METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di tengah krisis sampah yang melanda Kota Pekalongan, warga Kelurahan Sapuro Kebulen tunjukkan kretivitas.
Bukan dengan protes atau marah, akibat penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Degayu.
Warga justru menunjukkan kreativitasnya untuk meningkatkan kesadaran warga untuk mengelola sampah bersama melalui pentas seni drama.
Drama panggung ini untuk memantik semangat gotong royong.
Sekaligus meluncurkan gerakan inovatif bernama Gelas Bekas.
Yakni Gerakan Mengelola Sampah Berkualitas. Sebuah aksi lokal yang bisa jadi inspirasi nasional.
Drama tersebut dipentaskan saat Malam Halal Bi Halal di Kelurahan Sapuro Kebulen.
Tak hanya lantunan doa dan silaturahmi mempererat persaudaraan, tetapi juga pentas drama bertema lingkungan untuk menyentuh nurani.
Penampilan sederhana namun kuat pesan ini mengangkat realita seputar krisis sampah yang kini mendera Kota Pekalongan.
Penutupan TPA Degayu sejak 20 Maret 2025 oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memaksa Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan menetapkan status Darurat Sampah.
Dari panggung seni Sapuro Kebulen, pesan pengelolaan sampah bergema kuat, menyasar hati setiap warga yang hadir.
Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid mengapresiasi aksi positif warganya.
Wali kota yang akrab disapa Mas Aaf memuji pendekatan edukatif yang dilakukan kelurahan.
“Drama soal sampah ini luar biasa. Ini edukasi yang membumi. Saya sangat mengapresiasi dan berharap Sapuro Kebulen bisa menjadi kelurahan percontohan pengelolaan sampah di Kota Pekalongan,” ungkapnya.
Sebagai bentuk dorongan, warga yang aktif dalam penanganan sampah juga diberikan penghargaan.
“Reward ini penting untuk mendorong gerakan kolektif dari bawah. Karena perubahan itu dimulai dari skala kecil, dari rumah, dari RT,” tambah Mas Aaf.
Tak berhenti pada edukasi, Kelurahan Sapuro Kebulen meluncurkan Gelas Bekas (Gerakan Mengelola Sampah Berkualitas).
Lewat program ini, masyarakat diajak memilah sampah rumah tangga, baik sampah organik dan non-organik secara mandiri.
Lurah Sapuro Kebulen, Achmad Machmudin, menjelaskan, sampah organik seperti sisa makanan bisa diolah menjadi kompos untuk taman atau kebun.
“Kita minta setiap rumah tangga membuat tempat khusus untuk sampah organik. Ini langkah sederhana tapi sangat berdampak,” jelasnya.
Sementara itu, sampah non-organik seperti botol plastik, logam, dan kaca dikumpulkan secara terpisah.
Barang-barang ini bisa dijual ke Bank Sampah atau didaur ulang, sedangkan sisanya dikirim ke TPST 3R Sapuro Kebulen.
Namun, tantangan tetap ada. Dengan jumlah personel terbatas dan kapasitas tempat yang hampir penuh, kesadaran dan partisipasi warga menjadi kunci.
Oleh karena itu, kelurahan akan membentuk Satgas Pengelolaan Sampah di tiap RT/RW.
“Kami juga sedang mempersiapkan rumah sampah di setiap RW. Targetnya dalam 6 bulan ke depan. Untuk jangka panjang, kami dorong setiap RT memiliki rumah sampah sendiri,” ungkap Machmudin.
Tak hanya perangkat kelurahan, gerakan ini mengikutsertakan semua lapisan masyarakat, dari warga biasa, pengangkut sampah, hingga tokoh masyarakat.
Pertemuan intensif juga direncanakan untuk menyusun pola kerja kolektif antara RT, RW, dan tim pengelola TPS.
Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) juga bergerak cepat menurunkan armada untuk mengangkut sampah yang tercecer di jalan-jalan.
Langkah Sapuro Kebulen mungkin sederhana, namun semangatnya luar biasa.
Di saat banyak orang hanya bisa mengeluhkan sampah, mereka memilih bergerak bersama mengatasi masalah yang solutif. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla