METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Suasana Alun-Alun Kota Pekalongan yang berada di Jalan Nusantara, setiap hari Kamis dan Jumat selalu berbeda dari biasanya.
Pada dua hari itu, kawasan alun-alun menjelma menjadi pusat keramaian.
Lokasi bekas Pendopo Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan ini terbagi menjadi beberapa kios makanan yang ramai dan penuh antrean pembeli.
Pemicunya adalah para pekerja dari berbagai perusahaan atau pengusaha batik dibderikan seminggu sekali setiap Kamis atau Jumat. Istilahnya sistem gaji pocokan.
Tradisi pembayaran upah mingguan ini masih dipraktikkan oleh sejumlah perusahaan dan pabrik di Pekalongan, terutama di sektor garmen.
Bagi para pedagang makanan kaki lima, hari gajian ini menjadi waktu panen yang selalu dinanti.
“Kalau hari biasa, jumlah pembeli biasa saja. Tapi kalau Kamis atau Jumat itu luar biasa ramainya," kata Rahma, 24, penjual sate taican yang sudah lima bulan mangkal di sisi selatan alun-alun.
Biasanya ramha bisa menjual sampai 150 tusuk. Tapi kalau pas minggu pocokan, bisa lebih dari 300 tusuk.
“Saya sampai tambah tenaga bantu, tiap Kamis sore," katanya sambil melayani pelanggan yang sudah mengantre pada Sabtu 5 Juli 2025.
Tak jauh dari lapak Rahma, kios pecel lele milik Pak Iwan, 30, juga ramai dikerubungi pembeli.
Dia mengaku sudah hafal ritme keramaian Alun-Alun Kota Pekalongan ini.
"Tiap jam lima sore mulai ramai. Paling padat habis Maghrib. Kalau cuaca mendukung, bisa sampai tengah malam," jelasnya.
Keramaian ini tak hanya dirasakan para pedagang. Bagi warga sendiri, hari Kamis-Jumat juga jadi momen untuk menikmati hasil jerih payah seminggu penuh.
Dinda, 29, seorang pekerja pabrik tekstil, menyebut momen gaji pocokan sebagai waktu untuk “melepas penat”.
"Biasanya habis gajian, saya ke alun-alun sama anak dan suami. Beli jajanan, makan bareng. Sekalian hiburan juga, kan belum tentu sempat jalan tiap hari," ujarnya sambil menunggu makananya datang.
Ia mengaku lebih suka suasana di alun-alun dibanding pusat perbelanjaan.
"Harga di sini lebih ramah di kantong. Mulai dari Rp 5.000-an sudah bisa kenyang. Anak-anak juga senang karena bisa lari-lari, lihat lampu-lampu malam," katanya sambil tersenyum.
Fenomena ini, secara tidak langsung menunjukkan bahwa sistem gaji pocokan masih punya pengaruh besar terhadap perputaran ekonomi mikro di Pekalongan.
UMKM dan pedagang kecil, terutama di kawasan strategis seperti alun-alun, mendapatkan berkah tersendiri dari tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun itu.
Meski begitu, sebagian pedagang berharap ada penataan lebih baik dari Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan.
"Kalau bisa dikasih tempat yang lebih tertib. Biar pembeli juga lebih nyaman. Sekarang kadang rebutan tempat, belum soal sampah yang numpuk," kata Iwan.
Alun-Alun Pekalongan tak hanya menjadi tempat bersantai, tapi juga pusat perputaran rezeki rakyat kecil.
Tiap Kamis dan Jumat, tradisi gaji pocokan menghidupkan kios-kios makanan, mengalirkan untung bagi pedagang, dan memberi ruang bagi warga untuk menikmati hasil kerja keras mereka. (yanuarilhampangestu/ida)
Editor : Ida Nor Layla