METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Di ujung pemukiman yang dulunya langganan banjir rob, Perumahan Kopri Kelurahan Kandang Panjang kini terbentang rawa kecil yang berubah wajah.
Dahulu tempat ini tak lebih dari genangan air sisa banjir yang dibiarkan begitu saja, dipenuhi semak dan lumpur.
Tapi siapa sangka, kawasan yang dulunya rawan dan terkesan kumuh itu, kini menjelma menjadi ruang wisata air yang menarik.
Baca Juga: BI Tegal Ajak Pengelola Desa Wisata Belajar dari Yogyakarta
Diperindah dengan kano-kano warna-warni berjejer rapi, siap membawa pengunjung menyusuri tenangnya air sambil menikmati semilir angin sore.
Thyas Agung, warga lokal Pekalongan yang punya ide menyulap rawa bekas banjir rob ini menjadi destinasi wisata sederhana, namun memikat.
Usaha penyewaan kapal kano yang ia mulai sejak 1 Mei 2025 itu, kini menjadi salah satu destinasi wisata baru yang ramai dikunjungi warga.
Baca Juga: Mobil Terbakar di Jalur Menanjak Arah Objek Wisata Linggoasri Kabupaten Pekalongan
Awalnya ia hanya memiliki dua unit kano. Namun berkat kreativitas dan konsistensinya dalam promosi, kini koleksinya bertambah menjadi enam kano aktif.
Dengan tarif Rp 20.000 per jam, pengunjung bisa menikmati sensasi mendayung di tengah kawasan rawa yang kini bersih dan tertata.
Setiap pengunjung dilengkapi pelampung demi keamanan. Tak hanya keluarga dan anak-anak yang datang, tetapi juga pasangan muda hingga wisatawan luar kota.
Baca Juga: Balgis Diab Nyatakan Beach Run Tak Sekadar Sehat, Tapi Juga Dongkrak Potensi Wisata Pekalongan
“Dulu, kebanyakan orang melihat tempat ini, cuma geleng-geleng kepala. Tapi sekarang, mereka selfie di sini,” kata Thyas sambil tersenyum.
Untuk promosi, Thyas mengandalkan kekuatan media sosial seperti TikTok dan Instagram, yang ia kelola sendiri.
Potongan video dengan latar sunset, angin sore, dan kano yang melaju pelan, menjadi daya tarik tersendiri di jagat maya.
Baca Juga: Komunitas Jeep BJC yang Siaga Bencana dan Getol Promosi Wisata Batang
Selain itu, ia juga menyebarkan brosur ke warung-warung, dan titik keramaian lainnya, agar jangkauan promosinya lebih luas.
Menariknya, pengunjung tidak hanya datang dari Kota Pekalongan. Kini, wisatawan dari Comal, Pemalang, Brebes, Semarang, hingga Lampung mulai berdatangan, setelah terpesona dengan konten wisata kano yang viral di media sosial.
Mereka penasaran dengan pengalaman sederhana, tapi menenangkan. Naik kano mengelilingi rawa di tengah suasana kampung yang ramah.
Baca Juga: Sebelas Warung di Pantai Wonokerto Terbakar, Begini Kata Pihak Pengelola Objek Wisata
Momen paling dicari tentu saja saat matahari mulai terbenam. Banyak yang sengaja datang sore hari, demi menikmati sunset dari atas kano.
Tepatnya, saat langit berubah jingga dan pantulan cahaya menyentuh permukaan air.
Suasana tenang, suara dayung yang berpadu dengan air, serta semilir angin, menjadikan momen "healing" yang tak perlu mahal.
Meski usahanya berkembang, Thyas masih punya mimpi yang belum tercapai. Ia ingin membangun pasar apung seperti di Thailand.
Dengan perahu-perahu kecil digunakan untuk menjual makanan dan produk UMKM warga sekitar.
Harapannya, kawasan ini tak hanya menjadi tempat wisata, tapi juga pusat ekonomi kreatif berbasis warga lokal. Sayangnya, mimpi itu masih terkendala modal usaha dan infrastruktur.
Baca Juga: Destinasi Wisata Religi Makam Sunan Kajoran di Kabupaten Batang, Bupati Tertarik untuk Dikembangkan
“Saya ingin kawasan ini bisa hidup bareng-bareng, bukan saya sendiri. Tapi memang butuh bantuan untuk membangun fasilitas dan perahu dagang,” ungkapnya.
Kini, tempat yang dulu hanya dikenal sebagai sisa rob, telah menjelma menjadi titik baru yang menumbuhkan harapan.
Deretan kano warna-warni itu bukan sekadar alat untuk menyusuri air, tapi simbol bahwa tempat terpinggirkan sekalipun bisa berubah, jika ada niat, usaha, dan keberanian untuk menggali potensinya. (fajrul falahadiyanto/ida)
Editor : Ida Nor Layla