METROPEKALONGAN.COM, Pekalongan — Kesabaran warga Kelurahan Pabean, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan, ada batasnya.
Jumat siang 19 September 2025, mereka berbondong-bondong mendatangi kantor Perumda Tirtayasa (PDAM) Kota Pekalongan di Jalan Pembangunan.
Mereka menuntut jawaban atas layanan air yang sudah sebulan terakhir macet total.
Perwakilan tujuh warga diterima langsung oleh tim teknis bagian distribusi PDAM di ruang pertemuan belakang kantor.
Seorang warga yang enggan disebut namanya mengungkapkan, hampir setahun ini aliran air di kampungnya sering bermasalah.
"Kalaupun keluar, biasanya hanya malam hari. Padahal kebutuhan utama kami justru di siang hari," keluhnya.
Keluhan lain yang muncul bukan hanya soal macetnya aliran air.
Warga juga mengadukan kualitas air yang kadang asin, keruh, hingga kotor.
Tak sedikit yang meminta PDAM segera mengganti pipa agar distribusi lebih lancar dan layak konsumsi.
Menanggapi keresahan itu, Purnomo dari Bagian Distribusi PDAM Tirtayasa menyampaikan pihaknya akan turun langsung mengecek kondisi lapangan.
Menurutnya, air memang masih mengalir, namun tekanan melemah terutama pada jam-jam sibuk.
“Kalau malam, air bisa keluar. Tapi siang hari tekanannya lemah bahkan macet,” jelasnya.
Antisipasi hal itu, PDAM berencana menyalurkan air lewat tandon sementara yang dipasang di titik tertentu di wilayah Pabean.
Lokasi tandon akan dikoordinasikan dengan ketua RT setempat agar bisa membantu kebutuhan rumah tangga warga.
Selain itu, PDAM juga akan melakukan pemeriksaan pipa dan modifikasi saluran.
Purnomo menduga pembangunan besar-besaran di sekitar wilayah tersebut membuat aliran pipa terganggu dan tekanan air berkurang.
Ia menegaskan, warga Pekalongan yang mengalami kendala serupa bisa segera melapor melalui layanan pengaduan resmi PDAM atau datang langsung ke kantor.
“Kami siap mencarikan solusi terbaik agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi,” ujarnya.
Kini, warga Pabean hanya bisa berharap solusi tandon sementara benar-benar menjadi penolong, sambil menunggu perbaikan permanen agar mereka bisa kembali menikmati air bersih setiap hari. (han/ida)
Editor : Ida Nor Layla