METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Terik matahari tak menyurutkan semangat ratusan personel yang berdiri tegak di Lapangan Mataram, Kompleks Pemkot Pekalongan, Senin pagi 11 Agustus 2025.
Dari TNI, Polri, Satpol PP, BPBD, Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, hingga relawan, semuanya hadir dalam Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanganan Bencana.
Meski sedang memasuki musim kemarau, Kota Pekalongan memilih tetap siaga penuh. Pasalnya, cuaca belakangan sulit ditebak.
Beberapa hari terakhir, hujan deras kerap turun di malam hari. Bahkan setelah siangnya terik membakar.
Kondisi ini membuat ancaman bencana hidrometeorologi, seperti banjir mendadak atau genangan, tetap nyata.
Komandan Kodim 0710 Pekalongan Letkol Arm Ihalauw Garry Herlambang menegaskan, kesiapan bencana harus total. Dua bulan terakhir panas, tapi tiga hari ini malah hujan lebat.
Baca Juga: Tingkatkan Kesiapsiagaan, BPBD Kota Pekalongan Latih Pelajar MAN 1 Hadapi Bencana
“Ini bukti cuaca tidak bisa diprediksi. Semua pihak harus saling melengkapi dan jangan sampai ada titik rawan yang terabaikan,” ujarnya.
Menurutnya, penanganan bencana adalah kerja bersama. TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, hingga relawan, harus membangun koordinasi yang solid.
Peralatan pun harus siap sedia, mulai dari kendaraan operasional, perahu karet, hingga alat komunikasi lapangan.
Baca Juga: Green Park Seruni Jadi Panggung Warna Lilin Aspirasi Warga, Balgis Salut
Sementara itu, Wali Kota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid yang akrab disapa Mas Aaf, hadir memantau langsung kesiapan pasukan.
Ia berjalan dari satu barisan ke barisan lain, memeriksa peralatan yang dibawa setiap instansi.
Dalam dialog singkat dengan petugas BPBD, terungkap masih ada perlengkapan yang perlu diperbarui.
Baca Juga: Kota Pekalongan Pertahankan KLA Nindya 2025, Wali Kota Targetkan Utama
“Perahu karet kita ada yang sudah tua, beberapa alat evakuasi juga perlu ditambah. Kalau peralatan tidak optimal, penanganan bencana bisa terhambat,” kata salah satu petugas BPBD saat berdiskusi dengan Mas Aaf.
Mas Aaf menegaskan, pemerintah akan berupaya memenuhi kebutuhan tersebut sesuai prioritas dan anggaran.
Namun juga diingatkan, jangan hanya mengandalkan alat. Petugas di lapangan harus rutin latihan fisik dan medical check-up.
Baca Juga: Mahasiswa UMKABA Ajak Warga Rejosari Barat Hidup Ramah Lingkungan
“Saat bencana datang, stamina dan kesehatan itu kunci utama,” tegasnya.
Ia mengingatkan, pekerjaan penanganan bencana sering menuntut tenaga ekstra. Menembus banjir, mengangkat korban, atau memindahkan logistik di tengah medan sulit membutuhkan fisik yang benar-benar prima.
“Selain kesiapan alat, mental dan fisik petugas harus terus ditempa,” serunya.
Baca Juga: BPBD Kota Pekalongan Kini Bisa Mengawasi Lokasi Rawan Bencana dengan CCTV
Fenomena cuaca tak menentu ini menjadi perhatian serius. Perubahan dari panas terik di siang hari menjadi hujan deras di malam hari dapat memicu banjir, pohon tumbang, bahkan tanah longsor di daerah rawan.
“Kalau kita tidak waspada, situasi bisa berubah dalam hitungan jam,” tandas Mas Aaf. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla