METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Musim kemarau ternyata memicu kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) menyerang warga, terutama anak-anak.
Mulai Januari hingga Juli 2025, jumlah kasus DBD meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekalongan, tercatat 130 kasus DBD.
Bahkan lebih dari 300 kasus Demam Dengue (DD) dalam semester pertama 2025. Lebih tinggi di banding tahun 2024 lalu yang hanya tercatat 73 kasus DBD.
Artinya, tahun ini jumlahnya hampir dua kali lipat lebih banyak, dan yang paling terdampak adalah anak usia 5–11 tahun.
Menurut Epidemiolog Dinkes Kota Pekalongan, Opik Taufik, lonjakan ini disebabkan kombinasi antara saluran air yang tergenang dan kondisi kemarau yang menciptakan tempat ideal bagi nyamuk aedes aegypti berkembang biak.
"Kami sudah melakukan 90 kali fogging di sejumlah titik rawan, di antaranya Setono, Kauman, Klego, Jenggot, Bendan Kergon, Krapyak, hingga Panjang Wetan," jelasnya, pada Kamis 31 Juli 2025.
Tak hanya mengandalkan pengasapan, Dinkes juga mengimbau warga untuk kembali menggiatkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan menanam sirih.
Tanaman ini dipercaya bisa menjadi pengharum alami ruangan yang juga ampuh mengusir nyamuk. Langkah-langkah ini bukan hanya penanganan, tapi juga pencegahan jangka panjang agar lonjakan kasus tidak terus berulang.
Kota Pekalongan kini berada di fase kritis. Meningkatnya kasus DBD menjadi sinyal bahwa kesadaran bersama harus ditingkatkan. Fogging hanyalah bagian awal.
Terpenting adalah mengubah pola hidup, menguras tempat penampungan air, menutup genangan, dan mendaur ulang barang bekas.
Dinkes berharap, masyarakat tak hanya bertindak reaktif, tetapi juga proaktif menjaga lingkungannya.
Sebab, DBD bukan hanya urusan nyamuk, tapi soal kebersamaan melawan ancaman yang tak kasat mata.
Salah satu kasus yang sempat membuat geger adalah ketika dua warga RT 05, RW 10 Kelurahan Panjang Wetan dinyatakan positif DBD.
Respons cepat dilakukan. Tim fogging gabungan dari Dinkes, kader kesehatan, hingga ketua RT langsung menyisir gang-gang padat penduduk dan area tergenang air di lingkungan itu.
Sri Susana, 47, salah satu warga, menceritakan bagaimana anaknya sempat mengalami demam tinggi selama lima hari.
“Hari ketiga baru dinyatakan positif DBD. Alhamdulillah, dari pihak kelurahan langsung turun. Fogging ini sangat kami butuhkan,” katanya penuh syukur.
Ketua RT setempat, Septian Eko, 37, juga menyambut baik upaya cepat dari pemerintah.
“Setelah fogging, suasana jadi lebih nyaman. Warga juga jadi lebih sadar pentingnya kebersihan lingkungan,” ucapnya.
Sebelumnya memang sempat ada kekhawatiran soal DBD karena ada beberapa warga yang mengalami gejala demam.
Tapi setelah fogging, belum ada laporan baru yang mencurigakan. Selain itu, warga juga lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.
Tidak membiarkan air tergenang dan rutin membersihkan tempat penampungan air.
"Jadi bisa dibilang, fogging ini cukup efektif dan menjadi langkah awal yang baik untuk pencegahan penyakit," serunya. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla