METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Di tengah derasnya arus digitalisasi, sekelompok anak-anak di Kota Pekalongan menunjukkan bahwa dunia nyata masih punya pesona.
Hal itu dibuktikan dalam gelaran Festival Anak 2025 yang digelar di Gedung Perpustakaan Daerah Kota Pekalongan, Rabu 30 Juli 2025.
Dalam kesempatan tersebut, suasana riang dan penuh kreativitas terpancar dari ratusan anak yang antusias bermain dan berkreasi.
Wakil Wali Kota Pekalongan Hj Balgis Diab tak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Ia menyebutkan festival ini bukan sekadar hiburan, tapi juga solusi konkret untuk mengalihkan ketergantungan anak terhadap gadget.
"Menurut saya ini sangat menarik. Yoyo itu tidak sembarangan. Permainan tradisional seperti ini bisa membuat anak-anak lupa gadget," ujar Balgis.
Dalam sambutannya, Balgis juga menekankan pentingnya pemenuhan hak-hak anak, mulai dari identitas hingga layanan kesehatan.
“Anak-anak Pekalongan harus punya kartu identitas anak. Dan untuk kesehatan, kita sudah punya Posyandu untuk balita dan layanan kesehatan gratis bagi remaja di puskesmas,” paparnya.
Puncak Hari Anak Nasional ke-41 ini juga menjadi bukti nyata bahwa Kota Pekalongan serius membangun ekosistem kota yang layak anak. Dari anak, oleh anak, dan untuk anak—itulah semangat yang ditanamkan.
Dengan antusiasme dan partisipasi aktif anak-anak, ditambah dukungan penuh dari Pemkot Pekalongan dan para pendamping, Festival Anak Pekalongan 2025 bukan hanya perayaan.
Tetapi juga langkah menuju masa depan yang lebih cerah dan sehat bagi generasi muda.
Tak hanya bermain, anak-anak juga diajak untuk berkreasi.
Kepala DPMPPA Kota Pekalongan, Puji Winarni, menjelaskan, festival ini menghadirkan lima zona kegiatan, mulai dari kelas pengasuhan ibu dan anak, festival menulis surat untuk wali kota, hingga lomba mendaur ulang sampah menjadi hiasan rumah.
“Tujuan kami adalah membudayakan kembali permainan tradisional dan kreativitas lokal, sekaligus mengurangi waktu screen time anak. Anak-anak butuh ruang bergerak, berekspresi, dan didengar suaranya,” jelas Puji. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla