Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Jadikan Kota Batik Ramah Lingkungan, Kota Pekalongan Gandeng Belanda Bangun IPAL Modern di Empat Kelurahan

Lutfi Hanafi • Selasa, 15 April 2025 | 18:21 WIB
BERFOTO BERSAMA - Tim Belanda, Pemkot dan perwakilan pengrajin batik berfoto bersama, usai kick off “From Tradition to Innovation”, Senin (14/4/2025).
BERFOTO BERSAMA - Tim Belanda, Pemkot dan perwakilan pengrajin batik berfoto bersama, usai kick off “From Tradition to Innovation”, Senin (14/4/2025).

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Kota Batik dunia, Kota Pekalongan, kini tak hanya dikenal lewat keindahan motif dan kekayaan budaya, tapi juga melalui gebrakan lingkungannya. 

Selain itu, tradisi membatik Pekalongan tak hanya melestarikan budaya, tapi kini juga jadi pionir inovasi ramah lingkungan.

Karena itulah, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan melakukan kolaborasi internasional dengan Belanda, agar limbah batik yang dulu mencemari sungai, kini diolah lebih ramah lingkungan.

Kick Off proyek ini dibuka langsung oleh Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid.

“Kita dikenal sebagai kota produsen batik terbesar di Indonesia. Tapi limbahnya masih menjadi PR besar. Karena itulah, dengan dukungan Belanda, kita targetkan di 2027 persoalan limbah ini tuntas,” ujar wali kota yang akrab disapa Mas Aaf ini optimistis. 

Ia juga menekankan pentingnya integrasi pengelolaan limbah batik dengan limbah domestik lainnya, demi terciptanya sistem yang berkelanjutan dan menyeluruh.

Tak main-main, kerja sama ini melibatkan berbagai institusi internasional dan nasional.

Dari Belanda, hadir Dutch Water Operators, Deltares, Royal Haskoning DHV, hingga Saxion University.

Dari Indonesia, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Pekalongan (Unikal), dan instansi teknis lain turut serta dalam mendukung proyek ini.

 

Perwakilan Pemerintah Belanda untuk Bidang Air, Ivo Van Der Linden, menekankan, kemitraan air antara Indonesia dan Belanda sudah berjalan lama.

Dan Kota Pekalongan menjadi kota strategis karena memasok lebih dari 70 persen kebutuhan batik dalam negeri. 

Namun, metode produksi konvensional telah memberi dampak serius pada ekosistem sungai.

 

“Kini saatnya kita mengubah tantangan ini jadi inovasi bersama,” kata Ivo.

Kepala Bapperida Kota Pekalongan, Cayekti Widigdo, menjelaskan, program Green Batik akan berjalan dalam enam fase.

Program ini dimulai 2025 hingga awal 2027 dengan total anggaran mencapai 500.000 euro.

Tiga fase awal pada 2025 mencakup kajian, analisis data, desain teknis, dan implementasi pembangunan IPAL.

Fase berikutnya di 2026 dan awal 2027 berfokus pada replikasi di wilayah lain, pembentukan Green Batik Center, hingga promosi ke skala nasional maupun global. 

“Pilot project di empat kelurahan kita targetkan selesai 2025. Setelah itu kita kembangkan ke sentra-sentra batik lain,” jelas Cayekti.

Dengan transformasi ini, Kota Pekalongan bukan hanya menjaga warisan leluhur, tapi juga meletakkan fondasi masa depan yang lebih hijau.

Green Batik tak sekadar proyek lingkungan, melainkan revolusi industri kreatif yang berpihak pada alam. 

“Batik boleh tua dalam usia, tapi harus muda dalam inovasi,” tegas Mas Aaf menutup acara.(han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#inovasi hijau #Pengolahan air limbah #batik #kelurahan #ipal #belanda