi menambahkan, untuk setiap hektare, bibit khusus dan pupuk Bio Tasnim dapat menghasilkan 7 hingga 7,5 ton padi. Namun optimalisasi hasil panen biasanya membutuhkan proses hingga tiga kali masa tanam.
Selain itu, peralatan seperti traktor dan diesel pompa udara akan disediakan untuk memudahkan proses pengolahan lahan. Petani juga mendapatkan pelatihan agar lebih siap menghadapi tantangan pertanian di tanah eks-rob.
Dengan semangat para petani dan dukungan lintas sektor, program ini tidak hanya memberikan harapan baru bagi mantan petani di Degayu, tetapi juga menjadi kontribusi penting dalam mendukung ketahanan pangan di Kota Pekalongan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla