METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Kelurahan Medono menghadapi Darurat Sampah, dengan menggulirkan program berbasis pemberdayaan warga.
Salah satunya melalui Gerakan Kantong Sedekah Sampah untuk pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Lurah Medono Muhammad Mahson mengungkapkan, pihaknya telah mensosialisasikan konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle) secara menyeluruh ke semua lapisan masyarakat.
Baca Juga: Pameran Seni SMPN 15 Pekalongan, Siswa Juga Presentasikan Karyanya
“Dari 12 RW dan 80 RT di Medono, semuanya telah kami libatkan. Masyarakat harus menyadari bahwa sampah bukan hanya urusan petugas, tapi tanggung jawab semua pihak,” tegasnya, Minggu 12 Mei 2025.
Untuk menyukseskan program tersebut, kini kantong sedekah sampah tersedia di sekolah-sekolah, pondok pesantren, hingga perkantoran.
Warga diminta memilah sampah seperti plastik, kertas, dan barang keras sejak dari rumah.
Baca Juga: Eceng Gondok yang Dianggap Gulma, Kini Jadi Pupuk Organik di Padukuhan Kraton Kota Pekalongan
Sampah tersebut disalurkan melalui kantong sedekah, dikumpulkan, dan dijual.
Hasilnya, 50 persen diserahkan kembali ke penyetor, dan 50 persen digunakan untuk mendukung program pengentasan stunting di wilayah Medono.
Tak berhenti pada pengumpulan saja, tapi juga dilakukan reuse dan recycle secara serius. Kelurahan mengaktifkan kembali TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) yang sempat mangkrak.
Kini, TPS3R Medono dikelola oleh KSM Medono Resik yang dihidupkan kembali sejak April 2025 dengan dukungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan.
“Kami ingin menggerakkan kembali kepedulian masyarakat terhadap sampah. Sekarang, tiap RW sudah dilayani oleh gerobak dan kendaraan tossa yang mengangkut sampah terpilah ke TPS3R,” ujar Mahson.
Sampah organik diolah menjadi kompos, sedangkan sampah non-organik disalurkan ke jalur daur ulang.
Baca Juga: Operasi Premanisme di Pemalang, Polisi Amankan Remaja Bersenjata Busur Panah Siap Tawuran
Untuk memperkuat system 3R, Kelurahan Medono juga mendorong pembentukan bank sampah di tiap RW, yang nantinya terhubung dengan Bank Sampah Kota Pekalongan.
Ini menjadi langkah strategis menciptakan ekonomi sirkular dari pengelolaan sampah rumah tangga.
Gerakan ini juga menyasar anak-anak sekolah. Pelajar diminta membawa sampah yang sudah dipilah dari rumah ke sekolah setiap bulan.
“Kami ingin menanamkan kebiasaan memilah sampah sejak dini, agar menjadi bagian dari gaya hidup mereka, bahkan di lingkungan rumah,” tambahnya.
Mahson menegaskan, semangat kolektif warga adalah kunci keberhasilan program ini.
Dengan kolaborasi aktif dari warga, RW, RT, sekolah, dan dukungan pemerintah kota, pihaknya optimistis Medono bisa jadi contoh kelurahan bebas sampah di Pekalongan. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla