METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan tampaknya tak mau setengah-setengah dalam menyelesaikan masalah sampah.
Berbagai strategi inovatif diterapkan untuk mengejar target bebas timbunan sampah organik sebelum November 2025.
Kini menyediakan teknologi insinerator tanpa asap, hingga pengolahan sampah rumah tangga dengan metode eco enzyme secara bersamaan.
Baca Juga: Hari Pertama Sekolah, Polres Pemalang Langsung Tancap Gas Lakukan Razia Besar-Besaran
Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid menegaskan, komitmen ini bukan sekadar janji, melainkan aksi nyata. Seperti mendatangkan langsung mesin Insinerator dari Bandung.
“Mesin ini mampu membakar sampah tuntas tanpa asap,” terangnya saat meninjau TPS3R, Selasa 15 Juli 2025.
Tapi menurut Aaf - panggilan akrab wali kota- Pemkot tidak bisa bergerak sendiri. Perlu kerja sama dengan masyarakat.
Baca Juga: Warga Kota Pekalongan Siap Siap, Tim Gabungan Lakukan Razia Lalulintas
Meski mesin canggih telah tersedia, edukasi tetap jadi kunci. Terbukti, masih banyak warga yang membuang sampah sembarangan, bahkan sempat terekam kamera CCTV dan viral.
Hal ini membuat Pemkot semakin serius menggaet komunitas lingkungan, relawan, hingga influencer lokal untuk sosialisasi masif, terutama lewat media sosial.
Dengan pendekatan dua arah, yaitu teknologi insinerator untuk TPS dan eco enzym untuk rumah tangga.
Baca Juga: RAPBD Kota Pekalongan 2025 Diketok, DPRD Beri PR Sampah, Pajak, dan MBG
“Kalau masyarakat belum tergerak, mungkin edukasi kami yang kurang. Maka kami menggandeng semua pihak untuk kampanye, dari TPS hingga media digital,” tambah wali kota.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan, Sri Budi Santoso, terkait alat, satu unit mesin mampu membakar 500 kg hingga 1 ton per jam, tanpa mencemari udara. Tahun ini, enam unit insinerator telah disebar di TPS Pringrejo, Krapyak, dan beberapa titik padat sampah lainnya.
Baca Juga: Rektor IWIMA Pekalongan, Dr. Paminto Agung Christianto, dari Merayap hingga Memimpin
Menariknya, sisa pembakaran tidak dibuang begitu saja. Abu hasil insinerasi dikumpulkan dan dimanfaatkan untuk membuat paving block dan batako.
“Kami pastikan semuanya zero waste. Bahkan paving block-nya lebih kuat jika dicampur pasir gunung,” ujar Nurjanah, operator lapangan.
Bagi skala rumah tangga, Pemkot mendorong warga mengolah sampah organik menggunakan eco enzym.
Program edukasi ini digerakkan oleh para pegiat lingkungan dan komunitas peduli sampah.
Riski, narator program ini, menjelaskan, eco enzym sangat ampuh mengatasi bau busuk dari sisa makanan dan buah.
“Cukup campur 70 persen sampah buah, 1 kg gula merah, dan 5 liter air. Simpah dalam wadah tertutup selama sebulan. Hasilnya cairan berwarna coklat yang bisa digunakan untuk mengurangi bau, pupuk cair, bahan pembersih alami,” jelas Riski antusias.
Bagi yang ingin isi ulang, cukup menambahkan air dan gula ke larutan sisa. Prosesnya mudah, murah, dan ramah lingkungan.
Langkah ini mendapat apresiasi dari banyak pihak dan diharapkan jadi percontohan di kota lain.
Kini, tinggal menunggu apakah masyarakat Pekalongan siap bergerak bersama, dari dapur hingga TPS, demi kota yang bersih, sehat, dan bebas sampah. (han/fajrulfalahadiyanto/ida)
Editor : Ida Nor Layla