METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Hidup adalah perjalanan panjang yang penuh dengan liku-liku.
Bagi Sri Wulan Madyowati, perjalanan itu tak hanya tentang menemukan jati diri, tetapi juga tentang menemukan ketenangan dalam keyakinan baru.
Lahir di Kota Pekalongan tahun 1976, Sri Wulan tumbuh dalam keluarga penganut Budha yang taat.
Sejak kecil, ia selalu diajarkan nilai-nilai agama yang dianut keluarganya. Namun, takdir membawanya melewati berbagai fase kehidupan, hingga akhirnya ia menjadi seorang mualaf pada tahun 2018.
Dari Bandung, Kembali ke Pekalongan
Sejak muda, Wulan sudah dikenal sebagai sosok yang aktif dan berprestasi.
Menempuh pendidikan jurusan Ekonomi Manajemen di Bandung dan lulus pada tahun 1999, ia pun sudah memiliki semangat tinggi dalam berorganisasi.
Semasa kuliah, ia dikenal sebagai aktivis yang terlibat di berbagai kegiatan kemahasiswaan dan kepemudaan.
Setelah menikah pertama kali di Bandung pada tahun 2002, ia berpindah keyakinan menjadi Katolik mengikuti suaminya.
Pernikahan itu dikaruniai seorang anak. Namun, pernikahan tersebut tak bertahan lama.
Setelah bercerai, ia kalah dalam hak asuh anak dan harus merelakan sang buah hati ikut dengan mantan suaminya.
Pada tahun 2009, ia memutuskan untuk kembali ke Pekalongan dan meneruskan usaha kuliner orang tuanya, Warung Makan Tjukup.
Hingga kini, warung tersebut masih terus beroperasi dan menjadi bagian dari kehidupannya.
Kecintaannya pada dunia organisasi tak pernah pudar. Ia terlibat dalam berbagai komunitas, mulai dari Petanesia, Imastara, hingga GNPK RI.
Bahkan, sebelum menjadi mualaf, ia adalah perempuan pertama yang ikut dalam DPP Petanesia Kota Pekalongan pada tahun 2015.
Menemukan Jalan Menuju Islam
Kehidupan Wulan semakin berwarna dengan pernikahan keduanya dengan seorang pria asal Solo yang memiliki keyakinan Kejawen.
Dari pernikahan ini, ia dikaruniai dua anak, seorang laki-laki dan perempuan. Yang menarik, meskipun Wulan saat itu masih beragama Budha, ia memilih untuk mendidik anak laki-lakinya dalam ajaran Islam.
Sejak kecil, sang putra sudah belajar di sekolah Islam dan mengikuti TPQ. Sebaliknya, anak perempuannya lebih condong ke agama Katolik.
Baca Juga: Pengamanan Libur Nataru, Polres Pekalongan Patroli Objek Wisata
Dalam perjalanan organisasinya, Wulan bertemu dengan Ferry Anggara, seorang selebritis yang merupakan mantan suami artis Elly Sugigi.
Pertemuan mereka terjadi ketika Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan menggelar sebuah event dan Wulan ditunjuk sebagai LO (Liaison Officer) untuk para artis nasional.
Hubungan yang awalnya sebatas profesional, berubah menjadi hubungan pribadi yang lebih dalam. Hingga akhirnya, keduanya menikah pada tahun 2018.
Pernikahan dengan Ferry menjadi titik balik dalam hidupnya. Ia memutuskan untuk menjadi mualaf dan mendalami Islam lebih jauh.
Baca Juga: Pemandian Air Panas Banyu Alam di Dieng, Wisata Baru yang Wajib Dikunjungi saat Libur Nataru
Bagi Wulan, keputusannya untuk memeluk Islam bukan semata karena menikah, tetapi karena ia menemukan ketenangan dalam ajaran Islam.
Dalam prosesnya, ia mendapat banyak dukungan dari sang kakak, Andi Wong, yang juga telah lebih dulu menjadi mualaf, meskipun keluarga besarnya masih beragama Budha.
Menatap Masa Depan dengan Keyakinan Baru
Sebagai seorang muslim, Wulan kini menjalani kehidupan baru dengan lebih tenang. Ia tetap aktif di berbagai organisasi dan dunia politik.
Pada Pileg 2024, ia mencoba peruntungan dengan maju sebagai calon legislatif dari Partai Amanat Nasional (PAN), meskipun sebelumnya ia pernah berada di PDI Perjuangan.
Namun, perjalanannya di dunia politik tidaklah mudah, dan ia masih terus berjuang.
Kini, Wulan memiliki satu impian besar, pergi ke Tanah Suci Makkah dan Madinah.
Ia berharap dapat menunaikan ibadah umrah sebagai bentuk penyempurnaan keyakinannya yang baru.
"Saya ingin menutup perjalanan spiritual saya dengan mengunjungi Makkah dan merasakan kedamaian di sana," ujarnya dengan mata berbinar.
Perjalanan hidup Sri Wulan Madyowati adalah cerminan bahwa pencarian spiritual bisa membawa seseorang melampaui batas-batas tradisi dan budaya.
Ia telah melewati berbagai fase kehidupan—dari Budha, Katolik, hingga akhirnya menemukan kedamaian dalam Islam.
Kini, ia menjalani hari-harinya dengan penuh keyakinan, siap menghadapi tantangan baru, dan terus melangkah menuju impian yang lebih besar. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla