METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan - Keterbatasan ekonomi bukanlah akhir dari segalanya.
Hal itu dibuktikan oleh Gandi Dwi Bachtiar, yang lahir dari ibunya berjualan sarapan pagi di depan rumah, sementara ayahnya bekerja serabutan dengan penghasilan yang tak menentu.
Gandi Dwi Bachtiar merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Dirinya lahir dan besar dalam keluarga yang sangat sederhana. Meski hidup dalam keterbatasan, Gandi tidak pernah menyerah pada nasib.
“Sejak kecil, saya sudah paham bahwa hidup kami sederhana. Tapi saya percaya, dengan kerja keras dan niat yang kuat, saya bisa membawa perubahan,” katanya.
Memasuki masa kuliah di Universitas Pekalongan (Unikal) jurusan Hukum, Gandi sadar bahwa ia tidak boleh menjadi beban orang tua.
Ia memulai perjalanan baru dengan bekerja ikut usaha sablon milik orang lain. Belajar dari nol tanpa malu untuk memulai dari hal terkecil.
Dari mulai mengangkat alat, membersihkan ruangan, hingga akhirnya belajar teknik sablon dan desain. Semua ia tekuni satu per satu dengan penuh kesungguhan.
“Banyak yang bilang, sablon itu pekerjaan kasar. Tapi bagi saya, di situlah saya belajar disiplin, kesabaran, dan bagaimana menjalani hidup dengan mandiri,” ujar Gandi penuh semangat.
Dengan modal ilmu yang diperoleh, Gandi akhirnya membuka usaha sendiri yang ia beri nama “Cetak Chaos”.
Bahkan bukan sekadar usaha sablon, tapi juga simbol dari kegigihan dan semangatnya yang tak pernah padam. Usahanya melayani sablon custom tanpa minimal order.
“Ini sekaligus memberikan ruang bagi siapa saja untuk mengekspresikan diri lewat kaos,” katanya.
Di samping itu, Gandi juga merintis brand desain grafis “Moronstroke”, sebagai manifestasi kreativitasnya yang bebas dan berani.
Berkat usahanya, ia mampu membantu membiayai kuliah sekaligus meringankan beban orang tua, hingga akhirnya lulus tepat waktu.
“Kuliah itu penting. Tapi bagaimana caranya kita bisa bertahan dan terus maju di tengah keterbatasan itu yang paling utama. Saya ingin jadi bukti, bahwa asal ada kemauan, semua bisa dicapa,” tuturnya penuh tekad.
Kini, Cetak Chaos bukan sekadar usaha kecil, tapi sumber inspirasi bagi banyak anak muda Pekalongan yang ingin berjuang mandiri.
Dari workshop yang jauh dari kemewahan, Gandi membuktikan bahwa mimpi besar bisa diraih dari langkah kecil penuh kesungguhan.
“Kunci saya adalah jangan takut mulai, jangan takut gagal. Karena dari kegagalan itu saya belajar, dan dari belajar itu saya tumbuh,” tutupnya dengan senyum penuh harapan. (yanuarilhampangestu/ida)
Editor : Ida Nor Layla