METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di balik peringatan Hari Jadi ke-119 Kota Pekalongan yang digelar sederhana tahun ini, terselip momen penuh makna.
Yakni napak tilas ke makam para pemimpin terdahulu yang telah mengabdikan hidupnya untuk kota batik ini.
Wali Kota Pekalongan Achmad Afzan Arslan Djunaid bersama Wakil Wali Kota Hj Balgis Diab, pejabat OPD, serta jajaran pemerintah lainnya, menyusuri jejak sejarah lewat ziarah ke tiga makam mantan wali kota, Rabu sore 9 April 2025.
Tiga titik ziarah itu meliputi, Makam Teguh Sunaryo di Taman Makam Pahlawan, Makam Khaeron dan Basyir Ahmad di Makam Sapuro.
Dan terakhir Makam Ahmad Alf Arslan Djunaid atau Alex di Kompleks Pondok Pesantren Al Buaran.
Ulang tahun kali ini tak ada seremoni mewah atau pesta rakyat, ziarah ini menjadi simbol penghormatan, kontemplasi, dan rasa terima kasih lintas generasi.
Mas Aaf menyebut kegiatan ini bukan sekadar rutinitas, tapi pengingat tentang nilai perjuangan dan pengabdian para pemimpin masa lalu.
“Banyak program mereka yang masih terasa manfaatnya sampai sekarang. Kita sebagai generasi penerus harus menjaga, bahkan meningkatkan hasil kerja keras itu,” ungkap Mas Aaf.
Dari ziarah itu, Mas Aaf juga menemukan fakta menarik, salah satu makam wali kota terdahulu mengalami keretakan akibat akar pohon yang menjalar.
Tak ingin tinggal diam, ia langsung menginstruksikan perbaikan dan perawatan.
“Beliau orang berjasa, jangan sampai makamnya terbengkalai. Saya sudah koordinasi untuk penataan ulang dan penebangan pohon yang merusak,” tegasnya.
Langkah kecil ini menjadi simbol bahwa penghormatan tak hanya lewat kata, tapi juga lewat tindakan nyata.
Mas Aaf mengaku, jejak para pemimpin sebelumnya menjadi sumber semangat dan inspirasi.
Dari mereka yang telah tiada untuk terus bekerja demi Pekalongan yang lebih baik.
“Mereka tidak lagi hadir secara fisik, tapi semangat mereka hidup dalam setiap sudut kota ini. Dan kita punya tanggung jawab moral untuk melanjutkan perjuangan itu,” pungkasnya.
Di saat banyak kota lain memilih perayaan meriah, Pekalongan memilih langkah sunyi namun sarat arti.
Napak tilas ini adalah pengingat bahwa membangun kota bukan hanya soal infrastruktur, tapi juga soal warisan nilai dan keteladanan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla