Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Jejak Kolonial Belanda Hingga Jepang Tersembunyi di SMPN 13 Kota Pekalongan, Faktanya Bikin Merinding

Lutfi Hanafi • Selasa, 17 Juni 2025 | 21:18 WIB

KANTIN SEKOLAH – Salah satu ruangan yang masih orisinil dari bangunan jaman kolonial, kini jadi kantin untuk siswa SMPN 13 Kota Pekalongan.
KANTIN SEKOLAH – Salah satu ruangan yang masih orisinil dari bangunan jaman kolonial, kini jadi kantin untuk siswa SMPN 13 Kota Pekalongan.

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di balik pagar hijau dan gerbang megah yang berdiri di Jalan Jenderal Sudirman nomor 26 Kota Pekalongan, terdapat sebuah bangunan yang menyimpan kisah panjang sejarah pendidikan di Kota Pekalongan. Seperti apa?

SMP Negeri 13 tak hanya menjadi salah satu sekolah unggulan di Kota Batik. Ternyata memiliki akar yang membentang jauh ke masa kolonial.

Sekolah ini didirikan pertama kali pada tahun 1928. Lahir dengan nama Holland Ambachtsschool. Yakni, sebuah sekolah teknik pertukangan yang diprakarsai oleh Pemerintah Kolonial Belanda.

Baca Juga: Sebelum Lulus, Siswa SMPN 15 Kota Pekalongan Dibekali Informasi Lengkap Soal Sekolah Lanjutan

Lokasinya semula berada di Jalan Karimun (kini Jalan Salak), di sebuah gedung ikonik yang dijuluki “Gajah” karena dihiasi patung-patung hewan besar.

Gagasan awalnya muncul dari Residen Pekalongan kala itu, Johan Ernest Jasper yang memiliki pandangan progresif tentang pendidikan berbasis keterampilan.

“Inisiasi pendirian sekolah ini berasal dari catatan Jasper. Ia meyakini bahwa pendidikan yang cocok bagi masyarakat Pekalongan adalah yang menyatu dengan aktivitas sehari-hari seperti berkebun, olahraga, hingga bermain,” kata Kepala SMPN  13, Yeti Eka Erawati, saat ditemui Senin 16 Juni 2025.

Baca Juga: Anggaran Jumbo, Solusi Minim, DLH Pekalongan Dikritik Tak Siap Atasi Krisis Sampah

Pandangan ini tercatat dalam buku Rasa Swarga Gapuraning Bumi karya sejarawan Bambang Adi Wahyu.

Pendidikan yang tidak kaku dan sarat praktik ini, menurut Jasper, akan lebih membumi bagi masyarakat lokal.

Dengan bertambahnya jumlah siswa, lokasi sekolah dipindahkan ke tempatnya yang sekarang.  Tak hanya menjadi institusi pendidikan, bangunan ini juga pernah digunakan sebagai markas tentara Jepang saat pendudukan.

Baca Juga: Lolos Nindya, Kini Kota Pekalongan Optimis Raih Kota Layak Anak Kategori Utama

Luas kompleks sekolah mencapai hampir 15 ribu meter persegi, menjadikannya salah satu sekolah dengan lahan terluas di pusat kota.

Pasca-kemerdekaan, sekolah ini berubah wujud menjadi Sekolah Teknik Negeri dengan jurusan perkapalan, listrik, dan bangunan.

Perjalanan panjang itu berujung pada transformasi besar pada tahun 1994, saat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Prof. Wardiman Djojonegoro menetapkan pengalihan fungsi menjadi SMP Negeri 13.

Baca Juga: Proyek Ekowisata dari Kemitraan Indonesia Disemprot Pemkot Pekalongan, Kenapa?

Tak lama kemudian, seluruh aktivitas pendidikan resmi dipusatkan di gedung saat ini. Uniknya, gedung bagian depan masih mempertahankan struktur asli sejak masa kolonial.

Ciri khas bangunan Belanda seperti atap tinggi dan ventilasi besar masih tampak jelas.  Pada tahun 2023, bangunan ini pun ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya oleh pemerintah.

Meski sarat sejarah, SMPN 13 tidak hanya berdiam dalam romantisme masa lalu. Di bawah kepemimpinan Yeti Eka Erawati, sekolah ini menunjukkan geliat kemajuan signifikan.

Baca Juga: Sanitasi Buruk Bisa Picu Penyakit, PKK Kota Pekalongan Ungkap Fakta Mengejutkan

Tersedia 18 ruang kelas aktif dan berbagai fasilitas modern yang mendukung proses belajar mengajar.

“Sejarah panjang ini menjadi energi kami untuk terus bergerak maju. Kami ingin membangun pendidikan yang adaptif terhadap tantangan zaman, tanpa meninggalkan jati diri,” ujar Yeti dengan semangat.

Berbagai prestasi diraih siswa dalam bidang akademik maupun non-akademik. Selain itu, lingkungan sekolah yang rapi dan hijau menjadikannya sebagai titik pantau dalam penilaian Adipura.

Baca Juga: Masih Ada Anak Belum Sekolah, Bunda PAUD Genjot Program Wajib Belajar 13 Tahun

Sekolah ini bukan hanya ramah bagi siswa, tapi juga bagi lingkungan. Pepohonan besar, taman bunga, tanaman obat, hingga kebun sayur menambah asri suasana, menciptakan harmoni antara sejarah, pendidikan, dan alam.

SMPN 13 Pekalongan adalah bukti nyata bahwa warisan kolonial bisa tumbuh menjadi pusat kemajuan yang membanggakan.

Dari sekolah pertukangan zaman Belanda, kini menjadi lembaga pendidikan modern yang terus berprestasi, tanpa melupakan akar sejarahnya.

Baca Juga: Atasi Masalah Sampah, Pemkot Pekalongan Gandeng Akademisi dan Mahasiswa

Di antara dinding tua dan ruang kelas yang ramai, sejarah terus hidup—menjadi saksi sekaligus semangat bagi generasi masa depan. (*/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#Kolonial Belanda #jepang #kota batik #berprestasi