Berita Kota Pekalongan Kab. Pekalongan Kab. Batang Ekonomi Bisnis Haji Hiburan Hukum dan Kriminal Kesehatan Kuliner Olahraga Opini Pemerintahan Politik Pendidikan Sosial dan Budaya Teknologi Wisata

Pemkot Pekalongan Siap Terima Balik Jarahan Demo, Identitas Dijamin Aman

Lutfi Hanafi • Selasa, 2 September 2025 | 05:50 WIB
RUSAK PARAH - Penampakan Gedung Sekretariat Pemkot Pekalongan dan ruang kerja Walikota Pekalongan yang terbakar habis, pada Senin 91/9/2025).
RUSAK PARAH - Penampakan Gedung Sekretariat Pemkot Pekalongan dan ruang kerja Walikota Pekalongan yang terbakar habis, pada Senin 91/9/2025).

METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan – Aroma sisa asap kebakaran masih terasa di kompleks pemerintahan Kota Pekalongan.

Gedung-gedung yang dulunya berdiri megah kini tinggal puing.

Setelah aksi demo anarkis pada Sabtu lalu 30 Agustus 2025 berubah menjadi amukan massa yang membakar fasilitas vital, termasuk Kantor Walikota, Sekretariat Daerah, hingga Gedung DPRD.

Di balik kerusakan yang ditaksir mencapai Rp 100 miliar lebih, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan kini berupaya menata kembali.

Wali Kota HA Afzan Arslan Djunaid menegaskan Pemkot tidak hanya fokus menghitung kerugian fisik, tetapi juga membuka jalan damai bagi warga yang terlanjur membawa pulang barang hasil jarahan.

“Kalau ada yang sadar dan ingin mengembalikan, silakan. Kami pastikan identitasnya akan dirahasiakan, tidak akan diproses hukum,” tegas Walikota Aaf, pada Senin 1 September 2025.

Sejumlah laporan dari masyarakat sudah masuk. Beberapa orang tua mengaku resah karena anaknya ikut menjarah, sementara sebagian warga juga mulai menghubungi aparat untuk mengembalikan barang.

Pemerintah memastikan pendekatan yang digunakan adalah persuasif, bukan represif.

“Beberapa RT/RW sudah mengidentifikasi warganya yang membawa barang-barang saat kejadian. Tim kami siap menjemput, tapi dengan cara baik-baik. Yang penting barang kembali, masyarakat tenang,” jelas wali kota yang akrab disapa Mas Aaf.

Untuk mempermudah, Pemkot tengah menyiapkan posko pengembalian barang di kantor BPKAD atau titik lain yang lebih representatif.

Hingga kini, pendataan kerugian masih berlangsung. Laporan dari setiap dinas dan bagian yang terdampak masuk setiap hari.

Dari perkiraan awal, angka kerugian mencapai Rp100 miliar—termasuk bangunan, dokumen, peralatan kantor, hingga aset berharga lainnya. 

“Kami masih menghitung detailnya. Angka Rp100 miliar itu bisa kurang, bisa juga lebih,” ujarnya.

Kondisi ini membuat Pemkot menetapkan status tanggap darurat.

Pasalnya, pelayanan publik harus segera pulih meski kantor utama rata dengan tanah.

Beberapa bagian sekretariat, seperti Bagian Kesra, Tapem, PBJ, dan Umum, sudah dialihkan sementara ke gedung yang masih tersisa.

Wali Kota Aaf mengakui, membangun kembali kompleks pemerintahan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

APBD Kota Pekalongan disebut terlalu terbatas, terlebih banyak program tahun sebelumnya yang sudah terefocusing.

“Anggarannya jelas tidak kecil. Kami akan menunggu arahan dan bantuan dari pemerintah pusat. Sementara, pelayanan tetap harus jalan meski dengan fasilitas seadanya,” ungkapnya.

Di tengah puing-puing bangunan, semangat optimisme tetap dijaga.

Bagi Pemkot, tantangan terbesar bukan hanya membangun fisik, tetapi juga memulihkan kepercayaan masyarakat.

“Yang penting sekarang kita jangan patah semangat. Pelayanan untuk masyarakat tidak boleh berhenti, meski kami harus pindah ke ruang-ruang kosong sementara,” pungkas Aaf.

Dengan pendekatan persuasif, Pemkot berharap warga yang sempat menjarah berani mengembalikan barang tanpa rasa takut.

Pemulihan pasca-anarkisme ini tidak hanya soal bangunan yang roboh, tetapi juga tentang membangun kembali kepercayaan, persatuan, dan rasa memiliki terhadap Kota Pekalongan.(han/ida)

Editor : Ida Nor Layla
#demo #kantor walikota #anarkis #Walikota Pekalongan HA Afzan Arslan Djunaid